LOADING

Type to search

Vaksin Graphene (*Bagian 2)

Vaksin Graphene (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian pertama tulisan, kita sudah bahas tentang kandungan graphene pada vaksin Kopit yang dipakai pada program enjus massal global. (baca disini)

Kita juga sudah bahas potensi bahaya yang ditinbulkan jika seseorang dipaksa menggunakan vaksin-vaksin tersebut pada tubuh manusia. Pernyataan Dr. Noack mungkin bisa anda jadikan rujukan.

Apakah kandungan graphene hanya ada pada produk vaksin Kopit?

Nggak juga.

Di Kanada pada April 2021 silam, lembaga kesehatan formal disana terpaksa menarik kembali satu setengah juta masker wajah KN95, gegara mengandung graphene. (https://healthycanadians.gc.ca/recall-alert-rappel-avis/hc-sc/2021/75391r-eng.php)

Ini sungguh ironis, mengingat anak-anak usia sekolah, dipaksa menggunakan masker tersebut saat belajar sepanjang hari. Health Canada membandingkan graphene dengan asbes yang mau nggak mau dihirup anak-anak tersebut saat mereka harus bermasker.

Sekedar informasi, masker tersebut merupakan bahan impor yang didatangkan dari China lewat perusahaan Shandong Shengguan New Materials Co. Ltd. Siapa pemodal utama perusahaan ini? Kenapa bisa masuk ke Kanada?

Next kita akan bahas.

Satu yang pasti, kalo nggak membahayakan, ngapain juga masker yang mengandung graphene tersebut dilarang peredarannnya? (https://montreal.ctvnews.ca/recalled-masks-were-worn-by-thousands-of-quebec-kids-feds-say-import-rule-wasn-t-followed-1.5388068)

Nggak hanya itu. Dr. Antonietta Gatti selaku pakar biomaterial asal Italia juga menyatakan bahwa toksisitas nanometalik graphene oksida terhadap sel, bersifat mematikan.

“Ini bisa kita temukan pada vaksin, perangkat PCR dan juga masker wajah,” ungkapnya. (https://everydayconcerned.net/tag/dr-antonietta-gatti/)

Sekedar informasi, bahwa Dr. Gatti telah lama meneliti partikel nano dan pengaruhnya terhadap tubuh manusia.

“Partikel nano di dalam sel, dapat menghancurkan mekanisme pertahanan bawaan sel dan dapat menyebabkan pembekuan darah, peradangan mematikan, thrombus hingga kegagalan multi-organ,” papar Dr. Gatti. (https://www.jewworldorder.org/new-micrographs-reveal-graphene-oxide-and-parasites-in-the-pfizer-biontech-covid-vaccine/)

Dr. Gatti menyatakan bahwa jika partikel non-biodegradable tersebut memasuki tubuh manusia, yang paling mungkin adalah merusak struktur DNA dan selanjutnya dibawa oleh darah untuk berikatan dengan bahan organik lainnya, sehingga terjadi penggumpalan dalam organ tubuh manusia.

Sungguh mengerikan.

Ada lagi temuan yang didapat oleh ilmuwan Slovakia setelah menganalisis penyeka hidung yang digunakan pada perangkat tes PCR yang juga mengandung graphene oksida.

“Jika graphene oksida bersentuhan dengan cairan organik (semisal air liur), maka hanya dalam beberapa menit, zat tersebut akan membentuk struktur kristal persegi panjang yang terus bertumbuh,” paparnya. (https://www.nutritruth.org/single-post/analysis-of-test-sticks-from-surface-testing-in-the-slovak-republic-confirmation-of-genocide)

Tentang pertumbuhan kristal graphene oksida pada tubuh manusia, ilmuwan Jerman juga mengamini hal tersebut. (https://everydayconcerned.net/2021/08/15/self-assembling-graphene-oxide-nanotech-now-found-also-in-pfizer-vaccine-german-video-reveals-self-assembling-specks-and-crystalline-networks-forming/)

Memangnya kapan pertama kali graphene digunakan?

Secara spesifik, graphene adalah bagian dari proyek genom manusia, yang dimulai secara informal pada 2001 silam.

Terapi gen m-RNA (alias vaksin) dengan menggunakan graphene oksida sebagai vektor berjalan, juga dibutuhkan pada aplikasi teknologi CRISPR yang konon katanya dipakai sebagai pengobatan bagi pasien kanker.

Siapa pengembangnya?

Tentu saja Big Pharma. (https://www.graphene-info.com/graphene-dna-sequencing)

Namun sayangnya, teknologi ini dapat mengakibatkan kematian sel dalam sel sehat. Kematian hewan percobaan, setidaknya mengungkapkan hal ini.

Menjadi masuk akal jika nano teknologi bertajuk ‘graphene oksida’ nggak pernah bisa disetujui untuk digunakan pada manusia. Tidak sekarang dan tidak akan pernah selamanya.

Ironisnya, saat ini, adalah fakta bahwa jaringan Big Pharma telah menggunakan teknologi graphene pada tubuh manusia, dengan dalih menanggulangi Kopit, tanpa bisa tersentuh oleh hukum dimanapun itu. (https://ambassadorlove.wordpress.com/2021/11/14/epigenetics-vaccines-are-deleting-human-genes-transfecting-cells-with-ebola-marburg/)

Anda mau protes?

Sebagai penutup, saya kasih link kepada anda untuk anda baca-baca. Link ini berisi puluhan jurnal mengenai toksisitas dari graphene oksida, utamanya dalam menyulut pembekuan darah pada tubuh manusia. (https://jdfor2024.com/wp-content/uploads/2021/07/AppendixGrapheneOxide.pdf)

Jadi saya nggak asbun lho ya…

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa saat ini banyak dijumpai kematian massal tanpa sebab yang jelas? Apakah ini hanya kebetulan?

Silakan anda simpulkan sendiri.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Tags::

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!