Menggulingkan Arbenz

In Sejarah

Menggulingkan Arbenz

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada 1954, situasi tragis terjadi di Guatemala. Sang presiden yang terpilih secara demokratis dikudeta dengan dukungan penuh dari CIA.

Dan nasib Presiden Jacobo Arbenz langsung karam, digantikan oleh diktator militer binaan AS Kolonel Carlos Armas. (https://www.history.com/this-day-in-history/colonel-castillo-armas-takes-power-in-guatemala)

Kok binaan AS? Karena memang begitu kenyataannya. Anda pernah dengar SOA, bukan? (baca disini)

Kenapa seorang Arbenz perlu dilengserkan lewat kudeta?

Kesalahan yang dilakukan Arbenz cukup fatal. Dia adalah seorang sosialis yang mendukung penuh program land-reform di negaranya. Sudah pasti tindakannya tersebut mendapat simpati dari kalangan misqueen tapi mendapat hujatan dari kalangan berpunya.

Awalnya AS lewat tangan CIA mencoba cara ‘halus’, tapi menemui kegagalan. Dan Arbenz hanya meninggalkan satu opsi bagi CIA untuk dirinya, yaitu kudeta. (http://www.browsebiography.com/bio-jacobo_arbenz_guzman.html)

Tentang kudeta yang berlangsung di Guatemala, The National Security Archive telah merilis dokumen rahasia tersebut karena ada mekanisme Freedom of Information Act di AS sana. Jadi ini bukan lagi misteri lagi, karena memang ada bukti otentiknya. (http://nsarchive.gwu.edu/NSAEBB/NSAEBB4/ciaguat2.html)

Lalu bagaimana ikhwal jalannya kudeta berdarah tersebut?

Edward Bernays selaku tokoh rekayasa sosial dan ahli propaganda membantu jalannya kudeta. Menjelang peristiwa tersebut, Bernays adalah kepala propagandis United Fruit Company (UFC) yang kepentingannya diusik oleh Presiden Arbenz.

Dengan kepiawaiannya, Bernays membuat propaganda yang isinya menyatakan bahwa Arbenz adalah tokoh komunis yang bersekongkol dengan Uni Soviet. (https://www.modernmarketingpartners.com/2017/06/01/chiquita-pr-campaign/)

Dan di masa Perang Dingin, penggunaan retorika anti-komunis atau anti-soviet sudah lazim digunakan AS untuk menghantam siapapun yang ‘berseberangan’ dengan garis Washington. Tak terkecuali Arbenz.

Perlu anda ketahui bahwa UFC yang sekarang bernama Chiquita Brands International merupakan perusahaan deep-state yang menguasai konsesi lahan dan banyak bisnis pertanian di Guatemala dan negara Amerika Latin lainnya.

Dan UFC terkenal getol mendukung sosok diktator di Amerika Latin yang gemar ‘mengeksploitasi’ rakyatnya beserta lahan yang dimilikinya. (http://www.stephenschlesinger.com/bitter.html)

Singkat cerita, kalo seorang kepala negara di Amerika Latin mau tetap berkuasa, maka dirinya jangan coba-coba mengusik kepentingan UFC. Apalagi buat kebijakan yang mengusik bisnis UFC di sana. (http://www.harpercollins.com/9780062276162/the-devils-chessboard)

Kalo sudah diusik, maka tangan militer akan digunakan untuk menjatuhkannya. Tentunya dengan memakai pejabat di kemiliteran yang telah mengenyam pendidikan di SOA.

Dan ini paralel dengan pernyataan Mayor Jenderal Marinir AS Smedley Butler, “Militer AS sering digunakan untuk menghadapi segala perlawanan terhadap kepentingan bisnis perusahaan AS yang ada di LN.” Tentu perusahaan yang terkoneksi dengan bisnis kartel kelompok Wallstreet. (http://www.ratical.org/ratville/CAH/warisaracket.html)

Di tahun 1953, Arbenz mengeluarkan Dekrit 900 yang isinya ‘negara akan mengambil alih tanah pertanian di pedesaan’. Dan sialnya, mayoritas tanah di pedesaan tersebut milik UFC. Atas tanah yang dirampas negara, pihak swasta tetap dapat kompensasi, tapi dengan nilai nominal yang kecil.

Dan kebijakan tersebut nggak diterima oleh UFC.

Singkat cerita lewat tangan Dubes AS untuk Guatemala John Peurifoy, UFC coba menyuap Arbenz dengan imbalan sekitar USD 2 juta. Tujuannya satu: reformasi agraria yang dilakukannya, dihentikan. Namun niat ‘baik’ itu medapat penolakan dari Arbenz.

Lantas kenapa UFC memakai tangan CIA dalam menggelar rencana kudeta?

Pertama karena UFC adalah bisnis kartel yang terkoneksi dengan Big Fruit. Dan kedua, pemerintahan Eisenhower memiliki relasi yang erat dengan UFC.

Anda perlu tahu bahwa Menlu AS saat itu adalah John Foster Dulles juga menjadi pengacara UFC melalui firma hukumnya Sullivan & Cromwell. Sedangkan Allen Dulles, merupakan Direktur CIA saat itu, juga merupakan direksi di UFC selain menjadi konsultan hukum di perusahaan tersebut.

Dengan kata lain, operasi CIA sangat sarat kepentingan.

Bayangkan kalo anda punya bisnis, terus diusik sama seseorang, apa anda nggak marah?

Dan semua rencana yang dirancang oleh CIA, berhasil dengan gemilang. Arbenz tersingkir dan ratusan ribu orang Guatemala akhirnya dibantai karena peristiwa tersebut. (http://johnpilger.com/articles/the-revolutionary-act-of-telling-the-truth)

Sekali lagi, peristiwa kudeta yang terjadi di Guatemala menegaskan akan kolaborasi penting antara pihak Wallstreet dan CIA dalam menjalankan bisnis kartel yang dimilikinya. Dan kalo kepentingan bisnis kartel tersebut terkendala, maka tangan CIA akan digunakan.

Parahnya, orang awam hanya melihat peristiwa tersebut sebagai kepentingan AS yang dilanggar. Nyatanya, ini nggak ada kaitannya dengan negara AS sama sekali, tapi pihak swasta yang akhirnya memakai lengan negara AS dalam menjalankan operasi rahasianya. Itulah deep-state. (baca disini)

Semoga anda makin paham modus operandinya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 2)

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama tulisan, saya sudah mengulas tentang upaya yang dilakukan BG dalam

Read More...

Mengubah Kode Genetik? (*Bagian 1)

Mengubah Kode Genetik? (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Secara fungsional, virus nggak memiliki nyawa sendiri. Untuk bisa hidup, mereka harus tumbuh

Read More...

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 1)

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Apa penyebab utama pemanasan global? Kalo ditanya sang Ndoro besar, sudah pasti jawabannya karena

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu