Serangan Teror di Sigi


515

Serangan Teror di Sigi

Oleh: Ndaru Anugerah

Aksi teror kembali terjadi di Lemban Tongoa, Sigi yang ada di Sulawesi Tengah. Teror yang diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso tersebut berhasil menewaskan 4 orang yang berstatus satu keluarga dan merupakan jemaat Gereja Bala Keselamatan. (https://kumparan.com/kumparannews/4-orang-di-sigi-tewas-polisi-diminta-usut-teror-yang-diduga-dilakukan-mit-poso-1ug5Unz1R3j/full)

Saat ini pemerintah telah menugaskan satgas Tinombala untuk menangkap pelaku teror tersebut. (https://www.tribunnews.com/nasional/2020/11/29/satgas-tinombala-isolasi-dan-kepung-kelompok-mit-pelaku-teror-di-sigi-sulteng)

“Bagaimana sih Bang ceritanya kok teroris bisa ada di Republik Wakanda?” tanya seseorang.

Tentang ini saya pernah bahas dengan detil pada ulasan berikut. (baca disini dan disini)

Secara singkat, Perang Afghanistan-lah pemicunya, dimana Washington yang saat itu punya tujuan untuk membendung kekuatan Uni Soviet di Afghanistan, menggunakan mesin perang Wahhabi yang dibesarkan oleh Saudi. Walhasil, jihad melawan komunisme diserukan. (https://www.dw.com/en/pakistans-islamization-before-and-after-dictator-zia-ul-haq/a-19480315)

Namanya perang, pasti butuh banyak orang yang terlibat, bukan?

Dalam proyek besar tersebut, Indonesia juga terlibat dengan cara mengirim pasukan jihad ke Afghanistan. Dan Saudi menggunakan tangan Sungkar dan elemen Darul Islam lainnya di Indonesia untuk mengkonsolidasikan pasukan jihad yang siap bertempur ke Afghanistan. (https://www.jstor.org/stable/23615642)

Menurut laporan International Crisis Group, setidaknya ada 200 orang jaringan Sungkar-Bashir yang dikirim ke Afghanistan, dimana Liga Dunia Islam yang jadi sponsornya.

Sebelum diterbangkan ke Afghanistan, mereka mendapatkan pelatihan di Kamp Militer Abdul Rasul Sayyaf (Filipina) yang terkoneksi dengan jaringan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden (OBL). (https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/10576100701501984)

Dengan kata lain, tanpa adanya Perang Afghanistan dan pendanaan Saudi, nggak mungkin ada jaringan teroris di Indonesia. Kelak alumnus Afghanistan inilah yang akan membangun jaringan teror di Indonesia yang belakangan dikasih nama Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Ali Kalora.

Lantas siapa sesungguhnya Abu Sayyaf?

Dari tahun 1986-1994, saudara ipar dari OBL yang bernama Muhammad Jamal Khalifa, mengepalai kantor Organisasi Bantuan Islam Internasional (IIRO) cabang Filipina, yang terkoneksi dengan Saudi. Nah, begitu dana digelontorkan, Jamal Khalifa langsung menyalurkan ke kelompok teror yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, termasuk jaringan Abu Sayyaf.

Jadi organisasi teror model Abu Sayyaf, dapat sokongan dana penuh dari Saudi agar bisa terus beroperasi. Penyalurnya ya lewat badan-badan amal yang berada dalam payung besar bernama Liga Dunia Muslim bentukan Saudi, dari mulai IIRO, Al-Wafa hingga Mercy.

Alih-alih kasih bantuan kemanusiaan, tahunya malah bantu teroris. (https://www.washingtoninstitute.org/policy-analysis/view/tackling-the-financing-of-terrorism-in-saudi-arabia)

Kenapa gerakan MIT berpusat di Poso?

Karena mereka punya cita-cita untuk menegakkan kekhalifahan Islam di dunia. Untuk ini mereka sudah buat peta-nya dan khusus di Indonesia mereka beri nama sebagai Khilafah Tenggara (alias Daulah Islamiyah Nusantara) yang berpusat di Poso.

Selain itu Poso secara geografis berada nggak jauh dari Pulau Mindanao yang jadi markas gerakan Abu Sayyaf di Filipina. Setidaknya Natalia Rogozhina, PhD selaku pengamat politik internasional mengamini hal tersebut. (https://journal-neo.org/2014/12/19/rus-indoneziya-lakomy-j-kusok-dlya-igil/)

Rogozhina menambahkan, dari Poso jaringan tersebut melakukan rekrutasi kepada calon teroris lainnya melalui dakwah di masjid-masjid dan juga melalui jejaring sosial alias kelompok Islam radikal lokal. Dari usaha tersebut, kelompok Poso berhasil menjaring sekitar 3000 orang yang bisa dijadikan kader di tahun 2014.

Bisa dikatakan bahwa jaringan Poso dan Filipina Selatan saling terkoneksi erat karena faktor historis, geografis dan juga pendana yang sama.

Apakah niatan pemerintah untuk ‘mengamankan’ daerah Poso otomatis akan menghentikan aksi teror yang ada selama ini? (https://www.medcom.id/internasional/asia/gNQxG9oK-densus-88-isis-coba-duduki-poso-sebagai-markas-di-asia-tenggara)

Selaku analis saya katakan, bahwa itu ibarat mengatasi penyakit dengan cara minum obat. Setelah minum obat, maka penyakitnya memang sementara hilang. Apakah penyakitnya nggak bakal kumat kembali? Nggak juga. Pasti akan kambuh lagi, suatu saat nanti.

Dengan kata lain, kalo mau basmi terorisme, yang ditanggulangi ya sumber masalah utamanya, yaitu pendananya. Kalo nggak ada sumber dana masuk, apa mungkin terorisme bisa hidup, beli senjata dan cari kader untuk direkrut sebagai anggota? Itu yang harusnya ditangani.

Masalahnya, apa pemerintah Wakanda berani melakukan upaya screening tersebut? (baca disini)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


2 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. bang saya pernah baca artikel tapi lupa dimana, bahwa ngga cuma teroris yg didanai, tapi juga “pemberantasan teroris”, dan pemberantas pun melalukan “ternak” teroris. nahaimana dengan analisa dari sisi itu bang.

error: Content is protected !!