Menyoal Senjata Terarah


517

Menyoal Senjata Terarah

Oleh: Ndaru Anugerah

Musim panas saat ini, sungguh kontras dengan kondisi beberapa bulan yang lalu, dimana hujan turun hampir setiap hari.

Bahkan beberapa negara tengah kalang kabut mengatasi bencana kebakaran, yang dipicu oleh kondisi cuaca panas saat ini. Setidaknya begitu narasi yang diciptakan media mainstream. Jerman salah satunya. (https://www.dw.com/en/wildfires-in-germany-continue-to-rage/g-65920210)

Kanada, salah duanya, dimana titik api mulai melebar dan menjadikan isu kebakaran sebagai masalah nasional. Bahkan dikabarkan 4 petugas damkar terpaksa meregang nyawa dalam upaya memadamkan api. (https://www.reuters.com/world/americas/canadas-record-wildfire-season-whats-behind-it-when-will-it-end-2023-08-17/)

Dan yang paling fenomenal adalah Hawaii, dimana titik kebakaran sukses memanggang 114 orang penduduk berikut 2000 bangunan hangus terbakar. Ini belum pernah terjadi dalam sejarah. (https://www.vox.com/climate/2023/8/18/23831418/maui-hawaii-wildfires-lahaina-death-toll-missing-live-updates)

Masih banyak catatan kebakaran yang waktunya bersamaan dengan cuaca panas saat ini. Anda bisa cari sendiri sumbernya pada mesin pencari.

Lantas, bagaimana kebakaran bisa terjadi?

Apa penyebabnya?

Semuanya punya kesamaan, dimana aktivitas manusia-lah yang dituding sebagai biang kerok ketidakstabilan iklim. Penggunaan bahan bakar karbon salah satunya.

Dan dari ketidakstabilan inilah maka timbul berbagai bencana dari mulai kebakaran, kekeringan, banjir hingga badai.  

Setidaknya itu narasi yang terus dihembuskan media mainstream.

Pertanyaan kritisnya: apa iya?

Bagaimana jika cuaca ekstrim yang kita hadapi saat ini, bukan bersifat natural, melainkan karena adanya faktor rekayasa? Bukankah cuaca bisa direkayasa?

Saya pernah bahas soal ini. (baca disini, disini dan disini)

Sekarang, saya akan ulas hal yang lain agar anda bisa tambah wawasan.

Pernah dengar soal Directed Energy Weapons (DEW)?

Secara sederhana, DEW alias senjata energi terarah merupakan rekayasa teknologi yang menggunakan media berupa senjata jarak jauh dengan menggunakan energi terarah dalam menghancurkan targetnya. (http://www.satnews.com/story.php?number=1272864526)

Jadi energi yang digunakan bukanlah peluru ataupun proyektil pada rudal, melainkan laser, gelombang mikro, sinar partikel hingga sinar suara.

Pada tataran teknis, DEW merupakan senjata pemusnah yang bisa menarget orang, misil, kendaraan hingga perangkat optik.

Dengan hadirnya DEW, orang nggak perlu repot-repot menggelar perang untuk sekedar membunuh seseorang, karena teknologi ini bisa menjawab permasalahan tersebut. Cukup klik sasaran, maka nggak lama yang ditarget bakal meninggoy.

Termasuk dalam hal menciptakan bencana. Kebakaran hutan salah satunya.

Ini nggak mengada-ada, sebab bisnis jual beli DEW merupakan bisnis keras dengan nilai transaksi mencapai USD 5,3 milyar di tahun lalu. Bahkan menurut proyeksinya di tahun 2027 mendatang nilai transaksinya bakal mencapai USD 12,9 milyar. (https://www.marketsandmarkets.com/Market-Reports/directed-energy-weapon-market-19132295.html)

Angka yang fantastik.

Siapa saja pemain dalam bisnis ini?

Nggak lain adalah Military Industrial Complex (MIC) yang dimiliki oleh kartel sang Ndoro besar. Ada sederet nama perusahaan kontraktor pertahanan top dunia, dari mulai Raytheon, Northrup Grunman, Boeing, Lockheed Martin hingga BAE Systems.

Kalo anda pembaca setia ulasan saya, maka anda pasti ingat bahwa perang pada hakikatnya adalah bisnis yang sangat menguntungkan, dimana senjata plus amunisi bisa dijajakan pada kedua pihak yang bertikai yang sudah tentu bisa mendatangkan ‘cuan’ besar.

Jangan heran jika terjadi perang dimanapun di muka bumi, maka MIC sudah pasti ada dibelakang pihak-pihak yang bertikai. Nggak peduli siapapun kubu yang bertikai.

Percayalah.

Kembali ke laptop.

Apakah DEW merupakan senjata mematikan?

Kalo menurut klaimnya, maka DEW bersifat aman alias nggak mematikan, bahkan buat manusia sekalipun. “Paling cuma digunakan untuk melawan ancaman drone,” begitu kurleb-nya. (https://www.gao.gov/products/gao-23-106717)

Jika hanya untuk mengatasi ancaman drone dimana nggak semua pihak punya berkepentingan/kompetensi atas teknologi tersebut, kenapa nilai transaksi DEW mencapai milyaran dollar? Mengapa militer sangat berkepentingan atas DEW?

Tentu tidak semudah itu penjelasannya.

Bukankah dengan hadirnya DEW yang merupakan kreasi MIC yang juga mengembangkan program Environmental Modification dalam merekayasa cuaca, maka otomatis DEW bisa dijadikan senjata pemusnah yang terfokus pada target yang hendak dilenyapkan?

Sebagai penutup, cuaca panas saat ini, dimana aktivitas pembakaran bahan bakar fosil yang dijadikan kambing hitamnya, akan berlangsung lama. Anda harus bersiap akan hal ini.

Dengan kata lain, selain kebakaran, kekeringan dan gagal panen adalah menu tersaji yang akan anda dapatkan pada bulan-bulan ke depan.

Saat semua frustasi menghadapi kenyataan, dalam waktu bersamaan akan muncul ‘dewa penyelamat’ yang akan menawarkan solusi global atas masalah ini.

Nggak terlalu sulit untuk menduga solusi tersebut, bukan?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!