Emas atau Cemas?


511

Emas Atau Cemas?

Oleh: Ndaru Anugerah – 21052024

“Bang bisa bahas soal Indonesia Emas?” tanya seorang netizen.

Sebelum ngomong soal itu, saya mau tanya: siapa yang punya gagasan dalam mencanangkan Indonesia Emas di tahun 2045 mendatang?

Ide tersebut datang dari pemerintahan yang dituangkan dalam RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) 2025 – 2045. (https://ekon.go.id/publikasi/detail/5196/wujudkan-visi-indonesia-emas-2045-pemerintah-luncurkan-rencana-pembangunan-jangka-panjang-nasional-rpjpn-2025-2045)

Dari RPJPN tersebut, pemerintah mem-break down ke dalam 8 agenda pembangunan dan 17 arah pembangunan. Kalo anda tahu 17 target Sustainable Development Goals PBB di 2030 mendatang, maka target RPJPN hasilnya copas dari program dunia tersebut. Plek-plek. (https://indonesia2045.go.id/)

Berdasarkan visinya, maka diproyeksi bahwa pada 2045 mendatang, Indonesia bakal jadi negara tangguh, yang mandiri dan bersifat inklusif.

Karenanya, pembangunan yang akan berlangsung 20 tahun mendatang diharapkan dapat mendorong Indonesia untuk melakukan transformasi peradaban menuju masyarakat yang modern dan sejahtera.

Sebenarnya, visi Indonesia Emas dalam rangka 100 tahun Indonesia merdeka di tahun 2045 mendatang, bukan ide yang otentik dari pemerintah, karena pemerintah hanya menangkap prediksi yang dikemukakan oleh Jim O’Neill di tahun 2011 silam.

Anda perlu tahu bahwa Jim O’Neill adalah Chief Economists di Goldman Sachs. Di tahun 2001, O’Neill merilis prediksinya yang berjudul “Building Better Global Economic BRICs”. (https://www.goldmansachs.com/intelligence/archive/archive-pdfs/build-better-brics.pdf)

Secara gamblang O’Neill bakal memprediksi kekuatan ekonomi global baru yang bakal menggantikan ekonomi status quo yang berkiblat ke dunia unipolar saat ini. Jika kemudian BRICS (Brazil, Rusia, India, China dan Afsel) terbentuk, ini bukan kebetulan karena memang ada ‘grand design’-nya sejak 2001 silam.

Uniknya lagi, O’Neill kembali keluarin istilah MINT di tahun 2013 silam, hasil pemikiran Fidelity Investments (2011). MINT adalah akronim dari Mexico, Indonesia, Nigeria dan Turki.

Berdasarkan proyeksinya, negara-negara MINT bakalan memiliki prospek ekonomi yang positif setidaknya untuk 2 dekade mendatang.

Kok bisa?

Karena negara-negara tersebut memiliki 4 modal dasar, dari mulai populasi yang besar khususnya penduduk produktif, tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat, punya kemauan untuk mengembangkan kelas menengah hingga memajukan sektor kewirausahaan. (https://www.businessinsider.com/jim-oneill-presents-the-mint-economies-2013-11)

Bermodalkan prediksi yang diungkapkan O’Neill, maka pemerintah mengusung gagasan yang diberi nama RPJPN di 2045 mendatang, bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka. Harapannya Indonesia akan menjadi negara yang berdaulat, maju dan berkelanjutan.

Sudah sangat mirip sekali dengan cita-cita mulia sang Ndoro besar.

Caranya?

Dengan mencetak generasi emas sebagai sumber daya manusia yang diharapkan mampu menopang dan menyukseskan arah pembangunan nasional.

Selain SDM yang bakal digarap, pemerintah juga menetapkan 3 pilar pembangunan lainnya, yaitu ekonomi, pembangunan dan juga ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan. (https://indonesiabaik.id/motion_grafis/pilar-pembangunan-indonesia-2045)

Mungkin anda kenal dengan istilah ESG sang Ndoro besar. Yah ini kurleb copas-nya lah. (baca disini dan disini)

Pertanyaannya, apakah visi Indonesia Emas bakal tercapai?

Kalo rujukannya prediksi yang dikemukakan O’Neill, bisa iya bisa juga nggak. Yang namanya prediksi, tentu nggak selamanya benar.

Toh, O’Neill dan klan Ndoro besar lainnya juga banyak keluarin istilah ekonomi, dari mulai BRICS, NEXT 11, CIVETS, VISTA, MIST, dan masih banyak lagi.

Apakah semua akromin tersebut bakal menjadi kenyataan? Nggak tahu juga.

Hanya yang jelas, kalo punya visi, maka segenap effort pemerintah harusnya dioptimalkan untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya, konsentrasi pada indeks pembangunan sumber daya manusia.

Seberapa besar effort yang dikeluarkan pemerintah untuk mencapai tujuan ini?

Kalo kita lihat sekarang, pendidikan yang berkaitan erat dengan kerangka pembangunan manusia, masih jauh panggang dari asap. Kenyataan di lapang, pemerintah justru lepas tangan soal pendidikan.

Anda tahu rusuh di beberapa perguruan tinggi negeri yang terjadi akhir-akhir ini?

Penyebabnya nggak lain dan nggak bukan, karena kampus negeri diberikan hak otonom untuk melakukan liberalisasi pendidikan. Adalah UU 12/2012 yang menjadi dasar acuan-nya. (https://diktis.kemenag.go.id/prodi/dokumen/UU-Nomor-12-Tahun-2012-ttg-Pendidikan-Tinggi.pdf)

Ditambah lagi dengan keluarnya Permendikbudristek No.2/2024 yang mengatur tentang besarnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Standar Satuan Biaya Operasional Perguruan Tinggi (SSBOPT), yang intinya makin membuka jalan bagi kampus melakukan liberalisasi pendidikan, maka kenaikan biaya kuliah di kampus-kampus negeri menjadi tak terbendung. (https://www.upnvj.ac.id/en/e-arsip/2024/peraturan-menteri-pendidikan-kebudayaan-riset-dan-teknologi-nomor-2-tahun-2024-tentang-standar-satuan-biaya-operasional-pendidikan-tinggi-pada-perguruan-tinggi-negeri-di-lingkungan-kementerian-pendidikan-kebudayaan-riset-dan-teknologi.html)

Dengan adanya mekanisme ini, maka kampus-kampus negeri yang selama ini menjadi tujuan para calon mahasiswa ‘kurang mampu’ untuk bisa menempuh pendidikan lanjutan, otomatis akan kandas. Mana bisa mereka kuliah dengan biaya mehong?

Yang terjadi kemudian, kampus-kampus negeri yang diharapkan mencetak generasi emas, menjadi gagal karena hanya akan di-isi oleh anak orang yang tajir mlintir.

Orang mah misqueen ke laut aja.

Yang terjadi kemudian, kampus hanya akan jadi menara gading, yang hanya sibuk ngurusin masa depan mereka yang berkuliah di sana. Nasib dan masa depan bangsa nggak akan dipedulikan.

Pertanyaan: berapa banyak sih orang-orang berpunya? Mungkinkah generasi emas bisa tercipta tanpa hadirnya kalangan menengah ke bawah yang merupakan golongan mayoritas?

Akankah tercipta Indonesia Emas atau Indonesia Cemas di 2024 mendatang karena tata kelola SDM yang amburadul saat ini?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopoltik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!