Rencana Tinggal Rencana?


518

Rencana Tinggal Rencana?

Oleh: Ndaru Anugerah

Apakah rencana induk sang Ndoro besar untuk membentuk tatanan dunia baru yang inklusif, berkeadilan dan bekelanjutan (yang termaktub dalam SDG 2030), berjalan sesuai rencana?

Menarik apa yang dikatakan oleh Sekjen PBB baru-baru ini.

Berbicara kepada publik global, Antonio Guterres menyatakan bahwa dunia justru nggak menjalankan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals). “Kita harus memiliki komitmen baru secara bersama,” ungkapnya. (https://news.un.org/en/story/2023/04/1136017)

Kenapa Guterres menyatakan hal itu?

Karena berdasarkan data kemajuan SDG yang dibuat PBB, angkanya nggak signifikan. Sementara dunia sudah setengah jalan menuju tengat waktu 2030, tapi sialnya baru 12% target SDG yang bisa diselesaikan sesuai rencana.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa SDG yang telah dicetuskan oleh PBB pada 2015 silam, berisikan 17 tujuan yang saling terkait dalam rangka mewujudkan masa depan yang lebih baik dan ‘berkelanjutan’ untuk semua orang di tahun 2030 mendatang. Setidaknya itu klaim-nya. (https://sdgs.un.org/goals)

Nah, untuk mencapai 17 tujuan tersebut, secara umum menurut Guterres kemajuannya cukup memprihatinkan. Bahkan 30% tujuan yang hendak dicapai SDG telah menunjukkan sinyal ‘macet’ atau malah mengalami kemunduran.

Jika trend ini terus berlanjut, maka hanya akan ada sekitar30% negara anggota PBB yang bakal mencapai agenda SDG1 yang berfokus pada kemiskinan di tahun 2030 mendatang. Dan ini melenceng jauh dari target, mengingat tujuan yang hendak dicapai nggak melulu soal kemiskinan.

“Kecuali kita bertindak sekarang, maka Agenda 2030 akan menjadi prasasti bagi dunia yang mungkin pernah terjadi,” ungkap Guterres. (https://www.un.org/sg/en/content/sg/speeches/2023-04-25/secretary-generals-remarks-launch-the-special-edition-of-the-sustainable-development-goals-progress-report)

Lantas mengapa seorang Guterres bersuara lantang soal ini?

Dengan kinerja model gini, sang Ndoro Besar mau bilang kalo dirinya nggak bisa kerja secara optimal. “Lu gua taruh diposisi itu, bisa kerja nggak sih?” begitu kurleb-nya.

Padahal sederet ‘bantuan’ telah digelontorkan, utamanya sejak plandemi Kopit melanda dunia. Namun tetap saja, indeks kemajuan SDG nggak berjalan sesuai dengan rencana.

Misalnya aktivasi Special Drawing Rights (SDR) di tahun 2021 silam oleh International Monetary Funds (IMF), yang alokasi pendanaannya mencapai USD 650 milyar. (https://www.imf.org/en/News/Articles/2021/07/30/pr21235-imf-governors-approve-a-historic-us-650-billion-sdr-allocation-of-special-drawing-rights)

Atau Stimulus SDG, dimana komitmen sesame anggota G20 dalam mencapai tujuan SDG 2030, dengan cara memberikan bantuan keuangan sebesar USD 500 miliar. (https://asia.nikkei.com/Opinion/G-20-nations-should-commit-500bn-a-year-to-SDG-Stimulus)

Pada tataran operasional, maka stimulus yang diajukan sejak Februari silam oleh Guterres, diperlukan untuk pembiayaan jangka panjang dengan ‘bunga’ yang terjangkau bagi negara-negara peserta yang membutuhkannya dalam rangka pencapaian tujuan SDG. (https://news.un.org/en/story/2023/02/1133637)

Sejak kapan bantuan IMF dengan bunga ‘ringan’ bisa mengentaskan kemiskinan bagi negara yang menerimanya? (https://www.yesmagazine.org/economy/2020/09/16/failing-global-economy)

Dan masih ada beberapa lagi ‘bantuan’ yang telah diberikan dalam rangka mewujudkan agenda 2030.

Tapi sialnya, semua itu seperti nggak berjalan dengan baik.

Nggak aneh jika sekelas Guterres akhirnya ‘teriak’ lantang soal ini.

Apakah lantas upaya ini akan kandas di tengah jalan?

Tentu saja tidak. Masih ada beberapa rencana lain yang perlu dibuat, agar rencana induk bisa berjalan dalam koridornya.

Misalnya rencana KTT SDG yang akan berlangsung di New York pada 19-20 September mendatang. Ini perlu digelar agar semua anggota PBB menegaskan kembali komitmennya dalam mewujudkan agenda 2030. (https://www.un.org/en/conferences/SDGSummit2023)

“Masa iya sudah dikasih segudang stimulus, kok komitmen-nya nggak ada sama sekali pada pihak yang sudah kasih utangan?”

Dan yang tak kalah penting adalah rencana menggelar KTT Masa Depan (Summit for the Future) yang akan berlangsung di tahun depan.

Jadi, saat kepala-kepala negara di dunia berkumpul di tahun depan, akan ada penandatanganan nota kesepahaman atau pakta untuk menjalankan agenda 2030 pada masing-masing negara. Bahasa kerennya ‘menghembuskan kehidupan baru ke dalam sistem multilateral’. (https://www.un.org/en/common-agenda/summit-of-the-future)

Untuk apa pakta tersebut ditanda tangani?

Nggak lain untuk mengatur, memantau, mengontrol dan mengarahkan semua kehidupan yang ada di kolong jagat. Namun tujuan ini disamarkan dengan bahasa yang muluk seperti tata kelola global dengan dukungan kerjasama/lembaga multilateral. Itu sama saja dengan sistem pemerintahan teknokrasi.

Percayalah! (baca disini dan disini)

Apakah ini akan terwujud?

Nah untuk pertanyaan ini anda-anda semua yang bisa menjawabnya. Karena prinsipnya, makin banyak yang tahu rencana busuk sang Ndoro Besar, maka makin besar juga peluang orang untuk sadar dan menampik rencana akal-akalan tersebut.

Satu yang pasti, bahwa sekelas Guterres mengakui kalo SDG 2030 nggak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, itu adalah fakta yang nggak bisa dipungkiri.

Jika itu adalah tanda-tanda kegagalan, apakah kegagalan berikutnya nggak bisa dibuat kembali oleh anda-anda sekalian?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!