Menyoal Metaverse


510

Menyoal Metaverse

Oleh: Ndaru Anugerah

Facebook yang membawahi Whatsapp dan Instagram, telah mengganti merek dagangnya dengan Meta yang akan berkonsenstrasi pada teknologi Metaverse pada akhir Oktober silam. (https://www.newscientist.com/article/2295438-why-has-facebook-changed-its-name-to-meta-and-what-is-the-metaverse/)

Tentang proses rebranding ini, bukanlah barang baru dalam industri IT. Ambil contoh Google yang ditahun 2015 silam berubah menjadi Alphabet sebagai perusahaan induknya. (https://www.newscientist.com/article/dn28039-alphabet-is-the-worst-name-the-new-google-could-have-chosen/)

“Perusahaan memiliki misi baru yaitu menjadi penerus internet seluler dan lingkungan virtual, dimana kita bisa hang out, belanja dan bekerja,” demikian ungkap Mark Zuckerberg. (https://time.com/6111389/facebook-new-name-meta/)

Jadi itu tujuan utama Zuckerberg dalam mengganti nama perusahaannya.

Memangnya Metaverse tuh apa?

Berbicara dalam sebuah wawancara, Zuckerberg mengatakan bahwa dirinya membayangkan masa depan dimana semua orang akan memakai kacamata yang dilengkapi dengan realitas virtual, yang memungkinkan mereka untuk terlibat dalam internet yang lebih alami.

“Metaverse merupakan lingkungan sinkron yang tangguh, dimana kita bisa bersama menciptakan ruang hibrida pada platform media sosial yang kita lihat saat ini dengan lingkungan dimana kita ingin mewujudkannya,” begitu ungkapnya. (https://www.theverge.com/22588022/mark-zuckerberg-facebook-ceo-metaverse-interview)

Jadi kalo bisa disimpulkan, Metaverse adalah internet masa depan yang akan memungkinkan seseorang untuk menjelajah ke ruang manapun dan kapanpun, sesuai dengan kemauannya. Dan ini akan membuat anda merasa aman berada di ruang virtual yang disediakan Meta.

Apa memang semulia itu cita-cita Zuckerberg?

“Metaverse akan menjebak kita dalam realitas virtual dan otomatis menjadikan Zuckerberg sebagai tuan tanah terbesar di dunia,” ungkap jurnalis senior Emily Jashinsky.

Berikutnya Jashinsky menambahkan bahwa orang akan memuja realitas virtual karena bisa bekerja, bersosialisasi dan bermain dalam lingkungan yang diciptakan. (https://www.youtube.com/watch?v=1G2NbVvlIm4)

“Nyatanya ruang virtual itu justru akan membuat kita menjadi gampang marah, lebih kesepian, lebih bodoh, kurang sehat dan lebih kecanduan,” tambah Jashinsky lagi.

Apa yang diungkapkan Jashinsky mungkin nggak berlebihan.

Selaku mitra strategis World Economic Forum, Cognizant yang merupakan perusahaan digital raksasa menyatakan bahwa ke depannya manusia akan bisa bermain dan bekerja dengan aman dalam dunia maya. (https://www.weforum.org/organizations/cognizant-technology-solutions)

“Setelah ancaman virus, rumah akan dilengkapi dengan perangkat yang berfungsi sebagai ruang ganda yang memungkinkan manusia bersosialisasi secara virtual pada 2025 mendatang,” ungkap Cognizant lebih lanjut. (https://www.youtube.com/watch?v=oNxFJt5aYI4)

Singkatnya, dunia maya akan menggantikan peran dunia nyata ke depannya. Anda akan dimanjakan dengan dunia ‘semu’ yang anda ciptakan, dan anda akan makin terikat untuk berkutat terus di dalamnya.

Nggak usah seorang Jashinsky untuk memberikan komentar, karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Fitrah ini yang akan dirubah menjadi makhluk anti-sosial yang nggak butuh ruang nyata untuk bergaul, oleh kartel Ndoro besar.

Mirip-mirip dengan daging sintetis yang dipromosikan Bill Gates. Citarasa daging, namun sebenarnya ‘racun’ yang dengan perlahan akan ‘melenyapkan’ anda. Selamanya. (baca disini)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!