Tipuan Bernama Bencana Iklim


523

Tipuan Bernama Bencana Iklim

Oleh: Ndaru Anugerah

“Kita hanya punya waktu sekitar 12 tahun untuk menyelamatkan Bumi terhadap bahaya iklim yang akan datang,” demikian risalah yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di tahun 2018 silam. (https://www.theguardian.com/environment/2018/oct/08/global-warming-must-not-exceed-15c-warns-landmark-un-report)

Singkatnya, temuan ini dibungkus dengan hype media, sukses membuat orang sedunia ‘ketakutan’ akan bahaya iklim yang diungkapkan IPCC. Dan ini adalah propaganda sejati, karena ketakutan adalah produk utama dari penggunaan ‘senjata’ propaganda.

Apakah demikian adanya?

Saya pernah bahas bahwa setidaknya 1500 ilmuwan dan juga professor iklim ternama di planet Bumi yang tersebar di 30 negara, justru menampik paparan yang dikemukakan IPCC. “Nggak ada darurat iklim, apalagi yang disebabkan manusia,” demikian kurleb deklarasi yang mereka keluarkan. (https://clintel.org/world-climate-declaration/)

Sebelum lanjut, ada baiknya anda baca ulasan saya tentang hal ini. (baca disini dan disini)

Dengan kata lain, darurat iklim nggak pernah ada seperti yang digambarkan.

Yang benar adalah iklim berubah secara alami dan perlahan karena siklusnya sendiri, dimana matahari merupakan faktor dominan dalam iklim dan bukannya polutan CO2 yang menyebabkan iklim berubah.

Merujuk pada laporan yang dirilis Climate Intelligence (Clintel), CO2 bukanlah polutan seperti yang digambarkan oleh ilmuwan IPCC. Nyatanya CO2 adalah makanan nabati dan dasar dari semua kehidupan di bumi. “CO2 mendorong pertumbuhan biomassa tanaman global, dengan demikian dapat meningkatkan hasil panen di seluruh dunia,” demikian ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan klaim yang diungkapkan IPCC bahwa pemanasan global dapat memicu bencana?

Clintel menyatakan bahwa nggak ada bukti statistika bahwa pemanasan global dapat memicu bencana alam semisal badai, banjir dan kekeringan. Apalagi klaim kosong yang menyatakan bahwa pemanasan global dapat membuat bencana alam menjadi lebih sering terjadi.

Nggak ada itu.

Bahkan Profesor Richard Lindzen yang merupakan pakar Ilmu Atmosfer asal Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan gamblang menyatakan bahwa ide CO2 yang dianggap sebagai racun yang mematikan bagi kehidupan merupakan khayalan terbesar sepanjang sejarah alias halu. (https://iowaclimate.org/2021/06/11/richard-lindzen-on-climate-change/)

“CO2 bukanlah polutan melainkan produk respirasi tanaman yang sangat penting untuk kehidupan tanaman dan aktivitas fotosintesisnya,” unkap Prof. Lindzen. (http://www.populartechnology.net/2008/11/carbon-dioxide-co2-is-not-pollution.html)

Dr. Nils-Axel Morner yang merupakan mantan Ketua IPCC, juga angkat bicara soal ini dengan mengatakan bahwa IPCC telah menyesatkan umat manusia tentang bahaya perubahan iklim.

“Bukan CO2 yang menyebabkan perubahan iklim melainkan aktivitas matahari. Dan saya telah memeriksa laporan yang dibuat IPCC tentang hal ini,” ungkap Dr. Morner. (https://thenewamerican.com/un-ipcc-scientist-blows-whistle-on-un-climate-lies/)

Dan yang paling sat-set adalah Dr. Patrick Moore selaku pendiri organisasi lingkungan dunia, Greenpeace yang menyatakan bahwa bahaya iklim bukan hanya berita bohong melainkan ilmu kebohongan.

“Tentu saja perubahan iklim itu nyata sudah terjadi sejak awal waktu, tapi tidak berbahaya dan tidak juga disebabkan oleh aktivitas manusia,” ungkap Dr. Moore.

Dr. Moore menambahkan, “Perubahan iklim adalah fenomena alami yang sempurna dimulai sejak zaman es kecil berakhir di 300 tahun yang lalu, namun nggak perlu ditakuti karena memang nggak mendatangkan bahaya.” (https://www.ff.org/greenpeace-founding-member-the-whole-climate-crisis-is-not-only-fake-news-its-fake-science/)

Silakan anda baca ulasan saya tentang narasi palsu perubahan iklim yang dibantah keras oleh Dr. Patrick Moore. (baca disini dan disini)

Jika bisa disimpulkan, maka CO2 bukanlah agen perubahan iklim seperti yang dituding IPCC.

“Justru makin banyak CO2, maka makin menguntungkan Bumi,” ungkap Prof. William Happer dari Universitas Princeton. (https://www.climatedepot.com/2021/12/03/princeton-physicist-dr-will-happer-is-climate-change-a-problem-the-answer-is-no-its-not-a-problem-at-all-co2-is-not-a-problem-at-all/)

Bagaimana IPCC memformulasikan laporannya? Bagaimana mereka punya kesimpulan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia adalah hal yang nyata?

Jawabannya sama dengan plandemi Kopit, dimana mereka melakukan pemodelan dengan menggunakan simulasi komputer.

Dengan pemodelan komputer tersebut IPCC langsung ambil kesimpulan bahwa perubahan iklim itu ada dan nyata. Sehingga ini nggak didasarkan pada bukti fisik yang ada, yang seharusnya jadi acuan seorang ilmuwan dalam membuat kesimpulan. (https://www.hoover.org/research/flawed-climate-models)

“Model komputer (yang telah dilakukan IPCC) membuat kesalahan dramatis secara sistematis, dimana semua hal diparametrikan dan dipalsukan, sehingga pemodelan-nya benar-benar nggak berfungsi sama sekali,” ungkap Dr. Patrick J. Michaels selaku Direktir Cato Institute Center for the Study of Science. (https://www.foxnews.com/transcript/dr-patrick-michaels-on-the-truth-about-global-warming)

Hal senada juga diungkapkan Dr. Roger Pielke Jr asal Universitas Colorado yang telah memeriksa laporan IPCC AR6 yang dirilis pada 2021 silam.

“Kaitannya dengan pemodelan iklim, IPCC telah melepaskan model dari kemungkinan sosio-ekonomi. Alih-alih menyelesaikan model penilaian integratif (AIM) terlebih dahulu, IPCC malah melewatkan langkah penting ini dan langsung beralih ke skenario pemaksaan radiasi. Dengan demikian pemodelan ini tidak didasarkan pada AIM yang seharusnya diperlukan,” ujar Dr. Pielke. (https://rogerpielkejr.com/2020/01/27/quick-links-to-my-recent-rcp8-5-series-of-articles/)

Lantas apa yang digunakan IPCC sebagai referensi pemodelannya?

Jawabannya: RCP alias Representative Concentration Pathways 8.5. Ada 4 jalur yang dipakai, dimana keempat jalur tersebut tidak berkaitan satu dengan yang lain. “Asumsi yang diambil IPCC dengan menggunakan RCP 8.5 sama sekali nggak terkait dengan realitas yang ada saat ini. Ini adalah fantasi liar semata,” tambah Dr. Pielke.

Kemana semua ini akan bermuara?

Silakan anda lihat Agenda PBB 2030 dan juga Paris Agreement. Keduanya dengan jelas menyatakan niatnya untuk mengurangi emisi CO2 sebesar 7% per tahun hingga tahun 2030 mendatang. (https://www.theguardian.com/environment/2019/nov/26/united-nations-global-effort-cut-emissions-stop-climate-chaos-2030)

Apa jadinya jika skenario ini dijalankan sesuai rencana?

Yang pasti akan ‘menghantam’ mekanisme sumber daya ekonomi dan industri yang selama ini menyediakan makanan, energi dan barang-barang kebutuhan lain yang diperlukan manusia untuk bisa bertahan hidup.

Jika skenario net zero carbon diterapkan, maka semua aspek dari mulai pertanian, industri, hingga transportasi yang memerlukan bahan bakar fosil akan ‘dipaksa’ berhenti untuk beroperasi, selamanya.

Akibatnya banyak orang akan menderita kelaparan, kekurangan barang hingga kekurangan pasokan listrik.

Satu yang perlu anda ingat bahwa proyek pengurangan emisi CO2 global juga mendapatkan endorsement berupa pendanaan dari Bank for International Settlements (BIS), dengan cara menggelontorkan dana jumbo kepada Gugus Tugas Pengungkapan Keuangan terkait Iklim (TCFD) ynag isinya kartel Ndoro besar. (https://data.parliament.uk/DepositedPapers/Files/DEP2019-0718/Green_Finance_Strategy.pdf)

Silakan anda baca analisa saya beberapa tahun yang lalu. (baca disini dan disini)

Sebagai penutup, monggo anda simpulkan sendiri atas apa yang sudah saya ulas.

Pertanyaannya: akankah skenario bencana iklim alias global warming a.k.a net zero carbon, bisa ditepis oleh pemimpin tatanan dunia multipolar sekelas China atau Rusia jika mereka turut menyukseskan agenda yang sama? (https://www.weforum.org/agenda/2022/06/china-emissions-global-warming-climate-change-2030/)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!