LOADING

Type to search

Sstt, Dunia Mau Diatur Ulang (*Bagian 1)

Sstt, Dunia Mau Diatur Ulang (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Kapan pandemi Kopit akan berakhir? Akankah vaksinasi mengakhiri pandemi? Bagaimana nasib dunia pasca Kopit? Apakah dunia akan sama atau justru sama sekali berbeda manakala status pandemi dikatakan berakhir? Apa maksud sertifikat digital? Mengapa perlu didengungkan status new normal?

Itu baru sebagian dari begitu banyak pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab oleh orang awam. Tapi kalo anda jeli akan peta geopolitik dengan melihat lewat papan catur yang sedang dimainkan, anda akan paham kemana skenario akan bergulir.

Saya akan coba bantu anda kasih ilustrasi tentang skenario tersebut. Hanya saja, mengingat informasi yang akan saya sampaikan lumayan banyak, terpaksa saya akan break analisa saya ke dalam 3 bagian.

Tanpa berlama-lama, saya akan mulai analisa saya.

Proyek pandemi bertajuk Kopit, bukan proyek asal-asalan yang digarap dalam waktu setahun atau dua tahun. Kalo anda baca dokumen yang dikeluarkan Rockefeller Foundation pada 2010 tentang skenario lockstep, setidaknya butuh waktu 1 dasawarsa untuk mengeksekusinya. (https://www.gracevanberkum.com/post/2010-rockefeller-lock-step-document-coming-to-life-right-now-time-to-wake-up)

Dan tentunya, butuh banyak simulasi sebelum rencana induk dilaksanakan. (baca disini dan disini)

Untuk mengetahui kemana pandemi ini akan bermuara, anda perlu tahu dulu kerusakan yang ditimbulkan pada sektor eknonomi dan sosial secara global.

Akibat penutupan (lockdown), gelombang kebangkrutan terjadi secara massal. Menurut survei yang dilakukan oleh International Trade Center di 132 negara yang dikutip oleh OECD, dua pertiga usaha kecil dan menengah sangat terpengaruh kebijakan lockdown dan kurleb seperlimanya berisiko tutup secara permanen hanya dalam waktu 3 bulan.

Bahkan lembaga survei McKinsey menyatakan hal yang kurleb sama, bahwa 25%-36% usaha kecil bakal bangkrut permanen hanya dalam 4 bulan diberlakukannya lockdown. (https://www.oecd.org/coronavirus/policy-responses/coronavirus-covid-19-sme-policy-responses-04440101/)

Di AS sendiri, proses kebangkrutan sedang berlangsung, dimana perusahaan-perusahaan swasta di AS telah berhutang sekitar USD 10,5 trilyun akibat lockdown per April 2020 silam Dan ini merupakan ledakan utang perusahaan swasta terbesar sepanjang sejarah AS. (https://www.nytimes.com/2020/06/18/business/corporate-bankruptcy-coronavirus.html)

Bagaimana dengan bisnis kecil di AS? 11-12.

Laporan yang dibuat OECD menyatakan hampir 90% usaha kecil terdampak kuat pandemi, dimana 45% bisnis mereka bakal mengalami gangguan akut pada rantai pasokan, dan parahnya hanya 25% bisnis kecil punya cadangan kas yang cukup untuk 2 bulan saja.

Bahkan hampir 50% pemilik bisnis kecil di AS percaya bahwa usaha mereka akab gulung tikar selamanya akibat pandemi. (https://www.alignable.com/forum/alignable-48-of-small-businesses-risk-closing-for-good-new-poll)

Dengan bangkrutnya usaha kecil dan menengah, efek domino lainnya adalah meningkatnya angka pengangguran. International Labour Organization (ILO) mencatat laporannnya di bulan Agustus 2020 silam, “Hampir 400 juta pekerja penuh waktu kehilangan pekerjaannya akibat pandemi.” (https://www.ilo.org/global/about-the-ilo/newsroom/news/WCMS_755875/lang–en/index.htm)

Angka itu kurang dramatis, karena ILO menyatakan kurleb 1,6 milyar pekerja perekonomian informal secara global juga kena impasnya akibat Kopit. Dan sektor yang paling terpukul adalah perdagangan ritel, akomodasi, layanan makanan serta manufaktur.

Namun sayangnya ILO nggak jujur dalam kasih laporan. Bahwa yang menyebabkan kebangkrutan bukanlah Kopit melainkan kebijakan pemerintah yang menerapkan lockdown. Dan pemerintah dipaksa menerapkan lockdown karena berhutang pada lembaga Bretton Woods milik sang Ndoro besar.

Dan parahnya, ditengah situasi menganggur, tunjangan pengangguran yang biasanya diberikan di beberapa negara termasuk di AS, terpaksa dihapus dengan alasan klasik bahwa negara nggak punya ‘uang cukup’ untuk diberikan. (https://tcf.org/content/report/12-million-workers-facing-jobless-benefit-cliff-december-26/)

Kalo sudah menganggur dan nggak punya uang untuk bertahan hidup, kemudian apa yang mungkin akan terjadi? Tepat sekali. Bencana kelaparan.

Ini bukan mengada-ada, karena menurut laporan FAO pada Juli 2020 silam, setidaknya 25 negara berkembang di seluruh dunia dibawah bayang-bayang wabah kelaparan dipicu oleh krisis pangan. (https://news.un.org/en/story/2020/07/1068601)

Bahkan krisis pangan yang sebelumnya ada, menjadi diperburuk dengan hadirnya pandemi. Dan ini nggak butuh waktu lama, karena akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang dimana orang akan menderita kelaparan akut. (http://www.fao.org/3/cb0258en/CB0258EN.pdf)

Kalo sudah kelaparan, akankah kesehatan tidak terkena dampaknya? Ya otomatis darurat pangan akan memicu darurat kesehatan. Titik.

Bukan hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga melanda banyak penduduk dunia, diantaranya sakit jiwa dan bunuh diri. Dan ini diperburuk dengan penetapan jarak sosial pada masyarakat. (https://jamanetwork.com/journals/jamapsychiatry/fullarticle/2764584?guestAccessKey=c40eefb2-c634-47ed-b3c3-f00b005e3cf2&utm_)

Coba anda bayangkan. Kehilangan pekerjaan saja sudah berat, terus sama pemerintah ‘dikurung’, apa nggak depresi. Dan orang yang depresi sangat mudah untuk melakukan aksi bunuh diri.

Lalu, apa hanya itu saja dampak dari penutupan akibat Kopit?

Sektor pendidikan juga nggak kalah set.

UNICEF memprediksi akan ada sekitar 1,6 milyar anak dan remaja di seluruh dunia yang terkena dampak karena penutupan sekolah. “Dampak penutupan sekolah menyasar 91% siswa di seluruh dunia,” demikian ungkapnya. (https://www.unicef.org/coronavirus/keeping-worlds-children-learning-through-covid-19)

Lebih buruk lagi, anak-anak yang kini tidak bersekolah akibat gedung sekolah ditutup sangat berpotensi untuk mejadi generasi yang hilang. Dan jangan bicara soal cita-cita pada generasi yang hilang. Bisa jadi itu menimpa anak anda, bukan? (https://www.unicef.org/press-releases/unicef-calls-averting-lost-generation-covid-19-threatens-cause-irreversible-harm)

Pertanyaan sederhana: dengan semua kondisi yang telah saya paparkan, apakah kejadian ini by coincidence atau by design? Tentu saja by design, kecuali anda terlalu naif untuk tidak mengakuinya.

Lalu siapa yang berkepentingan? Dan akan mengarah kemana semua bencana ini?

Apa tujuan semua kehancuran yang dipicu oleh krisis Corona?

Pada bagian kedua saya akan membahasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Tags::

8 Comments

  1. Yitardi pristiwanto January 30, 2021

    Sstt, Dunia Mau Diatur Ulang (*Bagian 2) belum ya Mas Ndaru ??

    Reply
    1. admin January 30, 2021

      Sdh penasaran ya? Yg lain byk jg nanyain. Sabar ya..?

      Reply
  2. Toha January 30, 2021

    Siap nunggu bagian 2

    Reply
  3. Yitardi pristiwanto February 18, 2021

    Ini lagi ramai tentang vaksin merah putih made in putra bangsa (Aivita Biomedical.Inc), yg ternyata juga dibawah naungan Gavi. Mas Ndaru bisa jelasin keterkaitanya Mas. Turnuwun?

    Reply
    1. Denny February 19, 2021

      Lebih tepatnya, teknologi apa yg akan digunakan maksudnya mRNA atau inactivated. Ada info Bang Ndaru ?

      Reply
      1. admin February 20, 2021

        sabar ya. nanti saya akan jawab.

        Reply
  4. D***** February 20, 2021

    Sy salah satu pemerannya, dalam antrian hari Rabu kemarin mungkin masih menggunakan inactivated

    Reply
  5. banderaz July 2, 2021

    Mas, Saya masih heran kenapa Ndoro Besar para maniak itu masih menginginkan dominasi lebih gila dan gila lagi, padahal sejak WW2 dominasi mereka sudah jelas makin kuat. Sebenarnya motif apa saja yang mendorng mereka terus melakukan tekanan ke penduduk bumi ini. Apakah untuk kesenangan, Pengorbanan, kalau menurut mas Ndaru apa di otak mereka kira2 mas.

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Up

error: Content is protected !!