Yaman: Tinjauan Geopolitik


519

Yaman: Tinjauan Geopolitik

Oleh: Ndaru Anugerah

Seorang bertanya kepada saya, “Kenapa nggak pernah bahas soal Yaman, Bang?”

Sekali lagi, bukan saya pilih-pilih item untuk saya bahas, tetapi karena ada skala prioritas yang harus saya utamakan. First thing first, itu prinsipnya.

Jadi mohon maaf kalo saya belum membahas item tertentu, karena pada gilirannya akan saya bahas kalo saya ada kesempatan. Semoga anda paham duduk masalahnya.

Kali ini saya coba jawaab pertanyaan tersebut, biar anda sedikit terobati.

Bicara soal Yaman, sangata kompleks masalahnya. Setidaknya butuh beberapa seri tulisan untuk membahasnya secara komprehensif. Dan akan membosankan kalo saya hanya bahas yang itu-itu saja secara berurutan.

Guna menghndari situasi yang monoton, saya akan membahasnya secara berbeda.

Pertanyaan awal: apa yang membuat Yaman menjadi menarik untuk dibahas?

Seorang Laksamana Geostrategis AL AS kenamaan yang bernama Alfred Mahan (1840-1914) pernah bilang begini, “Siapapun yang memiliki supremasi atas Samudera Hindia, maka akan menjadi pemain utama di kancah internasional.” (https://www.tandfonline.com/doi/pdf/10.1080/09700161.2015.1047224)

Lantas apa hubungannya sama Yaman?

Yaman memiliki kepulauan eksotis yang bernama Socotra yang letaknya sekitar 80 kilometer dari ‘Tanduk’ Afrika dan 380 kilometer dari selatan garis pantai Yaman, dan berada di Samudera Hindia.

Pulau Socotra adalah salah satu situs warisan alam dunia yang diakui UNESCO. (http://whc.unesco.org/p_dynamic/sites/passfile.cfm?filename=1263&filetype=pdf&category=nominations)

Pulau Socotra cukup penting dimata AS, karena berada dipersimpangan Laut Merah dan Teluk Alden. Bukan itu saja, kepulauan tersebut dapat menghubungkan Mediterania ke Asia Selatan dan Timur Jauh melalui Terusan Suez, Laut Merah dan Teluk Alden.

Dengan kata lain, rute utama kapal tanker minyak dunia, sebagian besar melalui jalur ini. Jadi nggak salah kalo Laksamana Mahan mengatakan bahwa rute tersebut begitu seksi untuk diperebutkan. Apabila AS berhasil mendirikan pangkalan militer di Socotra, maka segenap pergerakan kapal laut, akan dapat dipantau. (http://pakobserver.net/200907/01/Articles01.asp)

Tambahan lagi, Socotra yang jaraknya sekitar 3000 kilometer dari pangkalan AL AS di Diego Garcia, tentu mendatangkan keuntungan tersendiri bagi AS yang memang berkepentingan atas Timur Tengah. (https://www.businessinsider.com/photos-diego-garcia-air-base-indian-ocean-2019-8?r=US&IR=T#its-a-horseshoe-shaped-atoll-of-about-17-square-miles-2)

Untuk mewujudkan rencana tersebut, pada tanggal Januari 2010, Presiden Ali Abdullah Saleh dan Jenderal David Petraeus selaku Komandan Pasukan Sentral AS, mengadakan pertemua rahasia. Inti pertemuan tersebut adalah untuk membicarakan tentang program besar GWOT yang diusung AS dalam ‘memerangi’ terorisme. (baca disini dan disini)

“Ada sel teroris Al-Qaeda yang bermarkas di Yaman,” begitu kurleb isi pembicaraannya. Informasi ini didapat dari rencana teror yang gagal atas penerbangan Northwest Airlines 253 tujuan Detroit tepat pada malam Natal.

Berbekal alasan terorisme, AS berencana membuat pangkalan militer di Pulau Socotra. Dan Presiden Saleh dengan legowo memberikan pulau tersebut kepada AS. “Masa iya melawan terorisme kok nggak didukung? Apa mau dicap sebagai negara sponsor terorisme?” (http://www.alsahwanet.net/view_nnews.asp?sub_no=402_2010_01_19_75443)

Untuk tujuan tersebut, maka anggaran untuk bantuan ‘keamanan’ di Yaman dilipatgandakan dari USD 70 juta menjadi USD 150 juta. (http://www.iraq-war.ru/article/215146)

Skenario yang dimainkan media mainstream adalah karena adanya serangan teror bom di Detroit yang ‘katanya’ diperintahkan oleh sel Al-Qaeda di Yaman, maka jadi sah-sah saja jika kemudian AS akan mengocak-acik Yaman dengan alasan memerangi terorisme. Warbiyasah skenario-nya. (https://www.clickondetroit.com/news/2018/02/01/fbi-agent-opens-up-about-2009-christmas-day-underwear-bomber-over-metro-detroit/)

Jadi alih-alih guna memerangi Al-Qaeda, pangkalan Yaman yang ada di Socotra, akan ditingkatkan statusnya menjadi pangkalan penuh dalam status kendali AS. “Ini juga akan digunakan untuk memerangi serangan bajak laut Somalia,” kilahnya. (https://www.newsweek.com/how-fight-other-jihadistan-70925)

Bahkan gilanya lagi, untuk pembangunan infrastruktur di Pulau Socotra, Yaman dipaksa ‘berhutang’ sebesar USD 41 juta kepada Kuwait Fund for Arab Economic Development (KFAED) untuk proyek pelabuhan yang nyatanya buat kepentingan AS semata. (http://www.friendsofsoqotra.org/Activities/pdfs/Tayf%207%20English%20FINAL.pdf)

Dengan suksesnya lobi tersebut, maka rencana induk AS untuk menghubungkan Pangkalan Militer AS Diego Garcia yang ada di Kepulauan Chagos dengan Pulau Socotra dalam rangka mewujudkan militerisasi Samudera Hindia yang lebih luas, sudah ada dalam genggaman. (http://www.cnic.navy.mil/DiegoGarcia/index.htm)

Dengan kata lain, ungkapan yang dikeluarkan oleh Laksamana Mahan, tinggal selangkah lagi untuk diwujudkan. “Lautan adalah kunci permainan di abad 21, karena takdir dunia akan ditentukan disana,” ungkap Mahan. (http://www.defencejournal.com/2000/mar/indian-ocean.htm)

Sekarang, setidaknya anda punya bekal kalo misalnya saya akan membahas lebih lanjut tentang Yaman. Minimal nggak buta-buta amat, lah.

Apa yang akan terjadi pada Yaman selepas AS mendirikan pangkalan militer disana?

Pada lain tulisan saya akan mengulasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


2 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!