Dark Winter (*Bagian 1)


516

Dark Winter (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada Mei 2020 silam, Dr. Rick Bright selaku mantan Direktur Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) membuat pernyataan penting di depan Kongres AS.

Tanpa perencanaan dan implementasi yang jelas bagi pemerintahan AS, maka saya dan para ilmuwan lainnya memperingatkan akan datangnya musim dingin tergelap dalam sejarah modern,” begitu ungkap Dr. Bright. (https://www.cnn.com/2020/05/13/politics/rick-bright-testimony-congress/index.html)

Dr. Bright bisa ngomong begitu, menanggapi lambannya pemerintahan Trump dalam mengantisipasi pandemi si Kopit.

Selanjutnya, pada Juli 2020 yang lalu, Direktur CDC AS, Robert Redfield memperkirakan bahwa pada musim gugur 2020 dan musim dingin 2021 akan ada ‘masa sulit’ bagi kesehatan masyarakat AS. (https://www.cnn.com/world/live-news/coronavirus-pandemic-07-14-20-intl/h_0a1e9579c6acb8adc5a8cd454f221d59)

Kenapa Redfield bisa mengatakan hal demikian?

Karena si Kopit belum kelar, eh malah datang lagi flu musiman. Akibatnya si Kopit dan flu musiman tersebut bercampur menghasilkan kombinasi yang ‘sempurna’.

Kalo disederhanakan bahasanya, ‘akan ada wabah besar’ yang bukan nggak mungkin akan mendorong angka kematian secara besar-besaran, di Amrik sana. (https://healthimpactnews.com/2020/the-cdc-is-planning-for-massive-deaths-this-fall/)

Gayung bersambut.

Pada debat pilpres yang lalu, kandidat Demokrat Joe Biden juga bilang bahwa AS akan mengalami musim dingin yang gelap alias dark winter, mengingat vaksin bagi si Kopit baru akan tersedia bagi warga AS pada pertengahan tahun 2021. (https://www.politico.com/news/2020/10/22/biden-dark-winter-america-431399)

Artinya apa?

Akan ada potensi dimana jumlah kasus si Kopit akan meningkat dengan tajam seiring datangnya musim dingin. Dan kondisi ini diperburuk dengan musim flu tahunan yang menjadi momok di Amrik sana.

Di tahun 2019 saja, total kematian akibat seasonal flu mencapai 34.200 jiwa. Gimana jadinya kalo dikombinasikan dengan si Kopit? (https://www.cdc.gov/flu/about/burden/2018-2019.html#:~:text=CDC%20estimates%20that%20influenza%20was,2012%E2%80%932013%20influenza%20season1.)

Dari 3 tokoh penting tersebut, bisa ditarik benang merahnya bahwa akan ada peristiwa ‘besar’ di musim dingin kali ini. Media mainstream kerap menyebutnya dengan istilah dark winter.

Apa itu dark winter?

Dark Winter sendiri merupakan sandi bagi simulasi pandemi yang dilakukan beberapa bulan sebelum serangan ‘teror’ 9/11 bertempat di pangkalan AU Andrews, Camp Springs, Maryland. Jadi bukan barang baru. (https://www.thelastamericanvagabond.com/all-roads-lead-dark-winter/)

Beberapa orang terlibat pada simulasi itu, mulai dari anggota Kongres, pejabat pemerintah, mantan Direktur CIA, mantan Direktur FBI dan insan pers yang punya ‘hak khusus’.

Memang apa yang disimulasikan?

Akan adanya serangan teroris yang menggunakan virus cacar sebagai senjata biologis, terhadap warga AS.

Dalam mengantisipasi serangan teror tersebut, maka pemerintah AS buat langkah-langkah pencegahan, antara lain: menghentikan penyebaran informasi ‘berbahaya’ yang tidak selaras dengan narasi resmi pemerintah, termasuk upaya alternatif penyembuhan yang dianggap tidak legal.

Bukan itu saja. Pemerintah AS juga bakal mengaktivasi The Insurrection Act yang memungkinkan pihak militer menerapkan darurat perang guna mengatasi situasi tersebut.

Apa saja itu? Macam-macam, mulai dari larangan berkumpul, larangan melakukan perjalanan hingga surat perintah penangkapan tanpa adanya proses hukum.

Aliasnya, yang namanya kebebasan sipil yang sangat dijunjung tinggi di AS sana, otomatis nggak berfungsi.

Memang siapa yang mendisain skenario dark winter tersebut?

4 orang, yaitu: Tara O’Toole, Thomas Inglesby, Randy Larsen dan Mark DeMier. O’Toole dan Inglesby berasal dari John Hopkins Center, sedangkan Larsen dan DeMier berasal dari lembaga Analytic Services (ANSER) yang berfungsi untuk menjamin keamanan dalam negeri AS.

Lantas apa kaitan simulasi Dark Winter yang dibesut pada 2001 silam, dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh 3 orang sebelumnya di masa pandemi kali ini?

Dan apakah implikasi dari pernyataan tersebut pada skenario ke depannya?

Kita lanjut pada bagian kedua nanti.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!