Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1)

In Politik

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Bagaimana cara membuat orang takut? Pakai propaganda jawabannya. Kalo anda pernah dengar scaremongering, pasti anda tahu cara kerjanya. (baca disini, disini dan disini)

Dan peran ini dijalankan dengan sukses oleh media mainstream.

Darimana anda bisa takut akan si Kopit, kalo bukan dari paparan data yang disajikan tiap saat oleh satgas Kopit di tiap negara, mulai dari medsos, televisi hinga koran? Semua bicara hal yang sama, peningkatan orang yang terpapar si Kopit secara eksponensial.

Tujuannya apalagi kalo bukan buat anda takut?

Dengan ketakutan, anda jadi percaya bahwa penutupan ekonomi adalah langkah tepat dalam memutus si Kopit. Dengan ketakutan, anda jadi percaya bahwa si Kopit demikian mematikan. Dan dengan ketakutan, anda jadi hilang akal sehat.

Saya akan coba jelaskan dengan bahasa sederhana biar anda semua mengerti.

Mulai dari definisi utama, apa itu virus Corona?

Menurut WHO, virus Corona adalah virus yang menyebabkan infeksi pernafasan pada manusia atau hewan. Wujudnya bisa macam-macam mulai dari flu biasa, hingga MERS, SARS dan COVID-19. (http://www.emro.who.int/health-topics/corona-virus/questions-and-answers.html)

Lantas apa gejalanya kalo seseorang terkena si Kopit?

Bisa demam, batuk kering dan kelelahan. Biasanya gejalanya sangat ringan, sehingga 80% orang yang terkena bisa sembuh dari penyakit tersebut tanpa harus dirawat di RS. Hanya 1 dari 5 orang yang terjangkit si Kopit menjadi sakit parah dan mengalami kesulitan untuk bernafas. (https://www.who.int/indonesia/news/detail/08-03-2020-knowing-the-risk-for-covid-19)

Sekali lagi, itu definisi yang mengeluarkan WHO lho ya. Saya hanya mengutipnya.

Definisi tersebut matching dengan definisi yang dikeluarkan Dr. Wolfgang Wodarg selaku pakar epidemiologist, bahwa si Kopit mirip dengan SARS 1, dengan gejala mirip influenza musiman plus pneumonia. (https://www.wodarg.com/2020/03/02/to-stop-the-corona-panic-isolate-alarmists/)

Definisi lainnya yang senada adalah yang dikeluarkan oleh Anthony Fauci (Kepala NIAID), H. Clifford Lane dan Robert Redfield (Kepala CDC), bahwa si Kopit lebih mirip dengan influenza musiman yang parah dengan tingkat kematian sekitar 0,1%. (https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMe2002387)

Bahkan CDC memastikan bahwa si Kopit mirip dengan influenza, hanya penyebabnya yang beda. Kalo si Kopit disebabkan virus Corona, sementara influenza disebabkan oleh virus influenza. (https://www.cdc.gov/flu/symptoms/flu-vs-covid19.htm)

Wajar disebut mirip, karena memang sulit membedakan antara keduanya.

Tapi apa yang terjadi? Apakah publik diberitahu bahwa si Kopit mirip dengan influenza oleh otoritas berwenang atau media mainstream? Kan nggak.

Kenapa?

Karena begitu publik tahu dan yakin bahwa si Kopit mirip dengan influenza, maka propaganda yang bertujuan buat panik massal akan gagal total. Dan lockdown dengan segala aturan ruwetnya, akan otomatis dimentahkan. Dengan satu kondisi: kalo publik tahu akan hal ini.

Pada bagian kedua saya akan bicara tentang fakta seputar test untuk si Kopit.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Operasi Moonshot

Operasi Moonshot Oleh: Ndaru Anugerah Kira-kira tujuh bulan yang lalu saya kasih masukan kepada pemerintah untuk tidak menerapkan lockdown di Indonesia,

Read More...

Menyoal Statistika Teror

Menyoal Statistika Teror Oleh: Ndaru Anugerah “Abang pernah bilang sama kita untuk tidak melihat media mainstream selama pandemi Kopit. Apa alasannya?”

Read More...

Target Berikutnya: Moldova

Target Berikutnya: Moldova Oleh: Ndaru Anugerah Pemilu Moldova akan berlangsung pada awal November tahun ini. Ada beberapa kandidat yang akan berkontestasi,

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo