Asumsi-Asumsi Cacat

In Sosial Budaya

Asumsi-Asumsi Cacat

Oleh: Ndaru Anugerah

Apa yang bisa dipelajari saat plandemi berlangsung? Salah satunya adalah asumsi-asumsi yang tidak mendasar, tapi terus diamplifikasi kepada publik.

Apa saja asumsi-asumsi yang dimaksud?

Saya pernah membahasnya dengan sangat detil pada tahun lalu. (baca disini, disini, disini, disini, disini dan disini)

Apakah asumsi tanpa data yang menunjang, akan berhenti saat plandemi masih berlangsung?

Nggak juga. Karena pada hakikatnya asumsi memang sengaja dipakai sebagai ‘senjata ampuh’ untuk menakut-nakuti mereka yang buta akan data.

Sekarang kita coba lihat apa saja asumsi yang dikembangkan belakangan ini.

Menjadi menarik untuk disimak pernyataan yang dikemukakan oleh Dewan Darurat Umum Israel untuk Krisis C-19 baru-baru ini. Mereka merinci beberapa asumsi cacat yang berkaitan dengan orang yang tidak divaksinasi. (https://americasfrontlinedoctors.org/wp-content/uploads/2021/08/the-science-and-the-ethics.pdf)

Asumsi cacat pertama adalah bahwa orang yang tidak divaksinasi akan lebih rentan terkena infeksi Kopit ketimbang mereka yang telah menerima suntikan.

Nggak usah di Israel, di Wakanda juga begitu juga kejadiannya, bukan?

Lantas bagaimana faktanya?

Setelah mengklasifikasi pasien Kopit berdasarkan kelompok usia, nyatanya mereka yang divaksin dan tidak divaksin memiliki angka yang relatif sama untuk terpapar Kopit. (https://data.gov.il/dataset/covid-19/resource/9b623a64-f7df-4d0c-9f57-09bd99a88880)

Malahan aturan yang dibuat oleh Kemenkes Israel untuk melakukan lebih banyak tes pada mereka yang tidak divaksin akan dapat membuat angka positif kasus menjadi lebih tinggi pada kelompok ini.

Bahkan kalo kita mau ungkap lebih jelas lagi, beberapa penelitian malah mengungkapkan bahwa mereka yang divaksin justru berpotensi terpapar Kopit lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak divaksin. (baca disini dan disini)

Hello Ondel-Ondel Monas, semoga anda baca tulisan saya ini.

Kita lanjut pada asumsi kedua, yaitu mereka yang tidak divaksinasi akan lebih mudaj menginfeksi orang lain, ketimbang mereka yang sudah divaksin.

Apakah benar demikian adanya?

Menurut Dewan, laporan yang dirilis Public Health England (PHE) dan beberapa penelitian lainnya menunjukkan bahwa sekali terinfeksi, maka viral load pada yang divaksin maupun yang tidak divaksin menunjukkan kuantitas yang relatif sama. (https://assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/1009243/Technical_Briefing_20.pdf)

Laporan yang dirilis CDC juga bicara hal yang sama, bahwa viral load antara orang yang divaksin dan tidak divaksin, ya sama saja. (https://fm.cnbc.com/applications/cnbc.com/resources/editorialfiles/2021/07/30/CDC_slides.pdf)

Kok pakai viral load?

Karena viral load adalah faktor yang dominan dan signifikan dalam kemampuan menginfeksi orang lain, pada siapapun baik yang sudaj divaksin ataupun belum divaksin.

Dengan kata lain, asumsi bahwa mereka yang tidak divaksin menjadi penyebab penularan virus, sama sekali tidak mendasar.

Dan asumsi ketiga yang paling banyak dikemukakan adalah penularan virus dapat terjadi pada orang-orang yang terpapar Kopit namun tanpa gejala alias OTG.

Tentang OTG saya pernah bahas jauh-jauh hari sebelumnya. (baca disini dan disini)

Apa dasarnya kalo penularan melalui OTG hanya asumsi?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Zachary Madewell dan rekannya menyatakan bahwa tingkat penularan orang tanpa gejala (asimptomatik) adalah 20 kali lebih rendah daripada pasien bergejala. (https://jamanetwork.com/journals/jamanetworkopen/fullarticle/2774102)

Aliasnya, mereka yang diasumsikan terpapar (tapi kondisinya baik-baik saja) namun ditakutkan dapat lebih menginfeksi orang lainnya, hanyalah isapan jempol semata. Penelitian Dr, Madewell telah membantah asumsi tersebut.

Sebaliknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi, nyatanya juga mengalami gelombang baru si Kopit. Jadi nggak ada kaitan antara vaksinasi dan kondisi aman tidak terpapar Kopit.

Dewan kemudian menegaskan, “Orang yang tidak divaksinasi bukanlah penyebab berlanjutnya pandemi, juga tidak membahayakan orang lain yang ada di sekelilingnya.”

Mereka kemudian menambahkan, “Harapan untuk memberantas Kopit dengan mencapai status kekebalan kawanan (herd immunity) dengan memakai vaksin pada persentasi populasi yang cukup tinggi sekalipun, bukanlah hal yang realistis untuk diwujudkan.”

Saya pikir ini sudah sangat jelas, karena semua pakai data sebagai penunjangnya dan nggak mengandalkan jigong sebagai bahan pembentuk asumsi.

Ayo digoyang Ondel-Ondelnya karena bentar lagi pak Lurah mau mengeluarkan sesuatu yang spektakuler.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu