Nggak Ada Buktinya

In Sosial Budaya

Nggak Ada Buktinya

Oleh: Ndaru Anugerah

“Dengan vaksinasi kita akan terbebas dari pandemi Kopit, dan kita bisa hidup normal seperti dulu lagi,” ungkap seorang netizen kepada temannya dalam sebuah komentar online.

Dengan kata lain, vaksin Kopit akan dapat menghalangi penyebaran virus dengan terbentuknya herd immunity ala WHO yang diciptakannya.

Apa iya?

Tentang ini saya pernah bahas. (baca disini)

Lagian, WHO juga sudah ngomong sampe berbusa, bahwa vaksin nggak bisa mengakhiri. Masa anda yang bisanya hanya baca media mainstream kok punya pendapat yang beda? Memangnya anda siapa? (https://www.cnbcindonesia.com/news/20210116164433-4-216575/jangan-ngadi-ngadi-who-vaksin-tak-bisa-akhiri-pandemi)

Biar anda paham, saya akan ulas lagi dengan paparan yang beda. Dan tentunya pakai data alias nggak ngandelin jigong doang.

Pada November 2020, Pfizer klaim bahwa vaksin m-RNA nya yang diberinama BNT162b2 punya tingkat kemanjuran 90% berdasarkan hasil ujicoba klinis pada manusia. (https://apnews.com/article/pfizer-vaccine-effective-early-data-4f4ae2e3bad122d17742be22a2240ae8)

Seminggu kemudian, Moderna yang mengelurakan vaksin Kopit bernama m-RNA 1273 juga mengklaim tingkat kemanjuran sebanyak 94.5%. (https://www.cnn.com/2020/11/16/health/moderna-vaccine-results-coronavirus/index.html)

Nggak mau kalah set dengan Moderna, Pfizer merevisi tingkat keefektifan vaksinnya pada 18 November 2020 menjadi 95%. Kok dianulir kek pilihan ganda soal Ujian Nasional aja. (https://www.wsj.com/articles/pfizers-covid-19-vaccine-95-effective-in-final-results-company-to-seek-approval-within-days-11605699996)

Karena nilai yang diklaim cukup tinggi, FDA akhirnya kasih UEA alias Emergency Use Authorization kepada 2 vaksin Big Pharma tersebut. (https://www.fda.gov/news-events/press-announcements/fda-takes-additional-action-fight-against-covid-19-issuing-emergency-use-authorization-second-covid)

Itu angka yang spektakuler karena mendekati 100% mengingat vaksin hanya dibuat dalam 8-9 bulan saja. Jadi nggak pake tahun-tahunan dalam membuatnya.

Angka ini jelas meninggalkan vaksin Kopit lainnya, yang tingkat kemanjurannya masih dibawah 2 vaksin m-RNA Pfizer dan Moderna tersebut. (https://www.cnn.com/2020/12/30/asia/china-sinopharm-vaccine-efficacy-intl-hnk/index.html)

Sebenarnya apa definisi kata ‘kemanjuran’ disini?

Artinya, vaksin tersebut akan mencegah orang agar tidak terinfeksi virus Kopit dan otomatis mencegah orang yang terinfeksi virus tersebut untuk menularkannya pada orang lain. Itu baru manjur.

Apakah faktanya begitu?

Dalam sebuah wawancara, CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apakah vaksin BNT162b2 dapat mencegah penyebaran virus Kopit. “Kami nggak yakin tentang hal itu,” ungkapnya. (https://thehill.com/news-by-subject/healthcare/528619-pfizer-chairman-were-not-sure-if-someone-can-transmit-virus-after?fbclid=IwAR3zq5U_dwIU8fiRD1gWvxgRiq_JsZbZKv39vsgjDYPY07D1In6cbLRCe2Q)

Bahkan Chris Beyrer MD dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg Universitas John Hopkins mengatakan begini, “Kami tidak tahu apakah vaksin Kopit dapat mencegah penularan virus Kopit.”

Pakar vaksin dari George Washington University David Diemert juga bilang yang kurleb sama, “Tidak diketahui apakah vaksin Kopit akan mencegah virus SARS-CoV-2 untuk masuk ke badan kita atau meninggalkan tubuh orang yang telah divaksin.” (https://www.wusa9.com/article/news/verify/will-covid-vaccine-stop-people-from-spreading-virus-verify/65-980a9c42-2790-4658-96ff-26d144fc6bb8)

Sampai sini jelas kan, duduk masalahnya?

Jadi para ahlipun sudah bilang tentang ‘kemanjuran’ vaksin yang nggak sinkron dengan angka yang diklaim oleh Big Pharma selaku pembuat vaksin.

Sekelas Dr. Anthony Fauci pun dengan jelas mengakui bahwa vaksin akan menjadi penghambat penyebaran virus secara efektif. (https://www.youtube.com/watch?v=GKtC71v6M3s)

“Tujuan utama dari vaksin bukan mencegah infeksi (penularan) virus,” ungkap Dr. Anthony Fauci. (https://www.dailymail.co.uk/news/article-8884031/Dr-Fauci-warns-early-COVID-19-vaccines-prevent-symptoms-not-block-infection.html)

Nah terus, gunanya vaksin apa Bambang??

Dan pernyataan tersebut diamplifikasi oleh seorang ilmuwan WHO Soumya Swaminathan MD, “Kami nggak punya bukti kalo vaksin Kopit manapun akan dapat mencegah orang dari terinfeksi atau tidak dapat menularkannya kepada orang lain.” (https://thevaccinereaction.org/2021/01/who-fauci-warn-covid-19-vaccines-may-not-prevent-infection-and-disease-transmission/)

Secara singkat dapat dikatakan bahwa vaksin Kopit nggak bisa melindungi orang dari tertular virus atau mencegah dirinya menyebarkan virusnya kepada orang lain. (https://www.msn.com/en-us/health/medical/top-who-scientist-says-vaccinated-travelers-should-still-quarantine-citing-lack-of-evidence-that-covid-19-vaccines-prevent-transmission/ar-BB1cjM4v)

Setidaknya para pakar sudah bicara, bukan saya dan bukan juga anda.

Jadi saat anda punya pikiran bahwa vaksin adalah senjata pamungkas buat mengakhiri pandemi, sebaiknya anda teruskan saja mengkhayalnya.

Toh mengkhayal itu gratis, bukan? Sruput lem-nya kawan.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Mari Lihat Dampaknya

Mari Lihat Dampaknya Oleh: Ndaru Anugerah Kalo bicara soal vaksinasi di Wakanda, nggak menarik perhatian saya sama sekali. Mendingan bicara tingkat

Read More...

Proyek Pegasus

Proyek Pegasus Oleh: Ndaru Anugerah Proyek Pegasus kini buat heboh, mengingat media mainstream menyoroti program tersebut yang bertujuan untuk ‘menyadap’ warga,

Read More...

Saat Semuanya Disensor

Saat Semuanya Disensor Oleh: Ndaru Anugerah Mana yang lebih digdaya, negara atau Big Tech? Kalo anda bilang negara, baiknya anda pikir

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu