Kenapa Harus Lebay?

In Sosial Budaya

Kenapa Harus Lebay?

Oleh: Ndaru Anugerah

Pandemi masih akan sangat panjang untuk berakhir. Akibatnya makin banyak orang yang frustasi. Vaksin yang digadang-gadang bisa dijadikan solusi untuk mengakhiri pandemi, nyatanya nggak punya pengaruh apa-apa terhadap infeksi Kopit. (baca disini dan disini)

Akibatnya orang yang frustasi mulai cari-cari obat alternatif guna mengatasi Kopit. Dan salah satu yang fenomenal karena diklaim dapat mengatasi Kopit secara efektif adalah obat yang bernama ivermectin.

Apa itu?

Ivermectin adalah obat generik murah yang biasanya digunakan untuk mengatasi penyakit cacingan pada anak-anak. Karena kemujaraban obat tersebut yang terbilang aman dan efektif, Hadiah Nobel diberikan kepada para pengembang obat ivermectin tersebut di tahun 2015. (https://www.nobelprize.org/prizes/medicine/2015/campbell/lecture/)

Masalahnya ivermectin baru-baru ini diklaim telah menjadi obat yang sangat efektif dalam mengatasi Kopit baik untuk pencegahan ataupun pengobatan. (https://www.dhakatribune.com/health/coronavirus/2020/12/26/bangladeshi-researchers-find-ivermectin-effective-as-covid-19-preventive-drug)

Bahkan beberapa orang mengklaim bahwa ivermectin punya khasiat yang lebih baik dari hydroxychloroquine dalam melawan infeksi Kopit. (https://c19ivermectin.com/)

Ibarat sang Juru Selamat yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia, kehadiran ivermectin langsung disambut hangat di Benua Hitam Afrika. Akibatnya banyak orang Afrika pakai obat cacing tersebut dalam melawan infeksi Kopit.

Lantas gimana efeknya?

Tingkat kematian akibat Kopit di Afrika hanya sekitar 1%, sementara di AS sana tingkat kematiannya 10%. Jadi hanya sepersepuluhnya Amrik. Dan kemungkinan ivermectin yang jadi penyebabnya. (https://www.worldometers.info/coronavirus/)

Karena penasaran sama khasiat obat tersebut, Senator Ron Johnson menggelar Sidang Senat AS pada Desember silam guna meminta pendapat dokter tentang kebenaran ivermectin sebagai obat alternatif dalam mengatasi Kopit. (https://www.hsgac.senate.gov/early-outpatient-treatment-an-essential-part-of-a-covid-19-solution-part-ii)

Coba apa yang akan terjadi jika misalnya ivermectin memang dapat mengatasi masalah Kopit? Tentu saja program besar sang Ndoro besar bakal gatot alias gagal total oleh sebuah obat generik murahan. Dan ini nggak boleh terjadi.

Singkat cerita keluarlah narasi bahwa obat tersebut berbahaya atau bahkan menyebabkan kematian. Dan untuk pekerjaan ini media mainstream dan lembaga fact checker yang dikerahkan.

Jadi kalo ada berita tentang ivermectin dan Kopit, pasti langsung dicap teori konspirasi atau informasi yang salah.

“Nggak ada buktinya kalo invermectin bisa mengatasi Kopit,” begitu kurleb-nya. (https://apnews.com/article/fact-checking-afs:Content:9768999400)

Bahkan di Afrika Selatan, pemerintahnya melarang keras penggunaan invermectin sebagai obat dalam mengatasi Kopit. “Invermectin tidak aman untuk digunakan.” (https://www.iol.co.za/capeargus/news/sa-drugs-regulator-bans-miracle-covid-19-treatment-as-unsafe-4e36c339-c65c-4cc6-93d2-d7e748eefcb6)

Tapi anehnya, saat dikonfirmasi tidak amannya dimana, pejabat berwenang nggak bisa mengemukakan alasannya. Ya kalo begitu mah, nenek-nenek juga bisa ngomong kek gitu.

Inilah yang memicu spekulasi bahwa ivermectin beneran bisa mengatasi Kopit. Yah namanya spekulasi, setidaknya harus bisa dibuktikan terlebih dahulu.

Satu yang pasti, bahwa obat cacing bisa menyebabkan kematian saat digunakan, jelas lebay adanya.

Pakai logika aja deh, mana ada ceritanya anak anda dikasih obat cacing terus besoknya ditemukan tewas?

Tapi yang pasti, ini memang cukup mencurigakan. Kalo memang obat ivermectin dianggap nggak berkhasiat, kenapa media mainstream bereaksi ‘keras’ terhadap obat tersebut. Ada apa gerangan?

Dulu, waktu hydroxychloroquine dinyatakan ‘mujarab’ sebagai obat Kopit oleh beberapa pakar kesehatan dunia, media mainstream juga beraksi yang sama. (https://anthraxvaccine.blogspot.com/2020/06/how-false-hydroxychloroquine-narrative.html)

Bahkan sampai dibuat penelitian abal-abal yang menyatakan hydroxychloroquine berbahaya yang akhirnya terungkap kebohongannya. (baca disini)

Nyatanya, di beberapa negara tetap menggunakan hydroxychloroquine dalam mengatasi Kopit, karena khasiatnya memang nyata. (baca disini dan disini)

Makin menarik permainan bertajuk Kopit tersebut.

Akankah ivermectin dapat menghentikannya?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Yaman: Tinjauan Geopolitik

Yaman: Tinjauan Geopolitik Oleh: Ndaru Anugerah Seorang bertanya kepada saya, “Kenapa nggak pernah bahas soal Yaman, Bang?” Sekali lagi, bukan saya pilih-pilih

Read More...

Go to Hell with Your Aid

Go to Hell with Your Aid Oleh: Ndaru Anugerah “Bang, pernah nggak Indonesia punya sosok presiden yang berani menentang hegemoni Barat?”

Read More...

Biarkan Data Bicara

Biarkan Data Bicara Oleh: Ndaru Anugerah Adakah orang yang meninggal akibat menggunakan vaksin Big Pharma? Bukan ada lagi. Banyak adalah kata yang

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu