Ini Baru Pemimpin Sejati


517

Ini Baru Pemimpin Sejati

Oleh: Ndaru Anugerah

Program vaksinasi milik sang Ndoro besar mulai berjalan ke segenap penjuru dunia. Lalu ada yang nanya ke saya, “Ada nggak negara yang berani menolak program vaksinasi tersebut?”

Ada. Tanzania salah satunya.

Seperti kita ketahui bersama, bahwa Tanzania sedari awal tidak menerapkan lockdown dan semua aturan rumit yang ada di dalamnya. Jadi saat vaksinasi digelar di banyak negara, otomatis negara di Benua Hitam tersebut nggak butuh program tersebut.

“Tanzania sudah bebas dari Kopit,” ujarnya. (https://www.bbc.co.uk/news/world-africa-52966016)

Akibat sikap yang diambil oleh Presiden John Magufuli tersebut, nggak aneh jika kemudian Tanzania menjadi bulan-bulanan media mainstream milik sang Ndoro besar. (baca disini)

Berbicara pada upacara pembukaan hutan kota di Chato, Tanzania, Magufuli ngomong begini, “Kementerian kesehataan harus berhati-hati untuk mencoba vaksin pada manusia sebelum dilakukan penelitian. Tidak semua vaksin penting bagi rakyat Tanzania.” (https://www.bbc.com/news/world-africa-55900680)

Singkatnya John Magufuli mau bilang, “Jangan jadikan rakyat Tanzania sebagai kelinci percobaan.” Sikap yang sungguh sangat berani.

Karena menolak rencana sang Ndoro, maka media mainstream sekelas BBC mulai mengarang cerita guna menggoyang ‘posisi’ Magufuli. Dikisahkan ada seorang yang bernama ‘Peter’ yang diduga meninggal karena Kopit setelah sebelumnya batuk kering dan mati rasa. Dan itu hanya berlangsung beberapa jam saja, nggak lama si ‘Peter’ meregang nyawa.

Ya kalo begitu tudingannya, mana bisa dikatakan dugaan? Apa iya semua yang batuk kering dan mati rasa pasti atau diduga pasien Kopit? Nggak juga, bukan?

Nggak cukup sampai disitu, BBC kembali menuding presiden Tanzania tersebut, “Tuan Magifuli telah memperingatkan bahaya vaksin Kopit tanpa disertai bukti apapun.”

Lalu kalo nggak pakai vaksin, apa yang dipakai oleh orang-orang di Tanzania dalam mengatasi situasi ‘pandem’ di negaranya? Magufuli menyarankan untuk mengkonsumsi obat hirup uap dan juga obat-obatan herbal.

Lantas, apa benar tudingan Magufuli bahwa vaksin Kopit (secara khusus buatan Big Pharma), nggak aman?

Secara teknis, FDA di AS mengeluarkan Investigational New Drug (IND) application agar obat/vaksin yang dikeluarkan oleh negara tersebut untuk bisa dipakai oleh banyak negara bagian atau negara lainnya, dengan dalih Emergency Use Authorization alias penggunaan darurat.

Dan IND application ini digunakan pada semua produk vaksin buatan Big Pharma, dari mulai vaksin Prizer-BioNTech hingga Moderna. Jadi cukup kasih IND application, maka ‘produk’ dapat dikatakan aman untuk digunakan. (https://www.fda.gov/drugs/types-applications/investigational-new-drug-ind-application)

Yang namanya darurat, apakah beneran aman? Namanya saja keadaan ‘genting’.

Lalu, kenapa ini perlu dilakukan?

Agar kelak kalo vaksin-nya ‘bermasalah’, maka produsen vaksin dan negara nggak kena pasal telah melakukan pelanggaran hukum terhadap warga negaranya. “Kan keadaannya darurat.”

Apakah vaksin Kopit buatan Big Pharma bermasalah? Saya pernah mengulasnya. (baca disini, disini dan disini)

Dan ini paralel dengan laporan VAERS di AS sana, bahwa sejauh ini sudah banyak korban jiwa akibat vaksinasi Kopit, jumlahnya sebanyak 501 kematian dan 10,748 kasus cedera vaksin dari mulai yang ringan hingga berat. (https://www.medalerts.org/vaersdb/findfield.php?TABLE=ON&GROUP1=CAT&EVENTS=ON&VAX=COVID19)

Jadi, wajar jika Magufuli menuding vaksin-nya nggak aman, karena faktanya memang demikian adanya. Pengembangan vaksin yang biasanya makan waktu tahunan, lha kok ini hanya hitungan bulan sudah jadi. Itu vaksin apa tahu gejrot? (baca disini)

Kembali ke laptop.

Nggak cukup menuding Magifuli, media mainstream juga menggoyang sang presiden nyentrik tersebut dengan isu ‘telah melakukan manipulasi hasil pemilu’ di Tanzania.

“Magifuli telah melakukan penipuan hasil pemilu (Oktober silam) selain melakukan tindakan keras terhadap oposisi dan pegiat media sosial,” begitu kurleb tudingannya. (https://www.nytimes.com/2020/10/31/world/africa/tanzania-election-magufuli-wins.html)

Bahkan nggak sedikit tudingan yang menyatakan bahwa John Magufuli adalah seorang diktator. (https://www.thetimes.co.uk/article/fears-that-president-magufuli-who-vowed-to-tackle-corruption-will-create-dictatorship-in-tanzania-p8zjtpkbp)

Apa benar Magifuli seorang pemimpin diktator?

Temuan lembaga independen Twaweza cukup menarik untuk disimak. Dalam sebuah studi mereka menemukan bahwa 11% warga Tanzania yang menganggap presiden Magufuli adalah seorang diktator (Ukuta), sedangkan 58% warga tidak setuju dengan julukan tersebut. (https://www.twaweza.org/go/sauti-democracy-and-dictatorship-2016)

Aliasnya, berbeda dengan narasi yang dikembangkan media mainstream Barat, mayoritas warga Tanzania tidak menganggap John Magufuli sebagai seorang diktator. Nggak heran kebijakan yang dia ambil, mendapat tempat di hati rakyatnya.

Terus, harus bagaimana lagi agar supaya Magufuli bisa dilengserkan, Rudolfo?

Ini perlu dipikirkan. Coba bayangin kalo kemudian banyak pemimpin di Afrika yang ambil tindakan kek Magufuli dengan menolak program sang Ndoro besar? Apa nggak berabe?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


4 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Berarti di Republik Wakanda baik koalisi dan oposisi merupakan kaki tangan Ndoro Besar, mereka berkelahi hanya untuk mendapatkan pekerjaan dari Ndoro Besar, dengan memanipulasi pikiran masyarakat untuk memilih mereka.

    Republik Wakanda = Republik Copy Paste (Dagelan), memang selama ini. Setiap kebijakan nunggu dari Ndoro besar.

error: Content is protected !!