Cabang Pemerintahan Keempat (*Bagian 1)


536

Cabang Pemerintahan Keempat (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, bisa ulas tentang cabang pemerintahan keempat yang ada di AS sana?” tanya seorang.

Secara umum, di AS sana, hanya ada 3 cabang pemerintahan saja yang diakui secara legal, yakni kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Ketiga lembaga negara inilah yang punya wewenang menjalankan laju pemerintahan di AS. Jadi lembaga keempat, secara formal nggak ada. (https://en.wikipedia.org/wiki/Federal_government_of_the_United_States)

Lalu darimana istilah cabang pemerintahan keempat berasal?

Merujuk pada literatur, cabang pemerintahan keempat adalah istilah tidak resmi yang dipakai dan mengacu pada kelompok atau institusi yang dianggap mempengaruhi atau bertindak sebagai pengganti ketiga lembaga yang sah yang ditentukan oleh konstitusi negara AS.

Secara gamblang, Bloomberg lah yang memberi istilah kepada BlackRock sebagai lembaga pemerintahan keempat yang ada di AS sana, pada 2020 silam. “In Fink We Trust” adalah semboyan yang dikumandangkan. (https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-05-21/how-larry-fink-s-blackrock-is-helping-the-fed-with-bond-buying)

Tentang BlackRock, saya pernah buat tulisan seri. Silakan anda baca sebagai dongeng pengantar tidur. (baca disini, disini, disini, disini, disini dan disini)

Pada awalnya, Laurence Douglas Fink atau yang dikenal dengan nama Larry Fink adalah bukan siapa-siapa di kalangan kartel Ndoro besar.

Setidaknya di tahun 1986 dimana dirinya  terpaksa kehilangan sekitar USD 100 juta akibat salah ‘bertaruh’ pada investasi suku bunga yang ada di bank investasi First Boston kala itu. (https://www.vanityfair.com/news/2010/04/fink-201004)

Kekalahan ini mendorong dirinya untuk merancang sebuah perusahaan investasi yang menitik beratkan pada manajemen risiko.

Singkat cerita, Fink muda mulai menggandeng beberapa koleganya untuk ikut bergabung dengan dirinya, dan kemudian proposal perusahaan dilayangkan kepada Pete Peterson dan Stephen Schwarzman selaku petinggi Blackstone dalam rangka pemberian wangsit dari langit. (https://www.ft.com/content/7dfd1e3d-e256-4656-a96d-1204538d75cd)

Nggak butuh waktu lama, Fink berhasil menjalankan anak perusahaan Blackstone yang bernama Blackstone Financial Management.

Disini karir Fink lumayan moncer, mengingat dalam waktu satu tahun saja, cuan yang berhasil didapat perusahaan sudah berlipat-lipat asset awal perusahaan. Jika di tahun 1988, modal awal perusahaan hanya senilai USD 5 juta, maka di tahun 1992, portofolio perusahaan menjadi USD 17 miliar.

Sangat fantastik!

Setelah dirasa established, maka Schwarzman dan Fink bersepakat untuk melepas perusahaan yang dipegang Larry ke ranah publik. Jadilah BlackRock yang awalnya merupakan anak perusahaan Blackstone. Frase ‘Black’ yang menyatukan kedua-nya. (https://www.cnbc.com/2017/06/22/blackstone-or-blackrock-schwarzman-and-fink-did-it-on-purpose.html)

Tapi yang namanya bisnis yang melibatkan uang, tidak selamanya Blackstone dan BlackRock bisa terus sejalan.

Di tahun 1994, kedua perusahaan berselisih paham tentang kompensasi yang diberikan bagi karyawan baru mereka. Blackstone maunya begini, sementara BlackRock maunya begitu.

Dan secara kebetulan, di tahun yang sama, Schwarzman didera perceraian dengan istrinya, yang menyebabkan dirinya butuh uang untuk mengurus masalah tersebut. Dan Schwarzman menjual bagian saham miliknya di BlackRock, dengan harga obral alias USD 240 juta saja.

Tentu saja Fink serasa mendapat durian runtuh. “Apa nggak salah beli perusahaan blue-chip dengan harga recehan?” (https://www.bloomberg.com/news/articles/2013-09-30/schwarzman-says-selling-blackrock-was-heroic-mistake)

Sejak itulah, BlackRock resmi ‘bercerai’ dari Blackstone dan berdiri secara independent.

Dengan total asset mencapai USD 165 miliar di tahun 1999, BlackRock melantai di bursa New York Stock Exchange dengan harga yang nggak terlalu murah sebagai debut-nya. (https://www.blackrock.com/corporate/about-us/blackrock-history)

Selepas itulah, BlackRock mulai merambah layanannya ke bidang lainnya seperti analisa yang terkoneksi dengan sistem investasi perusahaan.

Langkah ekspansi ini terbilang sukses, karena BlackRock berhasil mengakuisisi sejumlah perusahaan kelas kakap, mulai dari perusahaan reksa dana State Street Research & Management di tahun 2004. (https://www.bizjournals.com/boston/stories/2004/08/23/daily29.html)

Merger dengan Merrill Lynch Investment Managers (yang merupakan divisi dari Bank of America) di tahun 2006. (https://www.wsj.com/amp/articles/SB114000893292274625)

Hingga membeli bisnis dana lindung nilai Quellos Group yang berpusat di Seattle di tahun 2007 silam. Dengan capaian tersebut, total asset yang dimiliki BlackRock mencapai lebih dari USD 1 triliun. (https://www.seattletimes.com/business/quellos-is-selling-unit-to-blackrock-in-172-billion-deal/)

Tidak lama berselang, krisis keuangan global terjadi di tahun 2008.

Saat perusahaan-perusahaan besar lain terkena efek domino ambruknya Lehman Brothers, justru saat itulah nama BlackRock makin melesat.

“Sebelum krisis keuangan di tahun 2008, saya nggak kenal dengan perusahaan tersebut. Namun setelah keruntuhan Lehman, nama BlackRock ada dimana-mana,” ungkap seorang wartawan senior. (https://www.dw.com/en/blackrock-the-secret-world-power/a-18653761)

Bagaimana bisa nama BlackRock makin melambung saat krisis keuangan global terjadi?

Karena banyak institusi keuangan Wall Street yang meminta bantuan Fink dalam mengatasi kekacauan kewajiban kredit yang mereka alami setelah krisis tersebut. Sederet nama ada disana, mulai dari AIG, Lehman Brothers, Fannie Mae hingga Freddie Mac.

Banyak gembong Wall Street beranggapan bahwa hanya BlackRock lah satu-satunya dewa penyelamat yang mampu mengatasi krisis keuangan mereka saat itu. Dan efek yang diharapkan tentu saja agar pasar tidak panik sebelum sistem keuangan makin kusut dibuatnya. (https://money.cnn.com/2008/10/28/magazines/fortune/blackrock_brooker.fortune/index.htm)

Kalo dipikir-pikir, ini cukup menggelikan.

Kenapa menggelikan? Karena Fink pernah terjeblos di lubang yang sama.

Pada bagian selanjutnya kita akan bahas masalah ini.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!