Media Selalu Menghamba Pada Tuannya


528

Media Selalu Menghamba Pada Tuannya

Oleh: Ndaru Anugerah

Freedom Convoy alias konvoi kebebasan yang digelar para supir truk di Ottawa, sebenarnya telah ada sebelum tanggal 29 Januari silam. Namun karena miskin pemberitaan media, aksi protes atas kebijakan wajib vaksin tersebut, hanya sedikit terekspos. (baca disini)

Dan sekarang, aksi protes besar-besaran tersebut, kembali di framing oleh media mainstream sebagai agen provokator yang mencoba mengganggu stabilitas dan berpotensi ‘menggoyang’ pemerintahan Trudeau. (https://www.washingtonexaminer.com/news/man-with-confederate-flag-told-to-leave-by-ottawa-truckers-we-called-him-out)

“Aksi tersebut mencoba untuk mengesampingkan kebenaran yang sesungguhnya atas kebijakan wajib vaksin,” ungkap Trudeau. (https://www.bbc.com/news/world-us-canada-60202050)

Masih banyak kecamanan yang dialamatkan pada aksi protes para supir truk tersebut, yang dilakukan oleh media mainstream. Silakan anda cari sendiri beritanya melalui mesin pencari.

Ini kontras dengan aksi ‘revolusi warna’ yang selalu mendapat tempat di hati media mainstream.

Singkatnya, dimana ada aksi penggulingan rezim yang didukung oleh deep state tersebut, media mainstream nggak pernah teriak ‘biang rusuh’ kepada aksi-aksi mereka.

Bukan itu saja, media mainstream malah melabel mereka sebagai ‘pahlawan’ demokrasi yang tengah memperjuangkan HAM.

Padahal aksi mereka jelas-jelas berupaya menggulingkan pemerintah yang sah, tidak seperti aksi para supir truk di Kanada, yang hanya menyuarakan penolakan terhadap kebijakan wajib vaksin yang dialamatkan kepada mereka.

Apa contohnya?

Sangat banyak.

Yang paling anyar adalah aksi protes terhadap kenaikan bahan bakar di Kazakhstan, yang berujung pada kekerasan ekstrim yang dilakukan demonstran. Akibat aksi ini, 18 anggota keamanan Kazakhstan tewas mengenaskan di tangan demonstran. (baca disini dan disini)

Bahkan 2 petugas keamanan tewas dipenggal. Apa nggak sadis? Masa iya pejuang HAM melakukan aksi sadis kek gitu? (https://www.rt.com/russia/545290-officers-beheaded-in-kazakhstan/)

Padahal, aksi tersebut BUKAN murni aspirasi rakyat Kazakhstan, karena ada campur tangan deep state dalam rangka mendompleng kepemimpinan disana, yang dinilai telah melenceng dari garis kebijakan Washington. (https://www.rand.org/pubs/research_reports/RR2563z1.html)

Atau aksi demonstrasi yang didukung oleh CIA dan MI6 dalam menggelar proyek revolusi warna oranye di Ukraina pada 2004 silam. (baca disini)

Kenapa nggak ada kecaman yang dilakukan media mainstream terhadap aksi-aksi protes yang didukung oleh deep state? Anehnya kok mereka malah dikasih julukan sebagai pahlawan demokrasi?

Mengapa ini bisa terjadi?

Jawabannya: media mainstream itu akan selalu menghamba pada ‘tuannya’. Omong kosong bicara independensi berita, kalo bisnis adalah panglimanya. (baca disini dan disini)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!