Perang Melawan Diri Sendiri

In Sosial Budaya

Perang Melawan Diri Sendiri

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, kenapa nggak buat ulasan tentang 9/11?” tanya seorang pembaca setia.

Saya kasih jawabannya. Pertama, berkaitan dengan moment tersebut, saya sedang cuti. Jadi nggak sempat nulis apapun tentang peristiwa tersebut. Yang kedua, saya sudah menulis tentang 9/11 pada setidaknya 2 tulisan seri. (baca disini, dan disini)

Namun, demi memuaskan rasa penasaran anda, saya coba tulis analisa tentang 9/11 dengan perspektif yang berbeda. Ada nggak sih kaitan 9/11 dengan plandemi Kopit? Apa keduanya saling nggak berkait?

Kita tahu, bahwa 9/11 hanya akal-akalan AS yang jadi eksekutor sang Ndoro besar dalam menggelar kekacauan di Afghanistan dan TimTeng. Tujuannya 1, Oded Yinon’s Plan. (baca disini dan disini)

Untuk bisa mengacak-acak wilayah tersebut, harus punya alasan yang kuat. Dan alasan itu adalah perang melawan terorisme. Jadi, harus ada aksi teror yang digelar dulu, sehingga jadi pembenaran dalam menggelar GWOT.

Hancurnya gedung WTC yang menewaskan ribuan orang, adalah rencana sempurna sebagai pembuka jalan untuk memerangi ‘hantu’ terorisme tersebut.

“Terorisme mengancam kemanusiaan, jadi harus dimusnahkan apapun taruhannya,” demikian kurleb-nya. (https://www.bbc.com/news/world-53156096)

Coba anda bayangkan, jika seandainya serangan ‘teror’ jadi-jadian tersebut tidak terjadi, apa mungkin AS dan sekutunya mengobrak-abrik Afghanistan dan TimTeng dengan alasan memerangi terorisme?

Saya mau katakan, bahwa perang melawan teror sebenarnya nggak lebih sebagai perang yang sengaja dirancang untuk menebarkan ketakutan pada masyarakat global akan bahaya terorisme.

Dengan adanya musuh bersama yang bernama terorisme, maka semua harus terlibat dalam upaya memeranginya, karena doktrin-nya adalah kita mau diteror atau kita lawan bersama sang pembuat teror.

Tapi orang lupa, musuh bersama itu (terorisme), siapa juga yang menciptakan? (baca disini)

Dan sama dengan operasi psikologis terselubung lainnya (yang punya motif menebar rasa takut), yakinlah bahwa terorisme nggak akan mungkin hilang walaupun dana segede gaban telah digelontorkan untuk memeranginya. (https://www.defensenews.com/pentagon/2018/05/16/heres-how-much-the-us-has-spent-fighting-terrorism-since-911/)

Point-nya: selama ‘mereka’ masih membutuhkan ‘mainan’ tersebut, maka isu tersebut nggak bakalan hilang dari muka bumi alias akan terus ada selamanya.

Namun, belakangan banyak orang bertanya-tanya. Misalkan, kalo suatu negara nggak ada kepentingan dengan terorisme, ngapain juga ikut-ikutan latah memerangi terorisme? Lha wong teroris-nya nggak ada di negara tersebut?

Atau misalnya lagi, kalo suatu negara nggak punya potensi SDA yang ‘aduhay dan menggiurkan’ untuk dikeruk, apa bisa proyek perang melawan teror dilakukan?

Kalo anda kritis, hanya negara yang punya ‘potensi’ saja (baik SDA maupun geostrategis) yang kerap didera isu ‘terorisme’. Lucu juga. Terorisme kok pilih-pilih negara sasaran, ya?

Singkatnya, dengan memakai terus isu terorisme sebagai common enemy, jelas nggak relevan. Apalagi guna mewujudkan rencana sang Ndoro berikutnya.

Dengan situasi ini, maka kartel Ndoro besar kembali memikirkan, bagaimana caranya agar orang sedunia punya musuh bersama yang kelak akan mereka takuti, guna mewujudkan rencana barunya tersebut. (baca disini, disini dan disini)

Dan jawaban itu ada pada operasi psikologis yang diberi nama plandemi Kopit.

Benar saja, sesaat dirilis oleh WHO pada Maret 2020, langsung deh badan kesehatan dunia tersebut kasih seruan ke semua orang untuk ambil bagian dalam perang melawan Kopit. Padahal, gimana juga konsepnya, kok virus bisa diperangi? (https://www.youtube.com/watch?v=ubJaJPRdoMk)

Untuk amplifikasi, para boneka sang Ndoro yang bercokol di banyak negara mulai ambil bagian dalam membuat narasi ketakutan makin menjadi. “Ini adalah perang yang sesungguhnya,” demikian kurleb-nya. (https://www.dumptheguardian.com/australia-news/2021/aug/14/nsw-covid-update-case-numbers-entire-state-in-lockdown-as-premier-gladys-berejiklian-warns-this-is-literally-a-war)

Bahkan mantan Gubernur New York, Andrew Cuomo menyatakan, “Para nakes adalah para serdadu yang berjuang dengan gigih melawan Kopit.” (https://www.rev.com/blog/transcripts/governor-andrew-cuomo-new-york-covid-19-press-conference-transcript-march-30)

Narasi yang mau disampaikan adalah kita ada dalam situasi perang melawan musuh yang tak terlihat, dan si Kopit adalah musuh bersama yang tak kasat mata itu. Framing ini banyak anda temukan pada semua media mainstream sebagai corong propaganda penebar ketakutan. (https://theconversation.com/war-metaphors-used-for-covid-19-are-compelling-but-also-dangerous-135406)

Kalo anda jeli, maka anda akan temukan 3 hal pada plandemi ini

Pertama mereka menciptakan masalah di Wuhan. Dari situ muncullah virus baru yang bernama si Kopit yang memicu penyakit baru. Kedua, lakukan test yang dapat menemukan apa saja pada siapa saja. Dari sini akan tercipta status kematian yang disebabkan virus baru tersebut. Dan ketiga, lakukan test pada semua orang secara intensif, dan otomatis akan tercipta jutaan kasus tanpa gejala.

Kalo ketiganya digabungkan, maka terciptalah plandemi Kopit. Bravo!

Apakah masalah plandemi Kopit sama dengan 9/11?

Ya sama saja. Karena nyatanya, DLDL yang terlibat alia kartel Ndoro besar. Dalam plandemi ini, merekalah yang pegang kendali karena menguasai arena pertempuran yang sesungguhnya dengan memanipulasi pikiran anda.

“Kalo media mainstream sudah dalam genggaman, apa sulitnya ‘membuat’ narasi?”

Dibuatlah narasi kasusnya menurun atau meningkat sesuai kebutuhan, dengan mengatur jumlah test. Lalu datanglah narasi ‘pengobatan’ yang mampu menyembuhkan si Kopit. Eh nggak lama, muncul lagi narasi hadirnya varian baru, sehingga upaya ‘penyembuhan’ yang sudah dilakukan menjadi sia-sia. Semua kena prank!

Sekali lagi saya katakan, bahwa perang melawan teror dan perang melawan Kopit adalah operasi psikologis kembar.

Apa yang disasar?

Rasa takut pada diri anda sekalian. Rumusnya: makin takut anda pada si Kopit, maka makin jadilah plandemi ini. Dan disinilah rencana sang Ndoro besar menemukan ritme-nya.

Apakah plandemi Kopit adalah operasi psikologis terakhir?

Tentu saja tidak. Akan ada operasi psikologis selanjutnya yang akan mampu membuat rasa takut dalam diri anda, bangkit dari kuburnya. Kalo anda pembaca setia tulisan saya, maka anda akan tahu kemana operasi selanjutnya akan bergulir. (baca disini, disini dan disini)

Adakah upaya untuk menghentikannya?

Tentu saja ada. Manakala akal sehat anda tumbuh dan bisa mengalahkan narasi takut yang dikembangkan, disitulah operasi psikologis sang Ndoro besar akan mengalami keruntuhannya.

Jadi, ini bukan perang konyol melawan teror atau si Kopit, tapi perang melawan diri sendiri.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu