Pak Jokowi, Tirulah Swedia

In Sosial Budaya

Pak Jokowi, Tirulah Swedia

Oleh: Ndaru Anugerah

Dragon-dragon-nya, ada skenario baru yang akan dibuat oleh ‘elite global’ dalam memperpanjang situasi pandemi. Setidaknya begitu yang terjadi di AS saat ini.

Laporan yang dibuat oleh The Center for Infectious Disease Research and Policy alias Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular di Universitas Minnesota, setidaknya mengindikasikan hal tersebut (1/5).

Mereka mengatakan, “Pandemi virus Corona dapat berlanjut hingga 2022 dan tidak akan terkendali sampai mayoritas populasi dunia menjadi kebal.” (https://thehill.com/changing-america/resilience/natural-disasters/495635-coronavirus-pandemic-could-last-up-to-two-years)

Dikatakan bahwa akan ada pandemi flu terbaru dari C19 yang sangat menular, dan tidak akan berhenti menyebar hingga 60-70% populasi kebal, alias tercipta herd immunity.

Dan merujuk pada riset tersebut, AS diharapkan untuk mempersiapkan skenario terburuk, termasuk tidak tersedianya vaksin ataupun kekebalan kawanan.

Pesan tersirat yang ingin disampaikan adalah: pandemi ini tidak akan segera berakhir.

Disinilah pemerintah kita disajikan pilihan. Mau mengekor AS hingga 2 tahun lamanya, atau malah mengekor Swedia yang secara alami mengembangkan sistem herd immunity?

Bagi saya pribadi, baiknya pemerintah Jokowi mulai mengikuti pola yang dilakukan Swedia. Saya telah membuat ulasan tentang apa yang terjadu di negara tersebut sebelumnya. (baca disini)

Kenapa?

Pertama tidak mengorbankan kepentingan ekonomi nasional, yang kedua bersifat alamiah karena menggembangkan herd immunity, dan ketiga nggak perlu menunggu waktu lama plus tidak bergantung pada penemuan vaksin yang kelak akan dirilis oleh Big Pharma.

Kalo, misalnya, kita mengikuti pola di Swedia, apa yang harus dilakukan?

Kita akan mulai dengan membiarkan orang yang lebih muda dengan tingkat risiko rendah pada kematian, untuk bisa kembali bekerja (biasanya usia 40 tahun ke bawah).

Jadi orang yang lebih tua (50 tahun ke atas, mungkin) harus mengambil tindakan pencegahan dengan cara mengisolasi diri terlebih dahulu.

Ini akan memungkinkan sektor ekonomi untuk bergerak kembali sementara virus yang menyebar paling hanya akan menghantam segmen populasi yang ‘kecil’ kemungkinannya untuk mati.

Bukankah menurut laporan yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (17/2), menyatakan bahwa kelompok paling rawan terpapar C19 adalah 50 tahun ke atas? (http://weekly.chinacdc.cn/en/article/id/e53946e2-c6c4-41e9-9a9b-fea8db1a8f51)

Lalu bagaimana dengan tempat publik seperti restoran, sekolah dan beberapa usaha ritel lainnya? Ya dibuka saja, sambil memantau tingkat kasus positif C19 baru. Dan ini dilakukan secara ketat.

Artinya, begitu pihak otoritas kesehatan kewalahan, pemerintah bisa menetapkan pedoman dan batasan baru pada kebijakan publik yang menyangkut kumpul-kumpul.

Jam beraktivitas-pun tetap dibatasi sesuai kebijakan yang berlaku. Misalnya cukup 4/5 jam bekerja atau belajar dari seharusnya 8 atau bahkan 9 jam perhari. Ini diperlukan dalam rangka penyesuaian.

Jadi bagi kalangan pemodal, orientasi-nya jangan cari untung dulu, tapi ini semata-mata dilakukan agar usahanya nggak mengalami kebangkrutan di tahun ini. Survival dulu aja mikirnya.

Dengan melakukan ini, kita secara nggak langsung akan mendorong warga negara untuk memiliki kekebalan kawanan (herd immunity).

Orang yang terinfeksi akan menularkan infeksinya kepada orang yang sehat (tapi tergolong baik daya tahan tubuhnya), sehingga akan mengembangkan antibodi untuk melawan virus yang sekarang ada serta berpotensi sebagai ancaman masa depan.

Saat mayoritas populasi mengembangkan antibodi, mereka secara otomatis akan mencapai level herd immunity sebagai bentuk perlindungan dari penyakit menular yang terjadi saat sebagian besar populasi menjadi kebal dari infeksi sebelumnya.

Sebagai gambaran, penyebaran virus yang dikendalikan ala Swedia tersebut, hanya butuh waktu beberapa minggu saja, dimana pada titik itu mereka sudah nggak terlalu khawatir tentang wabah atau pandemi dimasa depan.

Dan satu hal penting yang perlu dapat perhatian pemerintah. Langkah mereka praktis tidak mengorbankan ekonomi nasional yang bisa berdampak pada jutaan angka pemgangguran, tingginya angka kriminalitas, kelaparan atau bahkan menambah utang negara milyaran dollar.

Saat pandemi berlalu, mereka dapat berjalan dengan normal seolah-olah tanpa pernah terjadi apa-apa.

Bandingkan kalo kita mengekor kebijakan yang dibuat AS dengan mengambil langkah lockdown.

Kaum muda bukannya didorong untuk mengembangkan sistem kekebalan kawanan, justru malah disuruh berbaring di atas sofa sambil menonton TV atau justru bermain gadget seharian, serta berharap menunggu datangnya keajaiban yang jatuh dari surga.

Sampai lebaran monyet juga nggak akan antibodi terbentuk lewat mekanisme stay at home.

Yang kita perlukan saat ini adalah penyebaran virus yang terkendali dengan cara mengembangkan kekebalan kawanan alias herd immunity. Paling mungkin itu yang bisa pemerintah lakukan saat ini.

Sekali lagi pak Jokowi, ini hanya masukkan buat pemerintahan bapak. Dipakai syukur, nggak pun juga gak masalah. Ini saya sampaikan sebagai bentuk kepedulian saya terhadap nasib bangsa ini.

Pilihan ada ditangan bapak.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu