Koneksi Saudi

In Sosial Budaya

Koneksi Saudi

Oleh: Ndaru Anugerah

“Aksi terorisme di seluruh dunia, apa pemicunya Bang? Apa memang jaringan terorisme global tidak bisa diberantas?” tanya seorang di ujung sana dengan penuh antusias.

Sebenarnya saya pernah bahas tuntas tentang hal ini, kalo anda rajin mengikuti analisa yang saya keluarkan. (baca disini, disini dan disini)

Siapa yang dicap sebagai kelompok teror? Banyak tentunya, dari mulai Mujahidin, hingga ISIS. Pertanyaan selanjutnya, apakah anggota ISIS nggak butuh makan, minum dan tempat untuk berlindung? Apakah mereka membiayai aksi-aksi mereka dengan cara mandiri?

Apakah mereka mendapatkan senjata dan amunisi dengan cara pembiayaan mandiri? Yang paling penting, apakah mereka nggak butuh ‘tempat’ yang bisa menyuplai mereka dengan kombatan secara stabil dengan upaya mandiri? Jelas tidak mungkin.

Coba anda terangkan, dapatkah seorang kombatan ISIS di Filipina membiayai gerakan mereka secara mandiri? Lha wong makan aja sulit, boro-boro mikirin sumbangan buat organisasi sekelas ISIS. Apa iya senjata dan bom yang digunakan harganya murah meriah?

Dengan kata lain, ada negara yang menjadi sponsor aksi mereka. Dan celakanya, kalo anda anda bermodalkan data dari media mainstream, sampai lebaran monyet anda nggak akan tahu koneksinya. Biar nggak penasaran, saya coba ulas kembali untuk anda.

Jaringan ISIS (khususnya di Asia Tenggara) bisa terbentuk karena adanya lembaga-lembaga ‘sekolah’ yang menyuplai kombatan buat mereka. Di sekolah-sekolah tersebut, para peserta didik didoktrin untuk melakukan kekerasan dan terorisme atas nama ajaran agama.

Dan ada benang merahnya, yaitu lembaga-lembaga pendidikan tersebut didanai secara besar-besaran oleh Saudi. (https://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/saudi/analyses/madrassas.html)

Setidaknya Dr. Yousaf Butt selaku peneliti senior pada National Defense University AS menyatakan, “Saudi telah menggelontorkan dana besar guna menyebarkan Wahhabisme ke banyak negara Muslim yang miskin. Menurut estimasi ada sekitar USD 100 milyar dana diberikan selama 3 dekade.”

Dr. Butt menambahkan, “Angka ini terbilang boros, mengingat dana yang dikucurkan Soviet untuk menyebarkan komunisme ke seluruh dunia selama kurleb 70 tahun, hanya USD 7 milyar saja.” (http://www.huffingtonpost.com/dr-yousaf-butt-/saudi-wahhabism-islam-terrorism_b_6501916.html)

Menurut Dr. Butt, “Jadi ada korelasi erat antara pendanaan Saudi dengan terorisme dan kekerasan yang menyertainya. Akan sulit atau bisa dikatakan tidak mungkin mengatasi terorisme jika komunitas Muslim di seluruh dunia tidak memberantas Wahhabisme di tengah-tengah mereka.”

Ini yang ngomong peneliti senior di National Defense University AS lho ya, bukan saya. Jadi merupakan narsum yang kredibel alias bukan kaleng-kaleng.

Jadi jelas ada udang di balik bakwan atas donasi jumbo yang diberikan Saudi pada negara-negara Muslim yang notabene-nya misqueen. Alih-alih kasih sumbangan buat ‘sekolah’, eh tahunya jadi pabrik buat mencetak kombatan teroris.

Kenapa Saudi rela menggelontorkan dana jumbo?

Pertama demi menyebarkan aliran Wahhabi yang dianutnya. Kedua karena untuk melayani kepentingan AS di dunia. Dengan adanya aksi teror, maka akan membuka peluang AS dalam menawarkan opsi pangkalan militernya untuk hadir di negara tersebut.

Pada tataran teknis, bila ada negara yang coba-coba melawan ‘arahan’ Washington, maka kekuatan proxy Saudi akan digerakkan untuk buat serangkaian aksi teror di negara tersebut. Tujuannya satu: menggulingkan rezim yang berkuasa.

Sebagai balasannya, keamanan Saudi bakal dijamin sepenuhnya oleh AS. (https://www.cfr.org/backgrounder/us-saudi-arabia-relations)

Contoh di Filipina. Dengan adanya gerilyawan Muslim pimpinan Abu Sayyaf di pulau Mindanao, maka akan mampu memaksa seorang Duterte untuk memakai jasa AS dalam melawan gerakan teror tersebut. Dan ujung-ujungnya, pangkalan militer AS di Filipina harus tetap ada kalo mau kondisi di Filipina kondusif. (https://www.nytimes.com/2017/05/26/world/asia/indonesia-philippines-isis-jakarta-marawi.html)

Itulah sebabnya kenapa Duterte terus menerus diganggu pasukan teror, karena ada niatan keras Filipina untuk ‘menjauhi’ AS dan berpaling kepada China. (https://isdp.se/publication/xis-visit-to-the-philippines/)

Jadi jelas ya letak masalah terorisme ada dimana?

Terus kalo mau basmi terorisme gimana caranya? Stop pendanaan Saudi yang berkedok amal, pendidikan, dan lain-lain. Masalahnya apa pemerintahan tersebut mau dan mampu?

Alih-alih membasmi ‘terorisme’ yang ada pemerintahnya malah digulingkan karena mencoba mengusik proxy Saudi. Ya mendingan main aman, dengan pura-pura bego. “Biarin aja deh, ntar juga hilang sendiri.”

Inilah kenapa sebabnya gerakan melawan teror hanya sebatas jargon semata dan nggak akan pernah terwujud. Termasuk gerakan melawan radikalisme yang nggak pernah tuntas. Sebab akar masalahnya nggak pernah disentuh, yaitu aliran dananya.

Sekalinya pemerintahan suatu negara berani dan ‘mencolek’ organisasi teror binaan Saudi, maka proxy AS lainnya mulai dari politisi hingga LSM rame-rame teriak: terjadi pelanggaran HAM yang dilakukan negara terhadap warga sipil.

Cendol deh… Sejak kapan teroris yang nggak pernah berlaku manusiawi, jadi manusia?

Sekarang coba pikir, kalo aliran dana berhasil dihentikan, apa bisa para teroris hidup?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Apa Trump Lebih Berbahaya Dari Kopit?

Apakah Trump Lebih Berbahaya Dari Kopit? Oleh: Ndaru Anugerah Di AS sana, ada 2 topik panas yang saat ini kerap diperbincangkan.

Read More...

Rencana Besar Elite Global (*Bagian 2)

Rencana Besar Elite Global (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian 1 saya telah mengulas tentang Oded Yinon’s Plan (OYP) yang

Read More...

Kado Perpisahan Trump

Kado Perpisahan Trump Oleh: Ndaru Anugerah Apa yang telah dilakukan Trump buat Israel selama 4 tahun kepemimpinannya? Sangat banyak dan bukan kaleng-kaleng

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu