Dark Winter (*Bagian 2)


516

Dark Winter (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian pertama tulisan saya sudah mengulas bagaimana suatu rencana besar bertajuk ‘Dark Winter’ akan digelar pada musim dingin kali ini. (baca disini)

Sebelum lanjut, ada baiknya anda tahu apa koneksi simulasi Dark Winter yang dilakukan pada 2001 silam dengan skenario yang akan dikembangkan saat ini.

Adalah Robert Kadlec yang memberikan nama sandi simulasi Dark Winter. Siapa Kadlec? Kadlec merupakan mantan veteran saat pemerintahan George W. Bush sekaligus kontraktor intelijen dan juga kontraktor militer. (https://mintpressnews.cn/head-of-the-hydra-the-rise-of-robert-kadlec/267584/)

Dan saat ini Kadlec dipercaya untuk memimpin tim tanggapan Kopit di Health and Human Services (HHS) pada pemerintahan Trump. Apakah cuma kebetulan?

Sebelum pandemi berlangsung, ada juga beberapa simulasi lainnya yang digelar.

Pertama ada Event 201 yang berlangsung pada 18 Oktober 2019. Event 201 disokong penuh oleh John Hopkins Center for Health Security, World Economic Forum dan nggak ketinggalan Bill and Melinda Gates Foundation. (https://www.centerforhealthsecurity.org/event201/about)

Dan secara kebetulan, John Hopkins Center for Health Security saat ini dipimpin oleh penulis Dark Winter, Thomas Inglesby. (http://www.centerforhealthsecurity.org/our-people/inglesby/)

Secara teknis, acara dibuat sebagai latihan pandemi tingkat tinggi. Pada simulasi tersebut, dunia dipukul oleh hadirnya pandemi virus Corona yang dikasih nama CAPS (Coronavirus Acute Pulmonary Syndrome).Dalam simulasi tersebut ada sekitar 65 juta orang yang sekarat.

Bukan itu saja. Pada simulasi tersebut, dunia dipaksa melakukan lockdown massal, karantina, dan juga penyensoran alih-alih memerangi ‘disinformasi’ selain penangkapan orang-orang yang kerap mempertanyakan narasi resmi dari pandemi tersebut. Kenapa bisa mirip dengan situasi saat ini?

Dan ajaibnya, salah satu pemain Event 201 adalah Dr. Michael Ryan yang saat ini bertugas sebagai kepala tim WHO yang bertanggungjawab atas pengobatan Kopit sedunia. (nmt4&u=https://www.who.int/director-general/who-headquarters-leadership-team)

Simulasi kedua adalah Crimson Contagion yang berlangsung pada 13-16 Agustus 2019. Simulasi ini disokong penuh oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) yang dipimpin oleh Alex Azar.

Apa yang disimulasikan? Adanya serangan virus pernafasan yang berasal dari China yang kemudian menyerang seantero AS. (https://www.nbcchicago.com/news/local/crimson-contagion-2019-simulation-warned-of-pandemic-implications-in-us/2243832/)

Berdasarkan simulasi tersebut, penyebaran virus novel avian influenza (H7N9) mengakibatkan 110 juta warga AS tertular, 7,7 juta rawat inap, dan mendatangkan 586.000 kematian. (https://int.nyt.com/data/documenthelper/6824-2019-10-key-findings-and-after/05bd797500ea55be0724/optimized/full.pdf)

Dan ketiga ada simulasi yang dinamakan Clade X yang berlangsung pada Mei 2018 silam. Pada simulasi tersebut disebutkan akan adanya serangan virus yang bernama Clade X yang disebarkan oleh kelompok teror bernama A Brighter Dawn. (https://www.centerforhealthsecurity.org/our-work/events/2018_clade_x_exercise/about-clade-x)

Akibat serangan teror tersebut, virus menyebar ke seluruh AS, dan pemerintah dipaksa mengeluarkan status karantina federal. (https://www.npr.org/transcripts/621350272)

Tebak siapa tokoh yang berada dibalik simulasi Clade X tersebut?

Dialah Tara O’Toole sebagai penulis naskah Dark Winter. Apa kebetulan lagi? (https://www.centerforhealthsecurity.org/our-work/events/2018_clade_x_exercise/players/otoole/index.html)

Apa yang bisa disimpulkan? Dalam menggodok masalah, nggak cukup hanya 1 simulasi digelar. Perlu berulang-ulang dengan berbagai skenario, agar kelak bila rencana utama digelar, semua hal yang mungkin terjadi bisa diantisipasi. Luar biasa.

Dan kedua, ada kaitan erat antara pemain utama pada simulasi tersebut dengan pihak intelijen AS dan juga Departemen Pertahanan AS.

Kalo sudah begini, lantas apa kira-kira proyek apa yang akan digelar? Nggak mungkin jug akan gelar proyek posyandu yang melibatkan emak-emak rempong?

Bagi saya, ada 2 kemungkinan ‘skenario’ besar yang mungkin digelar, berkaitan dengan simulasi tersebut.

Pertama akan ada lockdown jilid 2 yang akan diberlakukan di AS sana dan juga negara-negara Eropa lainnya. Ini nggak berlebihan, mengingat kasus Kopit di dunia kini tengah meningkat. Dan sialnya, ini terjadi pada musim dingin kali ini. (https://www.newscientist.com/article/2258904-europes-second-wave-of-coronavirus-is-starting-to-eclipse-the-first/)

Dan skenario kedua, akan ada skenario rusuh pasca pilpres di AS sana. Potensi itu cukup besar, mengingat masing-masing kubu mulai ancang-ancang untuk menolak hasil pilpres apapun keputusannya. (https://www.nbcnews.com/politics/2020-election/hillary-clinton-says-biden-should-not-concede-2020-election-under-n1238156)

Ini nggak berlebihan. Boston Globe kasih laporan bahwa suatu kelompok rahasia yang bernama Transition Integrity Project (TIP) telah menggelar simulasi pasca pilpres AS jauh-jauh hari sebelumnya. (https://www.bostonglobe.com/2020/07/25/nation/bipartisan-group-secretly-gathered-game-out-contested-trump-biden-election-it-wasnt-pretty/)

Dalam simulasi tersebut salah satu skenario-nya adalah bahwa Trump kalah namun menolak hasil pilpres. Nah jeda 11 minggu antara pilpres dan hari pelantikan 20 Januari 2021 mendatang inilah yang rawan terjadi konflik horizontal, karena kedua kubu sama-sama saling ngotot untuk menang.

Dan kini, gejala ke arah sana sudah mulai terlihat. (https://www.bbc.com/news/election-us-2020-54274115)

Satu yang perlu anda tahu. TIP beranggotakan kaum neokon yang anti Trump dan terlibat aktif semasa pemerintahan Obama dulu.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!