Rencana Besar Elite Global (*Bagian 2)

In Politik

Rencana Besar Elite Global (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian 1 saya telah mengulas tentang Oded Yinon’s Plan (OYP) yang merupakan cetak biru rencana terbentuknya kekaisaran Israel Raya di Timur Tengah yang terbentang dari Lembah Nil ke Efrat. (baca disini)

Implikasi dari proyek besar tersebut adalah terpecahnya negara-negara Arab menjadi negara-negara kecil berbasis suku dan mazhab demi terbentuknya kekaisaran Israel Raya. Dan ini akan diwujudkan dengan bantuan AS-NATO dan juga Arab Saudi.

Jadi kalo boleh dibilang, OYP menyerukan agar Lebanon, Mesir dan Suriah terpecah. Berikutnya pemisahan Iran, Turki, Somalia dan Pakistan. Dan terakhir pembubaran di Afrika Utara mulai dari Mesir, Sudan, Libya dan seluruh wilayah lainnya.

Sebenarnya, OYP adalah rencana lama yang diperbaharui kembali. Dulu saat Theodor Herzl menawarkan uang sebesar £ 150 juta kepada Sultan Abdul Hamid II sebagai ‘uang muka’ agar Zionisme diberi akses ke Palestina, sudah menyiratkan rencana besar tersebut.

Sayangnya, rencana itu kandas akibat Sultan Abdul Hamid II menampik proposal tersebut. “Kalo diterima sama saja dengan mengkhianati cita-cita kekhalifahan Ottoman Turki,” pikir sang Sultan saat itu. (https://www.centuryassociation.org/islamic-history-and-personalities/26-articles/islamic-history-and-personalities/2642-1700s-1800s-the-decline-of-the-ottoman-empire)

Tapi bukan Ndoro besar namanya kalo gampang menyerah.

Melalui dokumen yang ditulis oleh Richard Perle dan kelompok studinya di tahun 1996, terbentuk cetak biru yang diberinama ‘Strategi Baru Israel Menuju 2000’. (https://www.irmep.org/Policy_Briefs/3_27_2003_Clean_Break_or_Dirty_War.html)

Apa isi dokumen tersebut?

Langkah pertama yang dilakukan untuk terbentuknya Israel Baru adalah mendorong Suriah keluar dari Lebanon dengan bantuan Yordania dan Turki dan juga pihak oposisi yang ada di Lebanon. Tetapi sebelumnya, Saddam Hussein harus disingkirkan agar Balkanisasi tersebut dapat dilakukan.

Kalo anda ingat Revolusi Cedar di Lebanon pada 2005 silam, peristiwa itu nggak lain adalah upaya untuk menjalankan proyek Israel Baru tersebut dengan memakai kekuatan pihak oposisi anti-Assad. (silakan baca: Richard Perle et al., A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm (Washington, D.C. and Tel Aviv: Institute for Advanced Strategic and Political Studies), 1996.)

Lalu bagaimana di Afrika?

Bila anda mengikuti geopolitik secara intens, maka anda akan dapat melihat OYP sedang dijalankan di Benua Hitam tersebut. Yang paling kentara adalah krisis Sudan, dimana segregasi Arab dan Afrika kontras terjadi sehingga ada istilah Sudan Selatan untuk Afrika dan Sudan Utara untuk Arab. (https://core.ac.uk/download/pdf/302957603.pdf)

Jadi OYP hanya bisa dijalankan dengan strategi pecah belah. Dan parahnya, mereka yang dijadikan proyek pecah belah nggak sadar diri. Mati-matian bela suku, mati-matian bela mazhab, nyatanya mereka tengah diadu domba. Dan Ndoro besar bisa tertawa bahagia melihat semua kebodohan ini.

Pada arsip email milik Hillary Clinton yang dibuat dari 30 Juni 2010 hingga 12 Agustus 2014 yang berhasil dibocorkan oleh Wikileaks, Hillary bilang begini, “Target utama yang akan menjadi anugerah besar bagi Israel adalah menghancurkan Suriah dan juga Iran.” (https://wikileaks.org/clinton-emails/)

Nggak aneh jika kemudian Prof. Jeffrey Sachs dari Universitas Harvard ngomong, “Hillary adalah akar masalah krisis di Suriah dengan cara menghasut dan membantu para pemberontak agar pertumpahan darah di sana dapat terus berlangsung.” (http://www.huffingtonpost.com/jeffrey-sachs/hillary-clinton-and-the-s_b_9231190.html)

Dan jejak Hillary selaku ekskutor OYP bukan hanya di Suriah tapi juga di Libya. “Kalo anda tahu bagaimana seorang Moamar Qadaffi dikudeta oleh Ikhwanul Muslimin dan kelompok teroris lainnya, itu adalah karya gemilang Hillary Clinton,” ungkap Charles Kubic. (http://nationalinterest.org/feature/hillarys-huge-libya-disaster-16600)

OYP juga dijalankan secara samar dengan memakai istilah Perang Global Melawan Teror (GWOT) serangan rekayasa 9/11 pada 2001.

Kenapa akhirnya Afghanistan dan negara-negara Timur Tengah lainnya yang disasar karena dianggap sebagai negara sponsor terorisme, nggak lain dalam rangka menyukseskan OYP tersebut.

Apa kata Jenderal Wesley Clark selaku komanda tertinggi NATO tentang hal tersebut?

“Kami akan menghancurkan tujuh negara dalam 5 tahun, dimulai dengan Irak, Suriah kemudian Lebanon, Libya, Somalia, Sudan dan diakhiri dengan Iran.” (https://www.quora.com/Gen-Wesley-Clark-tells-and-writes-about-a-classified-memo-stating-the-US-planned-to-take-out-7-countries-in-5-years-Iraq-Syria-Lebanon-Libya-Somalia-Sudan-Iran-Has-this-claim-been-investigated-Is-there-any-evidence-or-testimony-supporting-the-claim)

Bukankah ketujuh negara ini adalah bagian dari kekaisaran Israel Raya? Apakah itu hanya bersifat kebetulan?

Rencana boleh-boleh saja, namun nyatanya hingga kini apakah rencana tersebut telah terwujud? Setidaknya belum, bukan.

Satu yang mungkin sang Ndoro lupa, bahwa akan ada faktor sejarah berupa perlawanan yang akan diberikan dalam menentang rencana tersebut.

Lalu kenapa sang Ndoro besar ngotot untuk mewujudkan kekaisaran yang menempuh jalan berliku tersebut?

Karena sang Ndoro besar menganggap diri mereka Tuhan. Mereka pikir bahwa mereka adalah bangsa pilihan Tuhan, dan karena beban sejarah tersebut mereka terinspirasi untuk mewujudkan rencana Tuhan atas diri mereka.

Namun mereka lupa. Nyatanya secara sains nyatanya mereka bukan bangsa pilihan Allah seperti yang selama ini mereka klaim pada dunia. (baca disini dan disini)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

3 commentsOn Rencana Besar Elite Global (*Bagian 2)

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu