End Game: Sweden


509

End Game: Sweden

Oleh: Ndaru Anugerah

Kapan anak-anak bisa sekolah kembali? Kapan juga bioskop bisa beroperasi seperti sediakala? Kapan juga ekonomi bisa normal seperti dahulu?

Masih banyak pertanyaan ‘kapan’ lainnya diajukan kepada saya selaku analis geopolitik. Berkali-kali juga saya bilang, porsi saya sebagai analis hanya memberi masukkan ke pemerintah berkaiatan dengan cara menangani pandemi ini.

Untuk eksekusi kebijakan, itu bukan wewenang saya. Itu ada di tangan pemerintah.

Sudah banyak saya kasih masukkan tentang penanganan terbaik bagi masalah ini. Tapi saya sadar, siapalah saya. Lebih banyak diacuhkan, ketimbang didengar masukkannya. Akibatnya kita terus-menerus berada dalam ketidakpastian seperti saat ini.

Tiap hari kita hanya disajikan asumsi tentang si Kopit yang begitu menakutkan, sekaligus mematikan. Tapi anda nggak sadar bahwa itulah skenario yang sedang digelar. They’re just assumptions without scientific facts.

Coba baca ulasan saya tentang hal ini. (baca disini, disini dan disini)

Akibatnya, anda jadi putus asa dan mengikuti semua arahan WHO tanpa bisa berpikir normal. Dari mulai jaga jarak, pakai masker, ditakuti dengan istilah OTG (orang tanpa gejala) hingga hanya bisa pasrah dengan status karantina wilayah.

Dan begitu vaksin dari big pharma sudah siap, bukannya menghindar, anda justru malah mengharapkan diri anda untuk bisa disuntik.

Cuma yang jadi pertanyaan: apa urgensinya sehingga kita harus divaksin? Apakah kita akan mati jika tidak divaksin? Itu pertanyaan tentang urgensinya. Seolah hidup kita akan normal kembali jika kita sudah divaksin. Permainannya selesai.

Nyatanya, bukan begitu skenario yang dikembangkan elite global. Silakan catat. “Permainan ini akan berlangsung lama, bahkan setelah vaksin ditemukan.” Saya sudah pernah ulas tentang hal ini.

Lantas bagaimana kita seharusnya?

Pada April yang lalu, saya sudah kasih ulasan tentang bagaimana Swedia menghadapi pandemi dengan menolak keras arahan WHO. Mereka nggak menerapkan karantina ataupun lockdown. Ini berarti protokol ribet lainnya ala WHO juga nggak mereka terapkan sebagai konsekuensinya. (baca disini)

Lalu nggak lama kemudian, saya kasih masukkan ke pemerintah untuk lakukan hal serupa di Indonesia. Namun sayang, banyak yang mencemooh masukkan saya. Namun sekarang, masukkan saya terbukti benar. (baca disini dan disini)

Kenapa?

Karena saya kenal siapa-siapa saja pihak yang berperan dalam mengambil kebijakan penting di Swedia sana. Mereka adalah pakar kesehatan kelas dunia yang sudah teruji kredibilitas dan kapabilitasnya. Kalo mereka bisa, kita juga bisa lakukan hal yang sama.

Belum lagi Prof. Michael Levitt yang juga punya pandangan serupa. Bahwa penerapan lockdown (karantina) ala WHO bukan saja salah kaprah tapi juga lebay. Nggak ada dasar ilmiahnya. (https://www.stanforddaily.com/2020/05/04/qa-nobel-laureate-says-covid-19-curve-could-be-naturally-self-flattening/)

Namun apa yang terjadi kini?

Swedia sudah kasih bukti kepada kita semua. Dalam menaklukkan si Kopit, Swedia justru hidup berdamai dengannya. Bukan malah diperangi dengan pakai masker, melakukan karantina sana-sini, menjaga jarak sosial hingga ramai-ramai mengharapkan vaksin. Nggak gitu cara penanganannya.

Dan kini, kehidupan disana, telah berangsur normal seperti biasanya. Bukan new normal life seperti yang dideklarasikan WHO dengan segudang protokol tidak masuk akal didalamnya.

Saat pertumbuhan ekonomi negara lainnya di Eropa terjun bebas, justru di Swedia kondisinya malah membaik. (https://www.cnbc.com/2020/08/05/sweden-coronavirus-record-gdp-fall-still-outperformed-some-in-europe.html)

Lalu kemana suara media mainstream yang dulunya kerap mencaci maki negara yang satu ini? Kenapa berita di Swedia nggak mereka angkat sebagai sebuah keberhasilan? Apakah takut semua negara melakukan tindakan copas ala Swedia dalam melawan si Kopit?

“Bukankah banyak kematian di Swedia sana, bang?” tanya seseorang.

Saya coba paparkan datanya, jadi anda tahu faktanya dan bukan mereka-reka pakai perasaan.

Pada bulan April, Swedia mencatat ada 2572 kematian. Di Mei, terdapat 1646 kematian. Pada Juni, tercatat 805. Dan di Juli ada 226 kematian. Artinya terjadi trend penurunan kematian yang sangat signifikan. Dan ini terbukti pada Agustus ini, dimana angka kematian hanya 1 orang. (https://experience.arcgis.com/experience/09f821667ce64bf7be6f9f87457ed9aa)

Artinya apa?

Jumlah orang yang terinfeksi sudah banyak. Jadi orang di Swedia sana sudah kebal dengan virus si Kopit tersebut. Ini yang bisa jawab kenapa nggak ada lagi angka kematian. Orang Swedia sudah kebal pada pandemi abal-abal ini.

“Pasien C19 baru tercatat hanya 52 orang di bulan Juli, dan 4 orang di bulan Agustus ini,” begitu ungkap laporan medis.

Jadi ambang batas kekebalan kawanan (herd immunity threshold) sudah mereka capai. Akibatnya angka orang yang terinfeksi dan juga jumlah kematian, melorot drastis.

Sebagai negara, Swedia memang nggak sempurna. Angka kematian yang mencapai 5770 orang (https://www.worldometers.info/coronavirus/country/sweden/) adalah contohnya.

Tapi satu yang perlu diingat, bahwa lebih dari 50% angka tersebut, mayoritas menyasar kaum jompo yang sudah berusia di atas 82 tahun. (https://www.expressen.se/nyheter/coronaviruset/sa-manga-aldre-har-dott-eller-smittats-av-corona-dar-du-bor/)

Jadi clear ya masalah jumlah kematian di Swedia. Jangan coba klaim bahwa karantina atau lockdown akan menghentikan laju penularan si Kopit. Itu nggak ada dasar pijakan ilmiahnya.

Setidaknya, pakar penyakit menular asal Swedia, Dr. Johan Giesecke memperingatkan, “Begitu karantina dicabut, maka kasus infeksi dan kematian langsung akan meningkat tajam.” (https://www.dailymail.co.uk/news/article-8300631/Swedish-Covid-19-expert-says-lockdown-merely-delaying-inevitable.html)

Ahh.. Seandainya dulu masukkan saya digubris.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


5 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Salam Demokrasi, maaf Om Ndaru Anugerah ini saya ada sedikit masukan; saya pernah nonton di youtube: https://youtu.be/X0sTbrTuPKs (keterangan mulai tayang di menit ke 18:45 dst)
    dari video itu mungkin bisa ditarik kesimpulan kenapa Swedia sampai tidak menerapkan lockdown, social ditancing, penggunaan masker, dkk dll
    demikian masukan dari saya… salam demokrasi

  2. Bang,td siang di salah satu group WA saya,ada yg nulis bgni,kok semua video2 dan berita ttg yg ngomong kl WHO itu ga bener udah ga ada lagi,saya langsung terpikir kenapa tulisan2x Abang juga ga di ‘tarik’ sama elite global Bang? Saya mulai ikutin tulisan2x Abang ketika ada yg men-sharex di group WA saat awal mula si kopit sekitar maret lah..dari situ setiap mlm saat mau tidur pasti sy buka tulisan2x Abang,kl dah lewat seminggu ga di buka maka akan jadi panjang juga daftar bacaan sy..kalo dianggap mengusik para Elite Global tentu dah hilang ya Bang tulisannya..Syukur Alhamdulillah ga diapa2in Bang..salut dah..!!

    1. Yg dibanned biasanya tulisan berbahasa inggris dan juga video dan berita dr Alt+Media berupa liputan. Ttg analisa geopolitik spt yg sy sajikan, biasanya tdk diusik. Fyi: blog saya sdh 2 kali dijebol sejak pertama launching. Semoga tdk berlanjut pd yg ketiga.

  3. Semoga kita segera menyusul spt swedia. Sebab peraturan tinggal peraturan. Bukti di lapangan, orang2 biasa aja kok. Cm pake masker aja. Tp perilaku sosial ga ada yg berubah. Jaga jarak ? Ga ada. Di tempat2 tertentu aja. Berkerumun ? Masih. Mudik ? Tetap jalan. Balik lagi ke kota, normal spt hari2 kmrn. Travel hilir mudik kok. Jadi optimis Indonesia akan menyusul spt Swedia ??

    1. Aamiin. Cm mslhnya 1. Swedia boleh dikata tdk butuh protokol kesehatan (selain panti jompo, ya) sedikitpun selain tdk butuh vaksin utk mengakhiri pandemi ini.

error: Content is protected !!