Bersiap Untuk Grand Solar Minimum

In Sosial Budaya

Bersiap Untuk Grand Solar Minimum

Oleh: Ndaru Anugerah

Bertepatan dengan Hari Valentine tahun ini, Texas dihantam badai es yang mencapai -20° C. Dampak langsung yang terjadi adalah sekitar 15 juta warga Texas hidup tanpa pemanas dan listrik karena hampir separuh unit pembangkit listrik tenaga angin membeku dan nggak bisa beroperasi.

Dengan sekitar 25% jaringan listrik di negara tersebut yang berasal dari tenaga angin, makin memperburuk situasi yang ada.

Karena bingung menanggapi situasi saat itu, sebagian warga beralih ke gas sebagai sumber pemanas di rumah.

Namun karena diburu, harga gas melonjak tajam, dari harga semula USD 30 menjadi USD 9000 per mega-watt hour. Lonjakannya hampir mencapai 4000%. Fantastik. (https://www.thestreet.com/mishtalk/economics/the-wholesale-price-of-electricity-spikes-10000-in-texas-power-outage)

Tentang bencana ini saya pernah bahas sebelumnya. (baca disini)

Ini ironis, mengingat Texas adalah pusat produksi minyak di AS. Kok bisa krisis energi?

Jangan heran, karena ini ulah kebijakan konyol Gubernur Texas yang beralih ke energi ‘hijau’.  Akibatnya produksi minyak di Texas diturunkan hingga hanya sepertiga saja, dan sekitar 20 kilang minyak di Gulf Coast ditutup. (https://www.reuters.com/article/us-energy-texas-weather-idUSKBN2AF1QV)

Bahkan pembangkit listrik semisal batubatara sudah ditutup sejak 2018 lalu. (https://www.houstonchronicle.com/business/columnists/tomlinson/article/Texas-electric-grid-did-just-fine-without-13229492.php)

Dengan hilangnya sumber energi alternatif, maka kalo hanya mengandalkan energi ‘terbarukan’, jelas nggak akan cukup alias bakal krisis energi. Dan ini akan terjadi lagi ke depannya kalo kebijakan enegri ‘terbarukan’ secara letterlijk terus diterapkan.

Ini bukan mengada-ada, karena para pendukung energi ‘hijau’ mati-matian menuding bahwa penyebab rusaknya dunia adalah karena bahan bakar hidrokarbon yang meninggalkan jejak karbon. Padahal, teori yang diusung oleh Maurice Strong tersebut sangat meragukan. (https://www.americanexperiment.org/2021/02/texas-winter-weather-iced-wind-turbines-and-rolling-blackouts/)

Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini dunia mulai berinvestasi secara besar-besaran ke energi ‘hijau’ guna menciptakan status zero carbon di tahun 2030 nanti sesuai amanat PBB. Dan pada 2050, semua energi sudah beralih sepenuhnya ke tenaga surya dan angin. (https://sdg.iisd.org/news/77-countries-100-cities-commit-to-net-zero-carbon-emissions-by-2050-at-climate-summit/)

Dengan beralihnya ke energi terbarukan, maka dunia diharapkan akan bebas dari gas rumah kaca yang dituding sebagai biang kerok pemanasan global.

Apa iya pemodelan yang banyak digadang-gadang oleh ilmuwan iklim bahwa kenaikan suhu di bumi bersifat linier dengan peningkatan emisi CO2 yang dihasilkan oleh bahan bakar hidrokarbon?

Nyatanya tidak. Justru yang banyak berpengaruh terhadap peningkatan suhu di bumi adalah siklus matahari. Dan emisi CO2 tidak mendorong terjadinya siklus tersebut.

Lantas apa itu siklus matahari?

Siklus matahari adalah siklus medan magnet matahari yang mempengaruhi aktivitas permukaan di matahari, seperti bintik matahari. Dan biasanya siklus ini memiliki putaran pendek selama 11 tahun. (https://spaceplace.nasa.gov/solar-cycles/en/)

NASA menyatakan bahwa planet bumi baru saja memasuki siklus matahari yang baru, yang dikenal sebagai Siklus 25, yang dimulai sejak 2020 lalu.

Satu yang perlu dicatat, bahwa siklus kali ini merupakan siklus terlemah dalam 200 tahun terakhir. (https://www.nasa.gov/feature/ames/solar-activity-forecast-for-next-decade-favorable-for-exploration)

Siklus lemah model gini pernah terjadi sebelumnya di tahun 1790 hingga 1830 yang dikenal sebagai Dalton Minimun alias Modern Minimum, dimana suhu bumi anjlik dengan drastis. (https://link.springer.com/article/10.1007/s00382-005-0053-0)

Menurut para ahli, Dalton Minimum biasanya memicu serangkaian letusan gunung api besar. Salah satunya adalah Gunung Tambora yang ada di Indonesia yang meletus pada 1815. Letusan tersebut berhasil membentuk kepadatan awan dari abu yang dimuntahkannya. (https://www.smithsonianmag.com/history/blast-from-the-past-65102374/)

Ini bisa terjadi karena dengan adanya penurunan magnestofer yang terkait matahari, maka arus masuk radiasi kosmik matahari yang lebih kuat dapat menembus gunung berapi yang kaya silika.

Walhasil, Eropa tertutup kabut awan dari abu Tambora di tahun 1816 yang menyebabkan benua Eropa tak mengenal musim panas pada tahun itu. (https://pubs.giss.nasa.gov/abs/st07500u.html)

Di AS kondisinya juga nggak kalah parah, karena di New York salju justru turun pada musim panas 1816, yang menyebabkan gagal panen luar biasa dan memicu kelaparan massal. (https://www.almanac.com/extra/year-without-summer)

Sedangkan di India, musim panas jadi tertunda dan mengakibatkan hujan lebat. Dan ini memperburuk wabah kolera yang terjadi di negara tersebut. (https://coldweatheressentials.com/what-happened-last-cold-period-dalton-minimum/)

Dengan demikian, jika prediksi NASA tepat, dunia harus bersiap untuk menghadapi perubahan iklim berupa turunnya suhu permukaan bumi secara drastis. Dan kasus di Texas, hanya merupakan menu pembuka menuju ‘hidangan utama’.

Ini selaras dengan temuan Prof. Valentina Zharkova dari Northumbria University, Inggris yang menyatakan bahwa penelitian yang dibuat oleh timnya menghasilkan kondisi terekstrim pada bumi yang disebut sebagai Maunder Minimum. Ini pernah terjadi pada periode 1645 – 1710.

Jika demikian adanya, ini lebih buruk lagi situasinya, karena akan mengarah pada terciptanya Grand Solar Minimum (GSM), dimana suhu permukaan bumi akan sangat rendah. (https://watchers.news/2020/09/02/zharkova-study-modern-grand-solar-minimum-2020-2053/)

Penelitian Prof. Zharkova memperkirakan periode GSM akan terjadi mulai 2020 hingga 2053 nanti. (https://watchers.news/2020/09/02/zharkova-study-modern-grand-solar-minimum-2020-2053/)

Dengan adanya fenomena GSM, maka radiasi matahari total akan sangat berkurang, dan dampaknya bumi akan mengalami musim dingin yang parah.

Bukan itu saja, GSM juga akan memicu serangkaian ledakan gunung berapi besar dan memicu banjir bandang, badai es, dan juga curah hujan sangat tinggi yang berlangsung lama. (https://abruptearthchanges.com/2018/01/14/climate-change-grand-solar-minimum-and-cosmic-rays/)

Coba perhatikan letusan gunung yang ada di Lewotolo dan Semeru yang terjadi tepat pada awal GSM di 2020 lalu.

Bisa dikatakan, cuaca ekstrim akan meningkat hari-hari ke depannya. Dan itu bukan gas rumah kaca penyebabnya, tapi siklus matahari. (https://electroverse.net/recap-the-changing-jet-stream-and-global-cooling/)

Coba bayangkan apa yang bakalan terjadi pada bumi.

Disaat semua negara berlomba-lomba berinvestasi untim proyek zero carbon, sementara siklus matahari justru akan membuat bumi turun temperaturnya secara drastis dan menyebabkan serangkaian bencana alam dan gagal panen.

Bukankah kelaparan dan krisis energi jadi bencana yang menakutkan ke depannya?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

7 commentsOn Bersiap Untuk Grand Solar Minimum

  • Berarti perusahaan eksplorasi dan eksploitasi energi fossil masih bisa hidup, analisis geopolitik sangat bermanfaat bagi pelaku pasar modal.

    Mungkin si Maurice Strong mau beli perusahaan energi fossil di bawah harga pasar, makanya bikin teori pemanasan global alih-alih dia buat energi terbarukan, malah dia borong semua perusahaan energi di harga obral.

  • Bisa jadi juga dgn bibit siklon tropis 94W yg lg diwaspadai skr ya bang?

  • Bisa jadi juga dgn bibit siklon tropis 94W yg lg diwaspadai skr ya bang??

    • yang patut disayangkan, Indonesia nggak punya tim strategis yang membahas soal geopolitik dan geostrategis yang bisa diberikan kepada pemerintah.

      kalo kita bisa soal BMKG, yang dibahas hanya soal spasial bukan holistik. BMKG nggak punya software dan hardware yang mumpuni dalam menjawab peristiwa alam tersebut untuk dapat melihat gambar besarnya.

      bukan siklon tropis 94W yang harusnya dijadikan rujukan, tapi soal Grand Solar Minimum-lah yang dapat memicu serangkaian gejala alam yang nggak biasa, termasuk gempa, gunung meletus hingga hujan es. dan ini sudah terjadi dan bukan merupakan peristiwa lepas.

      apakah informasi penting ini pemerintah tahu? saya sangat meragukannya.

  • komen saya 3 hal:

    1. adakah nama paul beckwith dalam daftar nama ilmuwan iklim anti-mainstream? (https://wattsupwiththat.com/wp-content/uploads/2021/08/4920-20836-1-PB.pdf)

    2. alih-alih menolak GSM, nyatanya paul beckwith malah pengembang energi terbarukan yang disorong oleh sang Ndoro besar. apa konsisten?

    3. seorang paul beckwith nggak pernah menuliskan apa yang dipercayainya dalam jurnal yang sudah di peer-review. (https://www.washingtonpost.com/news/capital-weather-gang/wp/2016/08/03/man-behind-claim-that-jet-stream-made-rare-equator-transit-responds-to-criticism/) terus gimana kita mau percaya apa yang diklaimnya, tanpa ada pembuktian ilmiah?

    • Oh maaf mas, Ini yang saya tanyakan diatas, jenengan jawab, Padahal saya ngga nemu Comment saya ttg itu disini. Tapi saya tahu apa yang jenengan comment membalas comment saya yang entah di artikel yang mana.

      Maaf mas, saya pun ga tll paham bang Pau Beckwith. Hanya, apa yang dikemukakan Ndorobesar about apapun ttg climate, selalu jadi issue after plandemic, another virus (marburg etc). Jadi saya walau ga begitu paham sepak terjang Bang Paul, intuisi saya sih mas yg merasa issue climate dengan segala alasan apapun, itu bagian dari TGR, mau Grand Solar Minimum, Maksimum, atau Mak apa, semua hasil slinthat slinthut mereka untk melengkapi kehancuran dunia untuk mereset semua sendi kehidupan manusia seperti pasca WW2.
      .
      Jika Nasa bersikukuh dengan versi ilmiahnya ttg GSM, mestinya akan ada upaya dari petinggi2 NASA untuk melakukan counter ke rencana2 gila BG.
      .
      Saat ini, dalam kondisi PPKM pun, dimana mobilisasi masyarakat sangat minim, malah Jakarta diklaim memiliki tingkat pulusi tinggi dan membahayakan oleh Greenpeace.
      .
      Maaf bang, bukankah itu sangat tidak masuk akal? sedangkan itu pasti bakal difollow up sama Pemda dan Pempus. Itu bisa jadi hanya propaganda, dan atau memeang fakta, cuma fakta jika benar2 fakta, itu akibat chemtrails ataupun upaya lain meracuni.
      .
      Maaf mas saya masih sekedar asumsi dari intuisi, tapi modusnya mirip2 saja.
      .
      Maaf kalau menururt jenengan, apakah benar climate change yg didengungkan geng davos bertahun2 masalah extreme climate change ini apakah benar alami seperti kata NASA dengan GSM nya. Ataukah akal2an sebagai pelengkap penghancuran sistem tata dunia lama, TGR, menuju Tata kelola dunia baru?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu