Mesin Perang Elite Global (*Bagian 2)

In Sejarah

Mesin Perang Elite Global (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian 1 saya sudah mengulas tentang operasi rahasia berkode: Wahhabisme yang diusung oleh Saudi, dibawah komando Kerajaan Inggris. Jadi kerjasama antara Saudi Arabia dan Inggris bersifat mutualisme, karena kedua belah pihak sama-sama ‘untung’. (baca disini)

Setelah kekaisaran Islam Ottoman berakhir, Ibn Saud diberikan imbalan sesuai yang dijanjikan sebelumnya, dengan dukungan Inggris bagi kemerdekaan Kerajaan Saudi Arabia sebagai negara di tahun 1932.

Sokongan ini jelas nggak gratis, mengingat setahun kemudian (1933), Saudi memberikan konsesi minyak di negaranya kepada perusahaan minyak Barat seperti CASOC (California Standard Oil) yang berafiliasi ke Standard Oil of California (SOCAL) yang saat ini bernama CHEVRON.

Chevron adalah bagian dari Big Oil. Dan kalo kita bicara Big Oil, siapa dibelakangnya selain klan Rothschild dan Rockefeller? (https://www.businessinsider.com/the-history-of-saudi-aramco-timeline-2017-11)

Arab Saudi sebagai sekutu strategis Barat di Timur Tengah, bukan saja menyediakan daerah dengan cadangan minyak berlimpah, tapi juga mengendalikan agresi bangsa-bangsa Arab terhadap Israel. Pakai apa? Ya mesin perang berkode Wahhabisme tadi.

Setidaknya pengakuan Mohammed Bin Salman (MBS) pada Washington Post mengamini hal tersebut. “Barat-lah yang mendorong negara kami untuk menyebarkan Wahhabisme ke seluruh penjuru dunia.” (https://www.washingtonpost.com/news/democracy-post/wp/2018/06/15/mohammed-bin-salman-is-the-worst-enemy-of-his-vision-2030-plan/)

MBS menyatakan bahwa pada awalnya Wahhabisme sengaja digunakan kembali saat terjadi perang dingin antara Amrik dan Uni Soviet. Ini perlu dilakukan, karena invasi Uni Soviet ke banyak negara dengan ‘bahaya merah-nya’ tengah menjadi ancaman bagi dominasi AS di dunia kala itu.

Dan yang paling mudah untuk menghambat laju bahaya merah tadi, ‘mesin perang-lah’ yang paling efektif untuk digunakan.

“Pada tataran teknis, negara-negara Barat mendesak Arab Saudi untuk berinvestasi di masjid dan dan madrasah di luar negeri, selama perang dingin berlangsung, agar invasi Uni Soviet terhadap negara-negara muslim bisa dipatahkan,” begitu ungkap MBS.

Dengan adanya infrastruktur masjid dan madrasah yang dibiayai Arab Saudi, proses indoktrinasi lewat para pendakwah (yang sudah ‘dicetak’ di Saudi) segera dimulai. Para jamaah ‘diindoktrinasi’ dan ‘ditenangkan’ serta diberitahu bahwa sosialisme sama dengan ateisme. Dan ateisme itu jahat, ilegal dan sudah tentu berdosa. Karenanya harus dilawan, apapun alasannya.

Dogma wahhabisme yang memodifikasi ajaran Islam tersebut, kini telah disebar ke seluruh dunia. Dan tentu saja ini membuat intelektual serta kreativitas cendikiawan muslim menjadi tumpul karena dogma yang diajarkannya.

Selain itu, mesin perang tersebut bisa dijadikan proxy pada negara-negara saingan Barat, semisal China dan Rusia. “Ingat kasus Uyghur di China, kan?”

Dari Wahhabisme, berbagai aliran yang memiiki semangat teror telah dikembangkan. Setidaknya Peter Goodgame mengamini hal tersebut. “Globalis Barat memiliki andil dalam membentuk dan membiayai semua organisasi teroris abad 20 termasuk Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Mujahiddin di Afghanistan.” (http://www.redmoonrising.com/Ikhwan/Clash.htm)

John Pilger pernah menulis tentang ISIS sebagai turunan dari operasi teror Wahhabisme. “Seperti Pol Pot dan Khmer Merah, ISIS adalah mutasi dari teror yang dibentuk oleh negara-negara Barat dan juga elite global.” (http://johnpilger.com/articles/from-pol-pot-to-isis-anything-that-flies-on-everything-that-moves)

Lalu, berapa biaya yang telah dikeluarkan dalam menyukseskan operasi rahasia melalui mesin perang tersebut?

Pakar anti teror – Alex Aleviev – mengatakan, “Antara 1975-1987, Saudi mengakui telah menghabiskan USD 48 milyar atau sekitar USD 4 milyar setahun untuk ‘bantuan luar negeri’. Dana tersebut bahkan meningkat menjadi USD 70 milyar di tahun 2002.”

“Angka tersbut belum termasuk sumbangan pribadi yang didistribusikan oleh badan amal yang dikendalikan oleh negara,” begitu ungkap Alexviev. (http://www.au.af.mil/au/awc/awcgate/congress/sc062603_alexiev.pdf)

Laporan tentang aliran dana tersebut setidaknya mendapatkan pembenaran dari mantan Menlu AS – Hillary Clinton – yang menyatakan (dalam memo rahasia yang kemudian bocor) bahwa, “Arab Saudi-lah dibalik sumber pendanaan paling signifikan bagi kelompok-kelompok teroris Sunni di seluruh dunia.”

Bahkan Hillary menambahkan, “Ini merupakan tantangan agar bisa berlanjut dengan cara membujuk para pejabat Saudi untuk terus menggelar aktivitas pendanaan tersebut sebagai prioritas strategis.” (https://www.bbc.com/news/world-middle-east-11923176)

Dengan program rahasia yang didukung dana besar, maka Wahhabisme merupakan mesin perang yang sangat efektif dan sekaligus mematikan bagi BANYAK NEGARA yang tidak sejalan dengan garis kebijakan Washington dan kepentingan para elite global.

Dalam sebuah kunjungan di Teheran, Iran, seorang analis geopolitik kawakan – Andre Vltchek – pernah mendapatkan masukan dari banyak pemimpin agama disana, “Negara Barat berhasil menciptakan agama yang sama sekali baru dan aneh, serta menyebarkannya ke banyak negara.”

“Mereka menyebutnya Islam, namun kami tidak bisa mengenalinya. Itu bukan Islam, bukan Islam sama sekali.” (https://www.globalresearch.ca/saudi-wahhabism-serves-western-imperialism/5642047)

Sebagai penutup, mendiang Gus Dur pernah mengatakan, “Dewasa ini, sebagian besar orang Indonesia tidak peduli atau berpikir tentang Tuhan. Mereka hanya mengikuti ritual. Jika Tuhan turun dan memberitahu mereka bahwa interpretasi mereka tentang Islam itu salah, mereka akan terus mengikuti bentuk Islam ini dan mengabaikan Tuhan.” (https://www.globalresearch.ca/saudi-wahhabism-serves-western-imperialism/5642047)

Ironis, karena nyatanya banyak orang kini menganggap ‘mesin perang elite global’ tersebut sebagai Tuhan, bahkan lebih Tuhan dari Tuhan itu sendiri.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Tuding Mereka Dengan Teori Konspirasi

Tuding Mereka Dengan Teori Konspirasi Oleh: Ndaru Anugerah Saat rencana besar elite global mulai terkuak oleh sekelompok orang dengan memaparkan beberapa

Read More...

Bukan Anti-Mainstream

Bukan Anti Mainstream Oleh: Ndaru Anugerah Razia pada warga yang tidak menggunakan masker, mulai masif digelar. Setidaknya di Jakarta. Sanksi yang

Read More...

Deklarasi Balfour: Entry Point

Deklarasi Balfour: Entry Point Oleh: Ndaru Anugerah Bagaimana negara Israel bisa terbentuk? Siapa yang menjadi sponsornya? Mungkin anda pernah dengar tentang Deklarasi

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo