Serangan Hamas?


510

Serangan Hamas?

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, bisa tolong dibahas tentang konflik hangat yang ada di Timur Tengah saat ini?” sebuha pesan singkat melalui kanal Telegram yang saya punya.

Jujur, saya malas mengulas hal ini.

Kenapa?

Karena ulasan saya kemungkinan nggak akan memuaskan rasa dahaga anda akan konflik sesungguhnya yang terjadi disana.

Mendingan anda baca media mainstream, dan saya jamin anda bakal terpuaskan seperti saat anda menonton film buatan Hollywood pada umumnya.

Masih nekat mau baca ulasan saya?

Ya sudah kalo anda memaksa. Tapi sebelumnya silakan baca ulasan saya tentang konflik di Timteng yang saya buat beberapa tahun yang lalu, agar anda punya gambaran apa yang sesungguhnya terjadi. (baca disini, disini dan disini)

Yuk kita mulai pembahasannya.

Awalnya diberitakan bahwa Hamas melancarkan ‘serangan’ mendadak terhadap Israel, yang konon katanya menewaskan puluhan orang. (https://www.cnn.com/middleeast/live-news/israel-hamas-gaza-attack-10-09-23/index.html)

Aksi ini memicu Israel untuk melakukan serangan balik terhadap warga Palestina yang ada di jalur Gaza. “Israel kini sedang berperang,” ungkap PM Israel Netanyahu. (https://www.atlanticcouncil.org/blogs/new-atlanticist/experts-react/experts-react-israel-is-at-war-after-hamas-militants-launch-major-assault/)

Berita yang beredar pada media sosial juga cukup provokatif. Dikatakan bahwa para pejuang Palestina menerobos perbatasan Selatan dan mulai mengambil alih kota-kota di Israel serta menculik warga sipil untuk dijadikan sandera. (https://nypost.com/2023/10/07/horrifying-videos-show-hamas-terrorist-invasion-of-israel/)

Apakah ini nyata atau hanya fabrikasi yang sengaja dibuat untuk membuat anda terpancing emosinya untuk memberi keberpihakan pada Israel yang dizolimi pejuang Hamas?

Kalo anda sudah baca ulasan saya di atas, anda tahu bahwa konflik yang kerap digelar di wilayah Gaza nggak lain untuk mengamankan cadangan energi bagi Israel. Dan untuk alasan ini, saya katakana berkali-kali bahwa wilayah Gaza nggak akan pernah ada kata ‘damai’.

Alasan kedua adalah tentang rencana pengusiran warga Palestina di wilayah Gaza, secara sukarela dengan adanya aksi represif dari tentara Israel sebagai balasan.

Itu dua point yang cukup penting untuk anda ingat mengenai konflik yang ada saat ini.

Pertanyaan sederhananya: apa iya Israel yang punya intelijen ternama di dunia, nggak bisa mendeteksi perihal serangan yang dilancarkan Hamas pada negara Zionis tersebut? Bukankah sumber daya ekonomi Mossad lebih dari cukup untuk mendapatkan secuil informasi ini?

Apa benar serangan Hamas bukti nyata kegagalan intelijen sekelas Mossad semata? Masuk akalnya dimana? (https://www.theguardian.com/world/2023/oct/07/hamas-stealth-attack-will-be-remembered-as-israeli-intelligence-failure-for-the-ages)

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Kemana konflik ini akan diarahkan?

Asal tahu saja, bahwa peristiwa yang sama pernah juga terjadi di tahun 1973 dengan adanya Perang Yom Kippur. Bulannya juga sama, Oktober.

Efek dari ‘perang’ tersebut adalah krisis energi yang terjadi secara global.

Lalu, apakah skenario yang sama nggak akan terulang?

Dengan adanya serangan balik Israel pada warga pendudukan Palestina, kira-kira berapa lama hal ini akan terjadi?

Siapapun yang akan memenangkan konflik tersebut, bukankah akan memicu krisis energi dengan naiknya harga minyak, layaknya perang-perangan yang dilakukan Rusia pada Ukraina? (https://www.bloomberg.com/opinion/articles/2023-10-07/hamas-attack-on-israel-for-oil-it-s-not-1973-but-it-could-still-turn-ugly)

Apakah ini nggak akan meningkatkan biaya militer AS dan sekutunya dalam menjalankan ‘perang suci’ melawan terorisme?

Akankah setelah ini tidak ada lagi serangan terror yang terjadi belahan dunia lainnya seperti skenario pasca 911? (baca disini dan disini)

Dengan kata lain, kalo anda mau memihak baik pada Israel ataupun Palestina, itu sah-sah saja karena itu hak anda. Toh konflik Rusia dan Ukraina juga terjadi blocking juga walaupun kedua pihak dapat zonk di akhir cerita.

Satu yang perlu anda perhatikan adalah bahwa jika situasi terus memanas dan semua pertanyaan yang saya lontarkan terjadi dan menyebabkan krisis energi, siapa pihak yang akan bertepuk tangan dalam hal ini?

Ingat satu hal: bahwa dalam setiap perang, ada pihak yang menjadi bandarnya.

Nggak perlu seorang Einstein untuk menebak siapa aktor intelektual-nya, bukan?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!