Menyoal Nol Karbon (*Bagian 2)

In Sosial Budaya

Menyoal Nol Karbon (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian pertama tulisan, saya telah mengulas tentang bagaimana isu pemanasan global sebagai hal yang mengkhawatirkan menurut pendapat sang Ndoro besar. (baca disini)

Cuma, ada beberapa kendala seputar teori yang dilontarkan oleh Maurice Strong tersebut. Yang pertama menyangkut kapabilitas seorang Maurice Strong dan tentunya yang kedua, ini akan berdampak pada konten teori yang diusungnya tersebut.

Maksudnya gimana?

Maurice Strong adalah seorang yang tidak mengeyam pendidikan formal hingga ke jenjang universitas. Saat Great Depression melanda AS, Maurice muda dipaksa putus sekolah pada usia 14 tahun dan dipaksa bekerja sebagai pekerja kasar di galangan kapal. (https://www.corbettreport.com/meet-maurice-strong-globalist-oiligarch-environmentalist/)

Kalo kemudian dia sukses karena kedekatannya dengan seorang David Rockefeller, itu lain cerita.

Masalah utamanya adalah bagaimana kita bisa anggap sahih teori yang dilontarkan oleh seorang yang nggak punya kemampuan akademik di bidangnya? Lain cerita kalo teori pemanasan global dilontarkan oleh seorang akademisi yang memang memahami bidang itu.

Dan ini berakibat fatal pada klaim teorinya tersebut.

Banyak orang yang lupa bahwa iklim bumi akan terus berubah dan berkorelasi dengan perubahan emisi jilatan matahari atau siklus bintik matahari. Jadi ini yang sesungguhnya mempengaruhi iklim bumi. (https://www.scientificamerican.com/article/sun-spots-and-climate-change/)

Disekitar pergantian milenium, ajaibnya siklus pemanasan yang disebabkan oleh matahari tersebut, tiba-tiba hilang. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1810336/)

Buru-buru, Al Gore dan konco-konconya bilang bahwa terjadi perubahan iklim akibat pemanasan global. Dan lagi-lagi CO2 dituding sebagai biang kerok pemanasan global karena merupakan gas rumah kaca. (https://www.conserve-energy-future.com/al-gore-and-global-warming.php)

Menurut teorinya, CO2 merupakan gas yang entah bagaimana naik ke atmosfer dan membentuk selimut yang pada akhirnya memicu efek panas pada bumi. Jadilah pemanasan global.

Apa iya demikian adanya?

Hal terpenting yang harus anda ketahui bahwa CO2 bukanlah karbon atau jelaga. CO2 adalah gas yang tak terlihat serta tidak berbau yang diperlukan untuk proses fotosintesis pada tanaman dan juga semua proses hidup yang ada di bumi.

Selain itu, CO2 memiliki berat molekul 44, sedangkan udara (terutama oksigen dan nitrogen) berat molekulnya hanya 29.

Dengan berat jenis CO2 sekitar 1,5 kali berat udara, artinya gas buang CO2 dari kendaraan dan pembangkit listrik nggak akan naik ke atmosfer yang jaraknya 12 mil atau lebih dari bumi apalagi membentuk efek rumah kaca seperti yang kita pelajari selama ini. Dimana logikanya? (http://mtidealer.stratumsites.com/images/COAlarmInstallationHeight.pdf)

Sampai sini, anda paham duduk masalahnya kan?

Lalu, kalo sumber energi hidrokarbon dilarang, penggantinya apa?

Untuk menjawab ini, kita perlu flashback ke tahun 2011, dimana pemerintah Jerman atas saran Prof. Hans Joachim Schnellnhuber selaku Direktur Postdam Institute for Climate Impact Research akan memberlakukan larangan total penggunaan listrik bertenaga nuklir di tahun 2022. (https://www.smh.com.au/environment/climate-change/green-superpower-germany-plots-the-way-to-a-lowcarbon-world-by-closing-grafenrheinfeld-nuclear-power-plant-20150616-ghpbcf.html)

Ini adalah bagian dari strategi pemerintah Jerman di tahun 2001 tentang Energy Turn dimana negara akan menggunakan energi terbarukan (seperti tenaga surya dan angin) untuk mewujudkan negara industri pertama di Eropa yang ‘netral karbon’ alias nggak pakai sumber energi hidrokarbon sama sekali.

Masalah muncul saat strategi yang dijalankan tersebut ternyata menemukan beberapa kendala. Pertama butuh biaya besar dalam membuat jaringan listrik bertenaga angin/surya, namun harga energi yang dijual nggak imbang.

Asal tahu saja, bahwa energi yang dihasilkan energi angin dan matahari harganya sekitar 7-9 kali lebih mahal dari energi yang dihasilkan gas. (https://stopthesethings.com/2020/07/27/simply-staggering-what-weather-dependent-wind-solar-really-costs/)

Dan kedua kalo pembangkit nuklir di Jerman ditutup, maka Jerman akan mengalami krisis energi listrik di tahun 2023. (https://www.ecologic.eu/sites/files/publication/2019/3537-kohlereader_englisch-final.pdf)

Sialnya di saat yang sama, batu bara dan energi hidrokarbon lainnya sedang dihapus secara besar-besaran, guna mencapai kondisi ‘Nol Karbon’.

Padahal banyak industri bergantung pada hidrokarbon sebagai sumber energi murah. Dengan kondisi tersebut, bisa dipastikan krisis energi akan makin parah kondisinya. Bukan nggak mungkin, akan ada pemadaman bergilir dipicu oleh kelangkaan energi listrik.

Efek domino yang mungkin terjadi, biaya produksi menjadi lebih mahal, dan akibatnya bisa dua: harga barang jadi lebih mahal, dan akan banyak pengangguran karena perusahaan akan memangkas ongkos produksi agar harga bisa ditekan di pasaran.

Dan Jerman bersiap untuk kehilangan jutaan tenaga terampil sebagai imbasnya.

Masalah nggak berhenti sampai disitu, mengingat kalo Jerman hendak mengganti energi hidrokarbon ke sumber energi terbarukan seperti matahari, pertanyaannya: memangnya Jerman negara tropis yang berlimpah sinar mataharinya. Kan, nggak. Terus dapat energi darimana?

Kedua, let’s say jika Jerman hendak berpaling ke energi angin sebagai energi terbarukan, maka Jerman akan membutuhkan input berupa beton dan aluminium yang sangat besar.

Dan untuk menghasilkan beton dan aluminium, jelas butuh industri murah sebagai pemasoknya, yang tentu saja membutuhkan bahan bakar hidrokarbon atau nuklir sebagai sumber energinya.

Kebayang dong, kalo industri murah ditutup secara bertahap karena kebijakan ‘Nol Karbon’, maka biaya yang harus dikeluarkan pemerintah Jerman akan makin membengkak. Dan ini jelas masalah tersendiri untuk mewujudkannya.

Lalu, akan kemana muara dari The Great Zero Carbon?

Saya akan ulas pada bagian ketiga nanti.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Yang Kaya Makin Kaya

Yang Kaya Makin Kaya Oleh: Ndaru Anugerah Kebijakan penutupan alias lockdown yang dipicu oleh hadirnya pandemi, mengakibatkan kebangrutan dan pengangguran secara

Read More...

Misteri MH370

Misteri MH370 Oleh: Ndaru Anugerah 8 Maret 2014. Sebuah pesawat komersial bernomor penerbangan MH370 yang mengangkut 239 penumpang dan awaknya hilang

Read More...

Memang Apa Bahayanya?

Memang Apa Bahayanya? Oleh: Ndaru Anugerah Saya terharu membaca pesan-pesan yang diberikan para pembaca setia saya. Mayoritas mengucapkan rasa terima kasihnya

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu