Operasi Ajax

In Sejarah

Operasi Ajax

Oleh: Ndaru Anugerah

Kapan AS melancarkan operasi kudeta asing untuk pertama kali?

Jawabannya di Iran pada tahun 1953. Tentu saja aksi ini nggak sendirian dilakukan AS karena ada mitranya Inggris yang ikut ‘mengarahkan’ jalannya operasi rahasia tersebut. (https://foreignpolicy.com/2017/06/20/64-years-later-cia-finally-releases-details-of-iranian-coup-iran-tehran-oil/)

Kenapa Inggris membatu operasi rahasia tersebut? Karena ada kepentingan deep-state yang dilanggar oleh pemerintah yang baru terpilih di Iran.

Sebelum Mossadegh berkuasa, Iran hanya mendapatkan keuntungan atas konsesi minyak sebesar 8-16% saja. Itupun Iran tidak diperbolehkan melihat pembukuan perusahaan minyak milik Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) tersebut.

Sesudah Mossadegh berkuasa karena terpilih secara demokratis, Iran menuntut jatah lebih tinggi yaitu 50% dari keuntungan industri minyak mereka. Itu merupakan permintaan yang wajar, mengingat konsesi minyak AS di Saudi juga sebesar 50% margin keuntungan.

Karena deadlock, di tahun 1951, Mohammad Mossadegh langsung mengumumkan bahwa dirinya akan menasionalisasi aset AIOC yang belakangan berganti nama menjadi British Petroleum dengan persetujuan parlemen. (https://www.sjsu.edu/faculty/watkins/mossadeq.htm)

Dari namanya anda pasti tahu, perusahaan itu milik negara mana, bukan?

Ini sungguh parah, mengingat AOIC memiliki hak monopoli atas konsesi minyak Iran yang sangat besar. Ini sudah pasti buat Inggris meradang. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan menggulingkan Mossadegh.

Bagaimana teknisnya?

Kalo anda baca analisa saya tentang Deep-State, anda nggak akan heran, mengingat para pemilik Big Oil yang punya wadah Wallstreet terkoneksi erat dengan CIA. (baca disini)

Meskipun awalnya, Presiden Truman menolak rencana kudeta tersebut toh rencana tetap jalan. Ini dimungkinkan dengan terpilihnya Eisenhower sebagai pengganti Truman di tahun 1953. Dan presiden AS layaknya boneka, sudah pasti tunduk pada aturan main yang ditetapkan deep-state.

Singkat cerita, karena kepentingan bisnis kartel dipersulit, maka CIA lah yang kemudian ambil posisi untuk menggelar operasi rahasia guna menggulingkan rezim yang berkuasa.

Siapa yang akan disokong CIA sebagai penantang Mossadegh? Nggak lain adalah Mohammad Reza Pahlavi yang merupakan kelompok pro-monarki di Iran. (http://www.nytimes.com/library/world/mideast/041600iran-cia-index.html)

Bagaimana kekacaua di Iran direkayasa CIA?

Dengan buat skenario bahwa rezim Mossadegh adalah rezim yang pro-komunis. Jadi kalo anti-Mossadegh sama saja dengan anti Komunis bagi negara yang berpenduduk muslim tersebut.

Untuk menambah dramatis suasana, CIA mengebom seorang tokoh muslim terkemuka di Iran. Lalu CIA juga melakukan kampanye propaganda besar melalui tangan media massa utama dalam mendukung skenario tersebut, dengan membayar sekitar USD 45.000.

Sungguh sempurna. Rakyat Iran yang saat itu buta informasi, langsung menyantap skenario yang disajikan oleh media massa utama atas pesanan CIA. Sehingga marah-lah rakyat Iran dan mendukung penggulingan rezim Mossadegh yang dinilai pro-komunis dan anti-Islam.

Saat terjadi kekacauan di Iran akibat kepemimpinan Mossadegh, sesuai arahan Shah Pahlavi mengeluarkan dekrit kerajaan yang intinya memecat Mossadegh dan menunjuk Jenderal Zahedi sebagai perdana menteri.

Dengan kudeta tersebut, maka posisi pemerintahan Shah praktis diperkuat. Padahal Shah sempat melarikan diri dari Iran akibat kalah dalam perebutan kekuasaan dengan Mossadegh. Dan Iran otomatis menjadi sekutu AS dan Inggris.

Operasi rahasia yang belakangan diberi nama Ajax tersebut, merupakan sukses perdana yang dihasilkan oleh duet maut CIA dan MI6, dengan cara menggunakan lengan media massa dalam mempengaruhi opini publik di Iran.

Tercatat 300 orang tewas akibat baku tembak yang terjadi di jalan-jalan Teheran. Dan ini memang skenario yang dikehendaki CIA dalam menyulut aksi-aksi jalanan dalam menggoyang kepemimpinan Mossadegh. Kalo nggak timbul korban jiwa, bagaimana aksi kudeta bisa sukses dijalankan? (http://www.guardian.co.uk/politics/2003/aug/20/foreignpolicy.iran)

Dan kesuksesan yang berhasil diraih deep-state adalah kembalinya hak konsesi minyak Iran ke pangkuan mereka dengan lebih dalam. (https://www.cairn.info/revue-internationale-des-etudes-du-developpement-2017-1-page-63.htm)

Anyway, kenapa kejadian di Iran mirip-mirip dengan kejadian kudeta di Indonesia?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu