Kekosongan Kekuasaan? (*Bagian 1)

In Politik

Kekosongan Kekuasaan? (Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Bagaimana posisi AS pada peta geopolitik global sejak ditariknya pasukan mereka dari Afghanistan? Makin melemah atau justru makin digdaya?

Kalo dibilang makin digdaya, sepertinya itu berlebihan, mengingat Taliban kini tidaklah sama dengan mereka saat menjadi proxy AS, utamanya dikala Perang Soviet Afghanistan berlangsung. (baca disini)

Lalu apakah peran AS pada papan catur global bisa dikatakan mengalami kemunduran?

Mungkin iya, mungkin juga nggak. Yang jelas, Afghanistan memberi dampak yang cukup signifikan pada pengaruh AS. Saat ini, ada semacam kekosongan kekuasaan yang biasanya didominasi oleh peran AS.

Bagaimana kita mengamatinya?

Nggak usah yang terlalu sulit. Coba kita tilik pada status hubungan AS dan Saudi.

Seperti kita tahu, bahwa selama ini AS bertindak sebagai centeng Saudi. Nggak aneh jika kemudian Saudi banyak membeli peralatan perang dari AS, karena faktor kedekatannya tersebut. (https://www.cbsnews.com/news/saudi-arabia-is-the-top-buyer-of-u-s-weapons/)

Tapi era kemesraan itu sekarang mulai terkikis seiring naiknya Biden ke panggung politik sebagai pengganti Trump.

Sejak Biden menjabat, sikap Washington terhadap Riyadh mulai menunjukan perubahan. Yang paling kentara adalah pembekuan penjualan senjata ke Saudi pada awal tahun 2021 silam. (https://www.wsj.com/articles/biden-freezes-u-s-arms-sales-to-saudi-arabia-uae-11611773191)

Ini jelas aneh, mengingat Saudi selama ini adalah pembeli kakap bagi persenjataan pabrikan Paman Sam tersebut. Lha kok tiba-tiba dimoratorium oleh Biden? Padahal dengan Trump sudah ada kesepakatan dan nggak ada masalah. (https://www.pbs.org/wgbh/frontline/article/saudi-arabia-arms-deal-trump-what-to-know/)

Itu keanehan pertama.

Keanehan lainnya adalah saat Februari 2021 dimana komunitas intelijen AS mengeluarkan laporan yang mengutuk peran Saudi atas pembunuhan jurnalis Wapo Jamal Khashoggi pada Oktober 2018 silam. (https://www.reuters.com/article/us-usa-saudi-biden-idUSKBN2AO2HL)

Dengan keluarnya laporan tersebut, secara nggak langsung akan menyudutkan Saudi (secara khusus MBS) yang selama ini menjadi rekanan AS di TimTeng? (baca disini)

Padahal kita tahu, bagaimana gigihnya Trump dalam menekan ‘tudingan tersebut’, meskipun memang nyatanya seperti itu. Masa iya yang namanya sohib dekat kok diserang pakai isu yang menyudutkan. Ini jelas nggak etis.

Apakah hanya itu keanehan yang ada?

Nggak juga.

Anda tahu status Saudi pada Perang Yaman? Perang di negara tersebut bisa berlangsung lama, karena ada campur tangan Saudi dan juga negara Teluk lainnya, yang berkolaborasi dengan AS. (https://www.theatlantic.com/international/archive/2017/04/yemen-trump-aqap/522957/)

Mereka punya common enemy di Yaman yang bernama kelompok Houthi. Bahkan Houthi sempat masuk dalam daftar teroris yang dikeluarkan AS.

Aneh bin ajaib, AS kemudian mengakhiri dukungan militernya kepada Saudi dalam Perang Yaman yang bertujuan memerangi pasukan Houthi yang disokong oleh Iran.

Bukan itu saja, bahkan status ‘teroris’ yang melekat pada Houthi akhirnya dicabut oleh AS pada Januari 2021 silam. (https://www.rnz.co.nz/news/world/434413/us-to-designate-yemen-s-houthi-movement-as-foreign-terrorist-group)

Jika dipikir-pikir, awal mula konflik di Yaman adalah karena AS punya kepentingan pada wilayah Socotra yang ada di negara tersebut, karena dianggap strategis secara geopolitik. (baca disini)

Menjadi lucu jika kemudian Saudi yang kemudian bergabung, lalu ditinggalkan sendirian menghadapi Houthi. “Sebenarnya, ini perang-nya siapa sih?”

Dengan perubahan sikap AS pada Saudi, maka Houthi merasa menang pamor.

Menjadi wajar jika Houthi kemudian berani menggelar serangan rudal dan pesawat tak berawak (drone) ke wilayah Saudi, mengingat sang centeng kini telah tiada. (https://www.theguardian.com/world/2021/sep/05/saudi-forces-intercept-ballistic-missiles-and-drones-fired-from-yemen)

Pusing-lah kini MBS menanggapi retaknya hubungan dengan ‘mantan kekasihnya’ tersebut.

Harus bagaimana lagi, mbakyu?

Jika mengambil sikap frontal, selalu ada implikasinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Tapi jika nggak ambil sikap, masalah bisa tambah runyam.

Anda pasti ingat, bahwa Trump pernah bilang bahwa MBS nggak akan mungkin bisa bertahan sebagai pemimpin di Saudi, tanpa sokongan AS. “Paling banter hanya bertahan 2 minggu-an saja,” demikian kurleb-nya. (https://www.reuters.com/article/us-usa-trump-saudi-idUSKCN1MD066)

Bisa disimpulkan betapa rapuhnya kepemimpinan MBS di Saudi, tanpa sokongan AS. Jujur saja, banyak sekali pangeran di Saudi yang ingin menggantikan posisi MBS namun terkendala dengan adanya peran AS pada dirinya.

Dengan absen-nya dukungan AS, maka peluang itu menjadi terbuka selebar-lebarnya.

Belum lagi dengan konsep Wahabbi yang dikembangkan selama beberapa dekade oleh kerajaan, yang bisa menjadi bumerang pada kepemimpinan MBS.

Dan ini memaksa seorang MBS untuk melakukan reformasi besar-besaran pada konsep Islam yang ada di Saudi, jika ingin mempertahankan panggung kekuasaannya. (https://www.dw.com/en/saudi-arabia-reform-royal-family/a-58017860)

Bagaimana MBS ambil sikap terhadap masalah ini? Dan bagaimana proyeksi hubungan antara Saudi dan AS ke depannya?

Pada bagian kedua saya akan mengulasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu