Scaremongering Campaign

In Politik

“Mulai sekarang branding kita adalah krisis,” begitu ucapan Jane Bodine yang diperankan oleh Sandra Bullock pada film yang berjudul Our Brand is Crisis. Sontak perkataan Bodine membuat tim kampanye terbengong-bengong. Lha ngapain jualan krisis?

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Bodine pada masyarakat Bolivia, yang serba irasional dan miskin, jualan yang paling laku yah krisis dan ketakutan itu sendiri. Dan singkat cerita, apa yang dipikirkan Bodine membuahkan hasil, dengan menghantar Castillo memenangkan pilpres di Bolivia.

Apa yang diperlihatkan oleh Jane Bodine, sebenarnya bukan barang baru. Dalam perpolitikan ini sudah lama dikenal dengan istilah scaremongering campaign. Kampanye yang membuat resah. Suatu gaya kampanye yang menebar keresahan dan ketakutan dikalangan masyarakat.

Yang biasa dilakukan seseorang yang mengusung model kampanye model ini, kerap memakai desas-desus yang menimbulkan rasa takut, hoax, dan juga fitnah.

Apa yang diharapkan kemudian?

Orang yang mengalami model kampanye ini akan ketakutan. Orang yang ketakutan biasanya nggak bisa berpikir rasional, dan cenderung ambil jalur pintas. Kalo rasionalnya sudah nggak jalan, maka akan hilang rasa percaya dirinya. Akibatnya dia galau.

Dan orang yang galau tentu butuh figur yang dipandang kuat sebagai tempat berlindungnya. Bisa ditebak, saat yang ditunggu muncul-lah sosok yang dinanti-nanti. Jeng-jeng… klotak-klotak-klotak, sang jenderal pecatan nongol lengkap dengan kudanya.

Kampanye model gini, sudah banyak dipakai oleh beberapa orang. Hitler salah satunya. Sejarah mencatat bagaimana sang Fuhrer menebar ketakutan pada rakyat Jerman akan bahayanya bangsa Yahudi yang berencana menguasai perekonomian negara tersebut.

Akibatnya sungguh dahsyat. Rakyat Jerman asli mulai ketakutan, takut tersisihkan, sehingga tindakan kekerasan menemukan pembenarannya. Walhasil lebih dari 6 juta orang Yahudi di Eropa meregang nyawa akibat dibantai oleh tentara Nazi pimpinan sang Fuhrer.

Gak usah jauh-jauh. Di Indonesia juga pernah terjadi, tepatnya pada masa Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. Isu yang dipakai adalah PKI. Terbukti itu adalah senjata pamungkas yang digunakan rejim orba untuk memberangus suara-suara kritis terhadap gaya pemerintahannya.

Begitu seseorang dicap PKI, besoknya orang yang bersangkutan hanya tinggal nama.

Dan yang paling gres adalah pentas pilkada DKI 2017 lalu. Bagaimana paslon gabener dan wagabener terpilih berupaya keras menabur rasa takut pada warga DKI untuk tidak memilih pemimpin kafir dan non pribumi, lewat masjid-masjid.

“Yang pilih kafir, jangan harap jenasahnya akan disholati. Kerak neraka adalah ganjarannya.” Dan diakhir cerita kita sudah tau kelanjutannya.

Apakah ini akan berlanjut? Tentu saja.

Lihatlah apa yang terjadi pada gaya kampanye paslon BOSAN. Semua yang dilakukan tak lain adalah menebar ketakutan. 2030 Indonesia bakal bubar. Ekonomi tengah diambang kehancuran, bahkan tempe aja bisa setipis ATM. Mau belanja dengan modal cepek ceng? Bisa dapat bawang doang, mpok…

Sadar akan scaremongering campaign yang dilakukan pesaingnya, maka petahana segera melakukan aksi balasan.

“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat ketidakpastian. Masyarakat digiring ke arah sana. Dan yang ketiga menjadi ragu-ragu. Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Itu namanya politik genderuwo,” ungkap pakde.

Lengkaplah julukannya. Sudah sontoloyo, genderuwo pulak. Harusnya mereka balik bertanya.

Padahal dalam iklim negara demokrasi, jualan ketakutan sudah gak jaman lagi. Karena ketakutan dan kebencian hanya akan membawa suatu bangsa ke jaman jahiliyah. Di Inggris misalnya. Walikota London – Sadiq Khan – adalah seorang muslim. Bagaimana seorang muslim bisa memerintah masyarakat yang notabene-nya non-muslim? Yah karena iklim demokratis tadi.

Gak penting ras-nya apa. Gak penting agamanya apa. Yang terpenting adalah programnya apa…

“Yah itu dia sebabnya, bray. Karena nggak ada program, yang bisa dijual cuma ketakutan plus sebar hoax kiri-kanan. Begitu ketahuan, langsung deh minta maaf. Lha, situ mau jualan program, apa jualan maaf?”

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

One commentOn Scaremongering Campaign

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu