Dan Korbanpun Berjatuhan


517

Dan Korbanpun Berjatuhan

Oleh: Ndaru Anugerah

Vaksinasi global sudah mulai dijalankan di beberapa negara. Dari beberapa vaksin yang banyak digunakan, salah satunya vaksin dengan teknologi baru berbasis m-RNA yang diproduksi PfiZer dan BioNtech.

Apakah proses vaksinasinya so far so good?

Sayangnya fakta berbicara lain.

Data yang dikeluarkan CDC mencatat bahwa 3150 orang yang telah mendapat suntikan vaksin tersebut ‘tidak dapat melakukan aktivitas normal sehari-hari alias nggak bisa bekerja’.

Angka ini berarti 2,7% dari orang yang menerima suntikkan. Pertanyaannya: kalo nggak bisa bekerja, apa itu efek samping yang biasa? (https://www.cdc.gov/vaccines/acip/meetings/downloads/slides-2020-12/slides-12-19/05-COVID-CLARK.pdf)

Di Portugis lain lagi ceritanya. Tenaga kesehatan (nakes) yang berusia 41 tahun terpaksa menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya 2 hari setelah mendapatkan suntikan vaksin tersebut. Bahkan saking penasarannya sang ayah berkata, “Saya ingin tahu jawabannya.” (https://trib.al/eEWi66p)

Seorang dokter wanita berusia 32 tahun di Mexico juga mengalami nasib serupa setelah mendapatkan suntikkan vaksin Pfizer tersebut. Dirinya terpaksa dirawat setelah mengalami sesak nafas, kejang-kejang dan kulit ruam. (https://www.reuters.com/article/health-coronavirus-mexico-vaccines-idUSKBN2970H3)

Di Israel, setidaknya ratusan orang malah terinfeksi virus Kopit setelah menerima vaksin Big Pharma tersebut. Jadi bukan malah bebas Kopit tapi malah tertular Kopit. Nah lho? (https://www.rt.com/news/511332-israel-vaccination-coronavirus-pfizer/)

Seorang istri dokter (56) di Miami AS yang kondisinya sangat sehat, akhirnya meninggal karena kelainan darah setelah mendapatkan suntikkan vaksin Pfizer. Kalo orang yang kondisinya sehat sangat sehat bisa tewas, bagaimana yang rentan? (https://www.dailymail.co.uk/news/article-9119431/Miami-doctor-58-dies-three-weeks-receiving-Pfizer-Covid-19-vaccine.html)

Berikutnya di Israel lagi, pria berusia 75 tahun langsung meninggal 2 jam setelah mendapatkan vaksin tersebut. (https://www.israelnationalnews.com/News/News.aspx/293865)

Nakes di Juneau, Alaska yang tidak memiliki penyakit alergi sebelumnya, dipaksa mendapatkan perawatan intensif dengan reaksi yang parah juga setelah mendapatkan suntikkan vaksin Pfizer. (https://metro.co.uk/2020/12/16/hospital-worker-in-intensive-care-after-suffering-severe-allergic-reaction-to-covid-vaccine-13763695/)

Di Norwegia, investigasi terpaksa dilakukan setelah 2 orang penghuni panti jompo meninggal setelah beberapa hari menerima vaksin Pfizer tersebut. (https://www.rt.com/news/511623-norway-covid19-vaccine-deaths/)

Di Michigan lain lagi ceritanya. Ratusan orang terpaksa dikirim ke UGD setelah menerima vaksin Pfizer tersebut. (https://m.theepochtimes.com/hundreds-sent-to-emergency-room-after-getting-covid-19-vaccines_3644148.html)

Bahkan seorang pejabat di AS sana melaporkan reaksi alergi yang lebih parah setelah mendapatkan suntikkan vaksin buatan Pfizer tersebut. (https://www.google.com/amp/s/mobile.reuters.com/article/amp/idUSKBN29B2GS)

Masih banyak lagi kasus cedera vaksin yang tidak mungkin saya ungkapkan satu persatu. Anda bisa lakukan pencarian kalo ingin tahu lebih.

Point-nya, kalo jangka pendek saja vaksin tersebut sudah mendatangkan ‘masalah’, gimana efek jangka panjangnya?

Ini perlu dijadikan ‘tekanan’ mengingat vaksin punya efek jangka panjang. Apalagi vaksin berbasis m-RNA merupakan vaksin ‘tahu bulat’ yang baru pertama kalinya diujicobakan pada manusia. (baca disini dan disini)

Apa iya nggak punya efek samping yang signifikan?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


6 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!