Siapa Yang Mau?


508

Siapa Yang Mau?

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, bisa tolong jelaskan apa perbedaan GMO dan NGT? Kenapa juga keduanya banyak mendapat penentangan?” tanya seorang netizen.

Secara harafiah, GMO alias Genetically Modified Organisms (GMO) adalah hewan, tumbuhan ataupun mikroba yang DNA-nya telah diubah gen-nya, dengang menggunakan teknik rekayasa genetik. Dengan kata lain GMO adalah produk rekayasa genetika. (https://education.nationalgeographic.org/resource/genetically-modified-organisms)

Sedangkan NGT alias New Genomic Techniques (NGT) adalah teknik yang mampu mengubah materi genetik suatu organisme. Dengan kata lain, NGT adalah teknik yang dikembangkan untuk mengembangkan produk hewan, tumbuhan ataupun mikroba baru, yang DNA-nya telah direkayasa.

NGT dikembangkan sejak 2001 silam, dimana pada saat yang sama di Eropa sana, UU yang meniolak produk GMO mulai diperkenalkan. Biasanya NGT digunakan untuk aplikasi produk pertanian, industri maupun farmasi. (https://food.ec.europa.eu/plants/genetically-modified-organisms/new-techniques-biotechnology/ec-study-new-genomic-techniques_en)

Dengan kata lain, kalo NGT adalah teknik rekayasa genetika, sedangkan GMO adalah produk yang dihasilkan dari teknik rekayasa tersebut.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa di Eropa saja, di tahun 2001, GMO dilarang keras peredarannya. Ajaibnya, NGT justru baru dimulai keberadaannya saat bersamaan.

Artinya, aktivitas NGT yang ujung-ujungnya menghasilkan GMO, nggak bisa dihentikan. Malah belakangan mendapatkan endorsement dari para ilmuwan. Salah satu bentuk promosi yang diberikan oleh para ilmuwan adalah upaya untuk menderegulasi aturan transgenik yang selama ini ditabukan.

Apa pentingnya para ilmuwan mempromosikan upaya transgenik?

Menurut laporan yang dikeluarkan oleh Partai Hijau Eropa (The Greens), para ilmuwan berkepentingan terhadap upaya promosi rekayasa genetik dengan berbagai motif, mulai dari dukungan finansial guna mendapatkan uang, hingga pengembangan karir mereka. (https://www.greens-efa.eu/en/article/study/behind-the-smokescreen)

Padahal banyak ilmuwan internasional juga yang menentang promosi transgenik yang selama ini digaungkan dengan istilah ‘pemuliaan presisi’ pada editing gen. Bagaimana mungkin kata presisi digunakan jika secara teknis produk yang dihasilkan nggak berhasil dan nggak layak pakai? (https://docs.google.com/document/d/1bTXTWZwwDHfReRaiA4Kt25Jfrqab4iNyAlLAsEGTPR4/edit)

Upaya penentangan produk GMO dan NGT juga disuarakan GMWatch.

“Itu bukan saja menyesatkan tetapi juga berbahaya mengingat teknik-teknik penyuntingan gen bisa berdampak serius pada kesehatan dan juga lingkungan,” ungkap Claire Robinson. (https://gmwatch.org/en/106-news/latest-news/20105-many-agbiotech-scientists-pushing-for-eu-deregulation-of-gmos-have-vested-interests)

Meskipun banyak pihak menentang keberadaan GMO/NGT, faktanya upaya penggunaannya masih marak saja. Nggak heran jika Uni Eropa memutuskan di tahun 2018 silam bahwa organisme yang dihasilkan lewat teknik modifikasi genetika, harus diatur secara ketat oleh UU. (https://www.gmo-free-regions.org/past-gmo-free-conferences/gmo-free-europe-2018.html)

Lalu bagaimana dengan masyarakat? Apakah mereka tahu dampak penggunaan GMO pada produk makanan dan kesehatan?

Di Rusia saja, 70% masyarakatnya telah paham jika makanan hasil rekayasa genetik (GMO) nggak layak dan nggak aman untuk dikonsumsi. Penduduk Italia, Korea Selatan hingga India, juga sangat paham akan konsekuensi penggunaan GMO pada produk pangan. (https://www.pewresearch.org/science/2020/09/29/science-and-scientists-held-in-high-esteem-across-global-publics/)

Atas temuan ini, GMWatch menyimpulkan jika konsumen tidak menginginkan makanan hasil rekayasa genetik. Karenanya kalaupun produk GMO digunakan, haruslah diberi label khusus. (https://www.gmwatch.org/en/106-news/latest-news/19744-majority-of-europeans-want-gm-foods-including-gene-edited-ones-to-be-labelled)

Untuk apa GMO dikembangkan?

Nggak lain untuk memenuhi rasio kecukupan pangan global yang dinilai cukup rawan. Karenanya produksi pertanian perlu digenjot lewat GMO, agar kelaparan global nggak terjadi. (https://globalfutures.georgetown.edu/responses/the-role-of-gmos-in-combating-food-insecurity)

Faktanya bagaimana?

Dalam beberapa kasus, GMO justru menurunkan hasil pertanian.

Bukan hanya itu, karena kelaparan dunia nyatanya tidak disebabkan oleh kurangnya produktivitas pertanian melainkan oleh kemiskinan dan sistem pangan global yang tidak menerapkan azas keadilan. (https://livingnongmo.org/wp-content/uploads/2014/11/GMO-Myths-and-Truths-edition2.pdf)

Bahasa sederhananya: produksi pangan cukup namun distribusinya saja yang nggak merata.

Selain itu, sudah rahasia umum jika tanaman transgenik tidak direkayasa untuk meningkatkan hasil pertanian atau menghadapi tantangan pertumbuhan terkait iklim, seperti kekeringan, yang ditahun-tahun mendatang diprediksi makin banyak terjadi. (https://www.greenamerica.org/gmos-stop-ge-wheat/genetic-engineering-gmos/gmos-dont-feed-world)

Tentang ini saya pernah bahas pada 3 tulisan saya di tahun lalu. (baca disini, disini dan disini)

Jadi, walaupun banyak yang menentang, nyatanya baik NGT ataupun GMO terus jalan saja, malahan makin berkembang plus mendapatkan endorsement dari banyak pihak. Uang yang digelontorkan kartel Ndoro besar adalah alasan utamanya.

Dengan uang yang sangat banyak guna sogok sana-sini, apa yang nggak mungkin akan jadi mungkin. (https://corporateeurope.org/en/2021/03/uncovered-biotech-industrys-latest-lobby-tactics-deregulate-new-gm-crops-and-animals-europe)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!