Memanipulasi Ketakutan (*Bagian 2)

In Sejarah

Memanipulasi Ketakutan (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian pertama, kita telah mengulas bagaimana ketakutan sengaja dimanipulasi untuk menjalankan skenario tertentu. Dan praktik ini telah berlangsung sejak jaman Mesir kuno hingga era modern kini. (baca disini)

Kita juga telah mengulas tentang Thomas Malthus yang mencoba untuk memperkenalkan tipe ketakutan yang baru, dengan meluncurkan teori over-populasinya yang hingga kini nggak pernah terbukti.

Apakah lantas teori Malthus tersebut mulai ditinggalkan?

Justru kartel Ndoro besar makin mengukuhkan teori Malthus tersebut guna menyokong program depopulasi-nya. Karenanya ide-ide Malthus kemudian makin digembar-gemborkan bahwa benar terlalu banyak orang yang tak berguna yang kerjanya hanya menghabiskan sumber daya yang ada di dunia.

Siapa orang tak berguna yang dimaksud?

Dalam bukunya, Malthus menuliskan bahwa dirinya tidak pernah mendukung hak orang-orang miskin, mengingat gereja Anglikan tunduk pada undang-undang yang melarang untuk memberikan makanan atau pakaian kepada siapapun, termasuk kepada orang tak berpunya. (https://www.econlib.org/library/Malthus/malPlong.html)

Berikutnya Malthus justru menganjurkan untuk berkontribusi secara aktif terhadap kematian yang lebih banyak pada orang miskin melalui rekayasa sosial.

“Daripada kita buat kebersihan bagi warga miskin, lebih baik kita buat kebijakan yang bertentangan. Di kota-kota, kita harus buat jalan yang sempit dan membangun rumah-rumah kumuh yang dijejali banyak orang, sehingga menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Dengan demikian, kelak terjadi wabah, mereka akan terkena dampaknya secara langsung. Saat itulah kita harus menolak pengobatan mereka,” begitu kurleb-nya.

Secara singkat Malthus mendorong penyebaran penyakit dan wabah pada kalangan ‘bawah’ agar populasi mereka bisa dikurangi, sehingga dia dapat menyelamatkan ‘umat manusia’ dari bahaya over-populasi.

Skema pengurangan populasi secara drastis dengan cara membunuh orang miskin dan masyarakat yang tertindas, apa namanya selain depopulasi? Bukankah orang seperti itu layak disebut sebagai psikopat?

Dan ide yang dilontarkan Malthus tidak akan lekang oleh waktu. Salah satu pendukung teori Malthus atau yang dikenal dengan Malthusian adalah Paul Ehrlich.

Dalam bukunya yang berjudul The Population Bomb (1968), Ehrlich dan istrinya Anne menulis, “Kanker adalah penggandaan sel yang tidak dikehendaki; sedangkan ledakan populasi adalah penggandaan orang yang tidak dikehendaki.”

Ehrlich menambahkan, “Kita harus mengalihkan upaya kita dari pengobatan gejala ke pemotongan kanker. Operasi ini akan menuntut banyak keputusan berani yang tampaknya brutal dan tidak berperasaan.” (http://pinguet.free.fr/ehrlich68.pdf)

Bukan itu saja Ehrlich mengungkapkan gagasannya atas upaya depopulasi.

Pada bukunya Ecoscience yang dirilis pada 1977 bersama John Holdren, dia menyarankan untuk memberikan zat steril pada makanan dan air yang dikonsumsi banyak orang. (https://pdfcoffee.com/ecoscience-populationresourcesenvironment1977pdf-proactiveresearch-pdf-free.html)

Jadi kepikiran, siapa juga yang pegang kendali atas makanan dan minuman yang tiap hari kita santap? (baca disini dan disini)

Para Malthusian sangat gigih memperjuangkan ide pengurangan populasi dunia, dan mereka itu nyata.

Salah satu Malthusian lainnya adalah Maurice Strong yang menganjurkan pemerintah di banyak negara untuk memberikan hak kepada perempuan untuk memiliki anak. Jadi kalo kaum hawa nggak berkenan memiliki anak dan memilih berkarir, itu adalah hak yang harus dijunjung tinggi. (https://www.youtube.com/watch?v=1YCatox0Lxo)

Selain itu ada juga nama Pangeran Philip yang dikenal sebagai Duke of Edinburg, di tahun 1988 silam pernah mengatakan, “Kalo saya dilahirkan kembali, saya ingn menjadi virus mematikan, yang dapat menyumbangkan sesuatu untuk mengatasi kelebihan populasi (di dunia).” (https://www.businessinsider.in/entertainment/news/prince-philip-quote-about-reincarnating-as-a-deadly-virus-to-solve-overpopulation-resurfaces/articleshow/81992882.cms)

Dan terakhir ada nama Ted Turner selaku boss CNN, yang di tahun 1990-an mengatakan, “… penurunan 95% dari tingkat populasi saat ini, akan menjadi angka yang ideal.” (https://www.reddit.com/r/Libertarian/comments/7naeej/a_total_world_population_of_250300_million_people/)

Dengan rentetan nama-nama tersebut, kita bisa tahu bahwa ide ledakan pendudukan dengan sistematis terus dihembuskan, agar ada tindakan yang boleh diambil sebagai jalan keluarnya.

Padahal kalo kita lihat proyeksi PBB dengan jelas menyatakan bahwa populasi dunia cenderung mendatar pada 40 tahun terakhir. Dan terlebih, jika kita lihat pertumbuhan penduduk pada negara-negara maju yang ada pada angka 2,1, itu berarti mereka populasinya sekarat karena berisi hanya orang-orang lanjut usia saja.

Itu berarti negara-negara maju perlu imigran dalam jumlah banyak untuk mempertahankan tingkat populasi mereka yang kini stagnan. Dengan kata lain, darimana asumsi ledakan pendudukan yang dilontarkan Malthus lha wong yang ada penduduknya makin raib? (https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_sovereign_states_and_dependencies_by_total_fertility_rate)

Selain trend populasi yang terus menurun, ada juga kontribusi ‘pengganggu endokrin’ yang banyak ditemukan pada bahan pangan dan minuman, yang dapat membatasi kemampuan biologis seseorang untuk bereproduksi. (https://pursuit.unimelb.edu.au/articles/safe-herbicide-in-australian-water-affects-male-fertility)

Tentang ini saya pernah bahas pada tulisan saya beberapa bulan yang lalu. (baca disini)

Point-nya adalah: ide over populasi sangat mengada-ada. Maka jika ada ide-ide pengurangan penduduk dengan berbagai cara (steril paksa, aborsi hingga anjuran KB) itu bukan bertujuan untuk kemanusiaan apalagi keadilan sosial, tapi untuk kepentingan para eugenik semata.

Bagi mereka, bayi yang baru lahir bukanlah Anugerah Tuhan untuk dilihat, juga bukan hadiah apalagi potensi masa depan bagi umat manusia, tetapi kanker yang harus dibunuh.

Sekali lagi kalo kita bicara soal Malthus dan para followers-nya, mereka nggak akan pernah tertarik untuk bicara soal peningkatan pangan, mengatasi kemiskinan ataupun mengembangkan teknologi yang dapat meningkatkan kemampuan kita untuk menguasai alam. Sekali lagi mereka nggak akan tertarik soal itu, karena ide depopulasi-lah yang mereka kejar.

Setelah mengetahui rencana untuk menakut-nakuti dengan dalih ledakan penduduk, akankah akal sehat kita merespons dengan baik propaganda ini? Atau justru sebaliknya?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu