Provokasi di Bumi Cendrawasih (*bagian 1)


534

Tanjung Priok Jakarta, 10 September 1984.

Seorang Babinsa berpangkat sersan, Hermanu namanya, tiba-tiba mendatangi Masjid As Saadah. Kedatangannya bukan tanpa tujuan, melainkan memaksa pengurus masjid untuk menghapus brosur dan spanduk yang isinya mengkritik pemeritahan Soeharto.

Sayangnya, pengurus masjid menolak perintah tersebut. Karena perintahnya tidak digubris, sang sersan melakukannya sendiri, dan konon katanya memasuki area sholat tanpa melepas sepatunya. Apa itu hanya kebetulan terjadi atau malah sebaliknya?

Akhir cerita, kita sudah tahu bersama. Peristiwa Tanjung Priok meletus dan menelan banyak korban jiwa.

Provokasi sederhana, berbuah petaka. Siapa kira-kira dalangnya, silakan simpulkan sendiri.

Pada kasus yang berbeda, di Surabaya pada saat menjelang perayaan HUT kemerdekaan RI, di suatu WAG beredar gambar tiang bendera merah putih dipatah-patahkan dan benderanya dibuang di selokan.

Kebetulan lokasinya berada di Asrama Mahasiswa Papua yang beralamat di Jalan Kalasan 10, Surabaya.

Akibatnya sungguh dahsyat. Beberapa ormas, segera menggeruduk TKP. Namun kenyataan yang mereka temukan di lapangan sungguh berbeda. Setibanya di depan asrama, mereka mendapati bendera merah putih sudah terpasang kembali (berita CNN, 16/8).

Kendati demikian, massa tidak juga puas. Tiba-tiba muncul seruan: “Pantaskah bendera kita dibuang di selokan?” Seruan provokatif yang memancing emosi massa.

Nggak pake lama, asrama segera diserbu massa. Bahkan syahdan terdengar makian kepada mahasiswa Papua yang bermukim disana, dengan ungkapan ala kebun binatang.

Singkat cerita, apa yang terjadi di Surabaya langsung direspon dengan cepat di bumi Papua, tepatnya di Manokwari. Kerusuhan-pun pecah disana sebagai aksi balasan atas persekusi berbau rasial terhadap rekan-rekan mereka di Surabaya.

Puncaknya gedung DPRD Papua Barat dibakar dan kerusuhan meluas dengan cepat ke daerah lain di Papua.

Buntutnya, Gubernur Jawa Timur, Khofifah minta maaf kepada warga Papua. Artinya ada kesalahan yang dibuat. Oleh siapa? Ini yang sekarang sedang didalami aparat keamanan.

Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah semuanya terjadi secara kebetulan?

Sulit untuk mengatakan bahwa kasus rusuh baik di Surabaya dan Papua, terjadi secara spontan. Sama sulitnya ketika kita mengatakan, kasus Tanjung Priok juga terjadi secara kebetulan.

Timbulnya massa dalam jumlah besar yang terjadi dalam waktu singkat, bukanlah kejadian alami dalam sistem sosial. Saya pernah di lapangan, karenanya saya cukup paham atas fenomena yang terjadi.

Ada pra-kondisi yang membuat hal itu bisa terjadi, alias ada provokasi. Dan provokasi dibutuhkan untuk menaikkan isu dan aksi yang lebih besar lagi.

Siapa kira-kira yang mempunyai niat besar untuk ‘membakar’ bumi Papua? Siapa yang paling berkepentingan atas sumber daya alam yang ada disana?

Saya pernah membahas hal ini secara tuntas lewat dua tulisan berseri. Silakan anda baca (disini *Ketika Sorga Bergolak). Insha Allah anda akan paham siapa kekuatan besar yang bermain di Papua.

Lalu siapa operator lapangannya?

Benny Wenda. Setidaknya Effendi Simbolon sebagai politisi PDIP yang langsung tunjuk siapa dalang dibalik rusuh di Manokwari dan sejumlah kota lainnya di Papua Barat. Benarkah dugaan tersebut?

Tak hanya itu, Effendi bahkan mengatakan bahwa rangkaian rusuh yang bermula dari tindakan represif polisi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, memang telah sengaja didesain untuk menciptakan kerusuhan (20/8).

Kalo benar dugaan Effendi, lalu apa target rusuhnya? Dan bagaimana cara kerja dari gerakan Papua Merdeka serta kiprah Benny Wenda di luar sana?

Saya akan ulas pada tulisan saya, berikutnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!