Rencana Serangan Siber Bukanlah Fiktif


531

Rencana Serangan Siber Bukanlah Fiktif

Oleh: Ndaru Anugerah

Beberapa hari yang lalu, saya menurunkan analisa tentang kemungkinan serang siber yang menyasar sistem internet global. Tulisan ini mendapat sambutan yang cukup ‘hangat’ di kalangan pembaca. (baca disini)

Ini bukan tanpa sebab, mengingat WEF selaku sponsor simulasi itu, sebelumnya juga terlibat pada simulasi yang diberinama Event 201 beberapa saat sebelum plandemi Kopit merebak.

Kalo saat ini sang Ndoro kembali mengadakan simulasi bertema serangan siber, apakah ini pertanda akan ada plandemi dunia maya?

Menarik mencermati apa yang terjadi di Israel pada 9 Desember silam.

Memangnya apa yang terjadi disana?

10 negara (AS, Inggris, UEA, Austria, Israel, Jerman, Italia, Belanda, Swiss, dan Thailand) mengadakan simulasi serangan siber yang menyasar sistem keuangan global dari mulai pasar vala, sistem perbanka, integritas data hingga transaksi ekspor-impor.

Jadi latihan ini perlu digelar dengan maksud meminimalkan potensi serangan pada pasar keuangan dan perbankan.

“Simulasi digelar selaku wujud antisipasi atas serangan siber besar-besaran pada sistem keuangan global. Kami membutuhkan kerjasama guna meminimalkan potensi kerusakan pada pasar keuangan dan perbankan,” ungkap salah seorang peserta.

Pada tataran teknis, akan ada serangan siber besar-besaran yang dilakukan para peretas, yang melumpuhkan sistem keuangan global, dan ini harus diantisipasi.

“Bank-bank meminta bantuan likuiditas darurat dalam banyak mata uang untuk menghentikan kekacauan karena pihak lawan menarik menarik dana mereka dan membatasi akses ke likuiditas sehingga sistem perbankan kolaps,” begitu kurleb narasinya.

Simulasi yang dikasih judul Collective Strength tersebut di adakan di Yerusalem, melenceng dari rencana awal yang sedianya dilakukan di Dubai World Expo, Uni Emirat Arab karena hadirnya Omicron. (https://www.reuters.com/markets/europe/exclusive-imf-10-countries-simulate-cyber-attack-global-financial-system-2021-12-09/)

Siapa ‘sponsor’ simulasi tersebut?

IMF, World Bank dan Bank for International Settlements.

Berdasarkan simulasi yang berlangsung selama 10 hari tersebut, akan ada periode krisis yang cukup parah selama satu setengah minggu, yang mampu mengacaukan pasar keuangan secara global. Dan ini akan berimbas pada rusaknya sistem perbankan dan moneter.

Solusinya?

Akan mucul sistem keuangan baru sebagai pengganti sistem yang telah rusak akibat serangan siber. Untuk itulah kerjasama global dibutuhkan sebagai bentuk antisipasi atas ambruknya sistem keuangan dunia.

Apakah kebetulan jika lembaga Bretton Woods plus kemudian hadir sebaga ‘sponsor’ pada simulasi itu?

Saya katakan berkali-kali bahwa dalam politik, nggak ada yang terjadi secara kebetulan. Kalopun dikatakan ‘kebetulan’, itupun sebenarnya sudah setting-an.

Lantas apa yang bisa disimpulkan?

Bahwa 2 gerbong kartel Ndoro besar (WEF dan Bretton Woods plus) telah buka suara yang sama soal serangan siber. Masa iya ini hanya rencana tanpa eksekusi?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!