Siapa Pencemar Sesungguhnya?

In Lite

Siapa Pencemar Sesungguhnya?

Oleh: Ndaru Anugerah

KTT Iklim COP26 yang berlangsung di Glasgow telah usai. Mayoritas sepakat pada klausul penghentian penggunaan bahan bakar batubara ke depannya. (https://www.abc.net.au/news/2021-11-14/cop26-climate-deal-reached-with-coal-compromise/100618866)

Anda perlu tahu bahwa tidak hanya batu bara yang bakal dilarang ke depannya, tapi semua bahan bakar fosil yang selama ini ditenggarai sebagai biang kerok global warming. Berikutnya minyak hingga gas yang jadi sasaran gerakan iklim tersebut.

Terus, kalo semua BB fosil dilarang, kalo kita mau terbang pakainya apaan?

Ya tentu saja pakai baling-baling bambu-nya Doraemon.

Sekarang coba jawab: kalo bicara biang kerok pemanasan global, siapa pihak yang paling bertanggungjawab?

Sini saya bisikin.

Menarik pernyataan yang dirilis oleh Richard Heede selaku analis dari Climate Accountability Institute yang ada di AS. Menurut penelitian yang dilakukan lembaga risetnya, beliau menyatakan bahwa Big Oil-lah yang berkontribusi besar terhadap kerusakan iklim.

“20 perusahaan teratas dunia telah berkontribusi terhadap 35% dari semua CO2 dan metana terkait energi di seluruh dunia, dengan total 480 miliar ton sejak 1965 hingga 2017,” begitu ungkap Heede. (https://climateaccountability.org/pdf/CAI%20PressRelease%20Top20%20Oct19.pdf)

Siapa saja nama-nama 20 perusahaan tersebut?

Tentu saja anda kenal dengan baik, mulai dari Chevron, Exxon, BP, Shell hingga Saudi Aramco dan Gazprom asal Rusia. Dan Chevron memimpin klasemen dengan menduduki puncak piramida.

Selain Big Oil Companies, siapa lagi yang bertanggungjawab atas emisi karbon secara global?

Anda nggak bakal menyangka, karena Pentagon-lah sumber utama emisi gas rumah kaca terbanyak kedua. Dengan banyaknya perang yang mereka gelar di berbagai negara, apa nggak menghasilkan emisi karbon yang lumayan banyak?

Ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Durham University dan Lancaster University yang diterbitkan pada Science Daily di tahun 2019 silam.

“Jejak karbon militer AS sangat besar sepanjang sejarah manusia dan berkontribusi pada pemanasan global,” demikian ungkapnya. (https://www.sciencedaily.com/releases/2019/06/190620100005.htm)

Gimana enggak?

Di tahun 2017, militer AS membeli sekitar 269.230 barel minya per hari dan mengeluarkan lebih dari 25.000 kilo ton CO2.

Dan di tahun yang sama, USAF membeli BB senilai USD 4,9 milyar dan US NAVY membeli BB senilai USD 2,8 milyar. Sedangkan US Army membeli sekitar USD 497 juta dan US Marine membelanjakan sekitar USD 36 juta.

Coba dibayangkan, berapa banyak emisi yang dikeluarkan kalo benar klaim para gerakan lingkungan bahwa CO2 adalah gas penyebab pemanasan global?

Pertanyaan selanjutnya: apakah Big Oil dan Pentagon dilibatkan pada KTT COP26 di Glasgow karena dengan jelas kasih kontribusi atas emisi karbon? Kan nggak.

Harusnya kalo mau suceng, mereka dikenai pajak karbon atas kontribusi emisi yang mereka keluarkan. Itu baru fair. Bukannya malah ngumpet dan menghadiri KTT. (https://www.defenseone.com/threats/2021/10/defense-officials-will-not-attend-global-climate-conference/186416/)

Aliasnya, COP26 nggak lain adalah ajang dagelan semata. Titik.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu