Ketika Asumsi Terus Dibangun (*Bagian 2)

In Sosial Budaya

Ketika Asumsi Terus Dibangun (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian 1, saya telah mengulas tentang bagaimana asumsi tentang jumlah kematian dan test PCR yang terus didengung-dengungkan oleh elite global lewat tangan media mainstream. (baca disini)

Apalagi tujuan dari semua asumsi tersebut selain buat takut anda, sehingga anda jadi mirip kerbau yang dicokok hidungnya. Disuruh ngapain aja, ya otomatis cuma bisa manut-manut tanpa bisa protes.

Banyak pembaca yang menanyakan kepada saya, “Sebagai rakyat, apa yang harus kami lakukan? Karena kami hanya bisa tunduk atas aturan yang diterapkan pemerintah.”

Bingung juga jawabnya. Ntar kalo saya kasih anjuran, disangka provokator. Ntar kalo diam saja, disangka nggak kasih solusi. Serba salah. Mengingat kapasitas saya hanya sebagai analis Geopolitik. Sebagai pengingat saja. Nggak lebih.

Peran ekskutor, tentunya diambil sama pemerintah, yang sayangnya kalo boleh saya nilai nih, sedang dalam kondisi pusing tujuh keliling.

Awalnya mau ambil jutaan chlroquine dan avigan dari luar buat lawan si Kopit. Belakangan niat tersebut hilang bak ditelan bumi. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200320152712-20-485379/lawan-corona-jokowi-borong-5-juta-avigan-dan-chloroquine)

Kesal lihat ekonomi negara yang sudah minus sekian persen, tapi masih menerapkan karantina sana-sini yang otomatis tidak membuat ekonomi dapat bergerak lancar. Apa iya ekonomi bisa jalan lancar dengan penutupan sana-sini? (https://www.idntimes.com/business/economy/teatrika/jokowi-kalau-sampai-ekonomi-gak-naik-kuartal-iii-gak-tau-lagi-saya)

Padahal sebagai analis yang juga mantan Aktivis 98, seperti kawan saya Adian Napitupulu, nggak kurang-kurang saya kasih masukkan ke pemerintah. Tapi entahlah, masukkan tersebut seperti hilang dimakan genderuwo. Dan saya nggak bisa apa-apa. Porsi saya ya hanya sampai disitu saja.

Saran saya, ikuti aturan yang diterapkan pemerintah. Saya kasih tahu tentang asumsi si Kopit, agar anda nggak termakan propaganda media mainstream. Jadi anda bisa beraktivitas normal dengan aturan yang berlaku sana-sini. Toh, pakai masker nggak membuat anda mati gaya, bukan?

Sambil menunggu keajaiban terjadi. Ya kali aja pemerintah berubah pikiran dan mempertimbangkan masukkan yang saya berikan.

Kita lanjut ke asumsi yang berikutnya, ya.

Asumsi ketiga yang paling sering dibangun oleh media mainstream adalah tentang bertambahnya jumlah pasien terinfeksi si Kopit. Lalu muncul klaster baru orang terinfeksi si Kopit disana dan disini. Bahkan kentut pun sempat diklaim bisa menularkan infeksi si Kopit pada orang lain. (https://timesofindia.indiatimes.com/life-style/health-fitness/health-news/can-farts-spread-covid-19-this-australian-researcher-claims-so/articleshow/75291485.cms)

Gimana anda nggak panik dengan berita nakutin model begitu?

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi bila itu hanya asumsi?

Jelas aja jumlahnya nambah, karena banyak pihak melakukan pengujian si Kopit dimana-mana. Makin banyak pengujian dilakukan, maka makin banyak angka orang yang terinfeksi. Padahal, alat uji yang digunakan, sama sekali nggak dapat diandalkan.

Contohnya pada Februari silam, dimana otoritas kesehatan di Guangdong China melaporkan, “Orang-orang yang telah sepenuhnya pulih dari C19 dan diuji negatif, setelah beberapa hari diuji, hasilnya positif kembali.” Jadi mirip roller-coaster hasilnya. (https://www.zmescience.com/science/a-startling-number-of-coronavirus-patients-get-reinfected)

Di Singapura, juga nggak kalah anehnya. Test dilakukan hampir setiap harinya pada 18 pasien, dan mayoritas beralih dari positif menjadi negatif dan menjadi positif lagi. Hasil yang berubah-ubah kek bunglon tersebut bisa terjadi 5 kali pada satu pasien. Apa nggak emejing? (https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2762688)

Saking kesalnya, Sin Hang Lee dari Milford Molecular Diagnostics Laboratory akhirnya mengirimkan surat ke tim tanggap darurat C19 milik WHO dan juga kepada Dr. Anthony Fauci (22/3), yang isinya: “Kit uji RT-qPCR yang digunakan untuk mendeteksi C19 dalam specimen manusia, menghasilkan banyak positif palsu dan tidak cukup sensitif untuk mendeteksi beberapa kasus positif nyata.” (https://childrenshealthdefense.org/wp-content/uploads/04-30-20-Letter-to-WHO-and-Dr.-Fauci.pdf)

Bahkan Wang Chen selaku presiden Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok, mengakui bahwa test PCR memiliki tingkat akurasi yang hanya 30-50% saja. Jadi nggak ada standar emasnya. (https://www.scmp.com/tech/science-research/article/3049858/race-diagnose-treat-coronavirus-patients-constrained-shortage)

Selain itu, angka meningkatnya jumlah kasus terinfeksi si Kopit juga disebabkan oleh manipulasi perhitungan alias perhitungan ganda. “Jumlah yang besar diakibatkan oleh praktik perhitungan saliva dan sampel hidung untuk individu yang sama sebanyak 2 kali perhitungan,” begitu kurleb-nya. (https://www.telegraph.co.uk/global-health/science-and-disease/tens-thousands-coronavirus-tests-have-double-counted-officials/)

Asumsi lainnya yang sering dipaksakan oleh media mainstream adalah tentang pemeriksaan suhu tubuh untuk mendeteksi virus, yang diklaim sebagai cara yang efektif.

Sebenarnya, mengukur suhu tubuh dengan mengarahkan ‘pistol’ ke kepala anda, ini sarat akan makna terselubung yang hendak disampaikan oleh elite global. Artinya, anda nggak bisa melakukan apa-apa selain tunduk pada permainan mereka. Bahkan jika anda di-dor sekalipun.

Lantas apa cara tersebut cukup efektif?

Nyatanya, pada tataran praktis, mengukur suhu tubuh manusia tidak berpengaruh dalam menghentikan penyebaran virus Corona. Kalo misalnya nih, seseorang diketahui memiliki suhu tinggi sekalipun, itu merupakan variasi alami, mengingat tiap orang beroperasi pada suhu yang berbeda-beda secara medis. (https://www.washingtonpost.com/technology/2020/05/11/thermal-scanners-are-latest-technology-being-deployed-detect-coronavirus-they-dont-really-work/)

Gak percaya?

Coba anda iseng berolahraga. Apa suhu tubuh anda nggak meningkat? Atau mungkin anda berlari untuk mengejar penerbangan, atau baru saja mendapatkan panggilan telpon yang menegangkan atau harus mendisiplinkan anak di rumah yang lumayan bandel, apa suhu badan anda nggak meningkat? (https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/fitness/in-depth/exercise/art-20048167)

Dengan kata lain, semua pikiran yang membuat anda stress dan membuat tekanan darah anda terpicu naik, akan mampu meningkatkan suhu tubuh anda. Jadi buat apa diukur suhu badannya, segala dimana-mana?

Apakah semua asumsi cukup sampai disini. Pada bagian ketiga nanti, saya akan ulas asumsi lainnya lengkap dengan datanya. Jadi nggak main asumsi apalagi pakai kiralogy tanpa ada data.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Tuding Mereka Dengan Teori Konspirasi

Tuding Mereka Dengan Teori Konspirasi Oleh: Ndaru Anugerah Saat rencana besar elite global mulai terkuak oleh sekelompok orang dengan memaparkan beberapa

Read More...

Bukan Anti-Mainstream

Bukan Anti Mainstream Oleh: Ndaru Anugerah Razia pada warga yang tidak menggunakan masker, mulai masif digelar. Setidaknya di Jakarta. Sanksi yang

Read More...

Deklarasi Balfour: Entry Point

Deklarasi Balfour: Entry Point Oleh: Ndaru Anugerah Bagaimana negara Israel bisa terbentuk? Siapa yang menjadi sponsornya? Mungkin anda pernah dengar tentang Deklarasi

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo