Saat Semua Wajib Vaksin

In Sosial Budaya

Saat Semua Wajib Vaksin

Oleh: Ndaru Anugerah

Segregasi atau pemisahan ala Adolf Hitler, mulai diterapkan dimana-mana, menyangkut status seseorang sudah divaksin Kopit apa belum. Jadi mereka yang nggak mau atau belum divaksin (karena alasan khusus), akan dapat perlakuan beda dari mereka yang sudah divaksin.

Padahal, apa kaitannya antara vaksinasi dengan si Kopit? Apakah seseorang yang telah divaksin otomatis nggak akan terkena si Kopit? Nggak juga. (baca disini)

Apakah seseorang yang telah divaksin, bakal lebih kebal terhadap si Kopit? Kan nggak juga. (baca disini)

Lantas, apa esensinya pelarangan berkegiatan bagi mereka yang tidak mau atau belum divaksin? Bukankah ini sama saja segregasi ala Nazi yang memberikan status Star of David (Jewish badge) bagi orang Yahudi di Eropa, guna membedakannya dengan bangsa non Yahudi? (https://encyclopedia.ushmm.org/content/en/article/jewish-badge-during-the-nazi-era)

Tentang Green Passport alias kartu vaksinasi yang saya sudah bahas pada tahun lalu, bukan isu kaleng-kaleng. (baca disini)

Di Jerman saja, sudah banyak makan korban.

Baru-baru ini, Hesse sebagai salah satu negara bagian di Jerman memberikan lampu hijau yang mengizinkan semua bisnis yang beroperasi untuk melarang para pelanggan yang tidak divaksin. Parahnya lagi, ini berlaku untuk bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. (https://www.rt.com/news/537644-hesse-bans-unvaxxed-supermarkets/)

Pada tataran operasional, toko dapat menerapkan atauran 2G (geimpft & genesen) atau 3G (geimpft, genesen & getestet).

Kalo aturan 2G, artinya toko hanya membolehkan mereka yang telah divaksin dan atau telah pulih dari si Kopit. Sedangkan aturan 3G, berarti toko hanya memperbolehkan mereka yang telah di test Kopit dengan hasil negatif.

Coba bayangkan jika anda harus beli gula di supermarket atau toko di sebelah rumah, dan ada aturan kek gini. Apa nggak ribet?

Bukan itu saja, aturan prokes tetap dipakai selama beraktivitas, seperti social distancing dan pemakaian masker. Komplit sudah. (https://www.expaturm.com/german-lifestyle/hesse-unvaccinated-shopping/)

Terus bagaimana bagi mereka yang menolak atau belum divaksin?

Tergantung. Bagi staf di rumkit, mereka wajib menjalani tes Kopit dua kali seminggu. Sedangkan bagi siswa sekolah, diharuskan menggunakan masker saat belajar di kelas. Dan ini beda perlakuan dengan siswa yang sudah mendapatkan vaksinasi.

Perlu anda ketahui, bahwa delapan negara bagian di Jerman telah memberlakukan aturan 2G untuk bisnis tertentu seperti bar, restoran, fitness center, bioskop hingga rumah bordir. Sementara Hesse lebih sadis lagi, karena mereka bahkan memberlakukan pada toko kelontong yang menyediakan bahan makanan pokok sehari-hari. (https://www.thelocal.de/20211005/should-retailers-in-germany-be-allowed-to-exclude-unvaccinated-people-from-entry/)

Bagaimana kita melihat kondisi ini?

Ini adalah bagian ujicoba rekayasa sosial. Jadi kalo aturan ini berhasil, maka akan diterapkan pada negara bagian lainnya, secara umum di dunia. Prinsip-nya, makin banyak yang manut-manut saja, maka aturan bakal mudah diterapkan.

Kepatuhan adalah kata kuncinya.

Dan ingat satu hal, bahwa ini adalah bagian dari rencana pembentukkan tata dunia baru yang akan dibentuk oleh kartel Ndoro besar pasca plandemi berakhir. (baca disini, disini dan disini)

Syaratnya ya cuma satu, “Anda semua harus patuh!” Titik. Njih, Ndoro?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu