Skenario Gelombang Panas Arahnya Kemana?


533

Skenario Gelombang Panas Arahnya Kemana?

Oleh: Ndaru Anugerah

Heat wave alias gelombang panas yang terjadi saat ini, sudah sangat menguatirkan. (https://newsrnd.com/news/2022-07-24-heat-waves–what-is-coming-is-worse.HJS_Qs529.html)

Ambil contoh di Perancis, dimana suhu akibat gelombang panas tersebut, bahkan mencapai lebih dari 40 derajat Celcius. Dan ini secara langsung berimbas pada berkurangnya pasokan air bagi negara tersebut. (https://www.ft.com/content/887170b2-99ed-4c78-96a0-f40273cadc10)

Saking panasnya, puluhan ribu hektar lahan pertanian, bahkan terbakar.

Dampaknya bukan saja hasil pertanian yang gagal panen, namun juga pembangkit listrik tenaga nuklir yang ada di sana nggak bisa dipakai secara maksimal, akibat keringnya cadangan air yang ada di sungai-sungai utama negara tersebut.

Untuk mendinginkan PLTN, bukankah membutuhkan air yang sangat banyak? (https://www.theguardian.com/business/2022/aug/03/edf-to-reduce-nuclear-power-output-as-french-river-temperatures-rise)

Itu di Perancis.

Lain lagi ceritanya di Kanada, karena gelombang panas bukan saja memicu kondisi gagal panen, tapi juga menyebabkan unggas mati kepanasan. (https://financialpost.com/commodities/agriculture/extreme-heat-and-drought-in-western-canada-wreak-havoc-on-food-system)

Kondisi cuaca panas juga dialami Swiss, dimana kawanan sapi rawan kehausan dan dapat menyebabkan ternak tersebut mati. Guna mengatasi masalah ini, bahkan aparat keamanan diperbantukan agar para sapi nggak mati kehausan. (https://www.ft.com/content/d4d75c22-3a14-4a6a-bd8f-4aaff510557f)

Dan terakhir, cuaca panas juga menghantam negara Kincir Angin, yang mengakibatkan negara tersebut kekurangan pasokan air bagi warganya. (https://www.vrt.be/vrtnws/nl/2022/08/10/rijn-vanaf-eind-deze-week-onbevaarbaar-voor-vrachtschepen/)

Jadi kalo bisa dikatakan, bahwa gelombang panas mengakibatkan bukan saja kekeringan yang berdampak pada gagalnya hasil panen dan juga peternakan.

Selain itu, heat wave juga menghantam cadangan air untuk bisa diminum oleh umat manusia, dan juga mematikan pembangkit listrik yang mengandalkan air sebagai materi utamanya.

Memangnya manusia bisa hidup lama tanpa air dan energi? Kan nggak.

Apa penyebab gelombang panas ini?

Kalo anda gali dari media mainstream, alasannya pasti sama: akibat pemanasan global.

Menurut banyak ilmuwan iklim, cuaca ekstrim akan terus terjadi karena bumi terus memanas. Akibatnya gelombang panas dan kekeringan, akan lebih sering terjadi. (https://www.knack.be/nieuws/gezondheid/vochtige-hitte-is-gevaarlijker-dan-eerst-gedacht/)

Nggak hanya itu, gelombang panas juga ditenggarai menyebabkan fenomena alam lainnya, semisal curah hujan ekstrim yang dapat mengakibatkan banjir. Ini sudah terjadi di Jerman dan Belgia pada tahun lalu. (https://edo.jrc.ec.europa.eu/edov2/php/index.php?id=1000)

Dan bila ini terus berlanjut, maka ke depannya milyar-an orang bakal kekurangan air untuk bertahan hidup, setidaknya satu bulan dalam setahun. Mengerikan, bukan? (https://www.economist.com/schools-brief/2020/05/30/climate-adaptation-policies-are-needed-more-than-ever)

Laporan mengerikan nggak berhenti sampai disitu, karena menurut penelitian yang dirilis oleh Dr. Luke Kemp dan rekan-nya menegaskan bahwa perubahan iklim bisa membawa kepunahan bagi umat manusia, kalo nggak segera ditangani. Climate endgame, istilah yang dipakainya. (https://www.pnas.org/doi/full/10.1073/pnas.2108146119)

Bisa dikatakan kalo narasi gelombang panas sama saja dengan narasi pemanasan global yang selama ini diusung oleh kartel sang Ndoro besar. “Akibat pemanasan global, maka gelombang panas bisa sering terjadi,” kira-kira demikian bunyinya. (https://www.nationalacademies.org/based-on-science/global-warming-makes-heat-waves-hotter-longer-and-more-common)

Sudah pasti, upaya untuk memajukan agenda yang dapat menghentikan pemanasan global, bakal terus dilakukan.

“Kita bisa menyelamatkan dunia atau justru mengirim umat manusia di masa depan ke neraka,” demikian ujar Sekjen PBB, Antonio Guterres. (https://www.theguardian.com/environment/ng-interactive/2021/oct/14/climate-change-happening-now-stats-graphs-maps-cop26)

Dan sudah jadi rumusan dasar jika segala hal yang berbau memicu pemanasan global bakal ‘dihajar’ satu persatu. Salah satunya pengurangan dan penghentian penggunaan bahan bakar fosil yang paling dianggap sebagai pemicu utama pemanasan global.

Kalo sudah begini, maka transisi energi (menuju energi terbarukan) sudah nggak bisa ditawar-tawar lagi. (https://www.economist.com/schools-brief/2020/05/23/the-worlds-energy-system-must-be-transformed-completely)

Ilustrasinya begini. Jika saat ini ‘pertalait’ susah untuk didapatkan, maka ke depannya 2 skenario yang mungkin terjadi: pertama dengan menaikkan harga ‘pertalait’ tersebut setinggi-tingginya sehingga orang nggak mampu lagi membelinya, atau kedua, stok-nya akan terus dikurangi hingga ‘nggak lagi tersedia alias ‘habis’ di pasaran.

Kalo sudah begini, jika anda pikir ‘petromax’ adalah solusi akhirnya, maka anda salah besar. Dengan mengulang skenario yang sama pada ‘pertalait’, apa susahnya skenario serupa diterapkan pada ‘petromax’?

Jadi kelangkaan bahan bakar fosil yang terjadi saat ini di daerah anda, memang muaranya untuk menghapus secara perlahan penggunaan bahan bakar tersebut bagi manusia. Ini sudah ada cetak birunya. (baca disini, disini dan disini)

Sekarang kalo saya ditanya sebagai seorang analis, apa penyebab gelombang panas yang terjadi saat ini?

Setahun yang lalu, saya sudah mengatakannya. Bukan pemanasan global sebagai biang keroknya, melainkan siklus matahari yang menyebabkan Grand Solar Minimum (GSM). Prof. Valentina Zharkova sudah menyatakan hal tersebut. (baca disini)

Jadi, ketidakstabilan cuaca akan terus mengakibatkan banyak bencana iklim (salah satunya gelombang panas) dan juga bencana alam, yang baru akan berakhir pada 2053 mendatang. (https://electroverse.net/we-entered-the-modern-grand-solar-minimum-on-june-8-2020/)

Dan sang Ndoro tahu akan prediksi yang dilakukan Prof. Zharkova.

Namun oleh sang Ndoro, skenario diplintir. Bukan GSM yang mengakibatkan gelombang panas, melainkan pemanasan global. Dan ini terus diamplifikasi oleh media mainstream sebagai corong propaganda sang Ndoro.

Dengan adanya gelombang panas ini, bukankah kelangkaan pangan global dan juga krisis energi, hanya tinggal menghitung hari saja?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


3 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!