Namanya Juga Jualan


512

Namanya Juga Jualan

Oleh: Ndaru Anugerah

Pfizer buat gebrakan. Bersama dengan mitra kolaboratif-nya BioNTech SE mengklaim berhasil menemukan kandidat vaksin untuk memerangi si Kopit.

CEO Pfizer, Albert Bourla mengatakan, “Kami berhasil mengembangkan vaksin saat dunia kini sangat membutuhkannya.” (https://www.pfizer.com/news/press-release/press-release-detail/pfizer-and-biontech-announce-vaccine-candidate-against)

Sontak rilis berita yang diberikan Pfizer sukses membuat pasar bereaksi positif. Saham Pfizer di bursa New York langsung naik 15%. (https://www.ft.com/content/9bde4bff-acf0-4c2a-a0d0-5ed597186496)

Memang apa vaksin yang berhasil dibuat Pfizer?

Vaksinnya diberinama BNT162b2. Ini adalah jenis vaksin m-RNA, sama jenisnya dengan vaksin Kopit yang kini dikembangkan Moderna. (baca disini dan disini)

Berdasarkan klaim Pfizer, mereka berhasil melakukan uji klinis fase 3 yang dimulai pada 27 Juli silam, dengan melibatkan sebanyak 43.538 relawan.

“Analisa sementara dari uji klinis tahap 3 kami membuktikan bahwa vaksin kami dapat secara efektif mencegah Kopit,” begitu ungkap Ugur Sahin dari BioNTech selaku rekanan Pfizer.

Masalahnya, kalo sekedar klaim kosong, nenek-nenek juga bisa melakukan hal tersebut.

Yang dibutuhkan adalah transparansi data uji klinis yang dilakukan kepada publik, sehingga bisa menjawab apakah vaksinnya aman, efektif dan bisa diproduksi secara konsisten dengan standar kualitas tinggi. Selama belum ada laporan peer-review nya, bisa dikatakan bahwa itu hanya klaim kosong.

Belum lagi kalo dinalar, bahwa vaksin m-RNA adalah jenis vaksin teknologi baru yang belum pernah diberikan pada manusia. Jadi vaksin ini belum diketahui tingkat keamanannya jika dipakai dalam program vaksinasi massal. (https://www.nbcnews.com/health/health-news/pfizer-s-covid-19-vaccine-promising-many-questions-remain-n1247102)

Apakah klaim Pfizer berhasil dibuktikan? Entahlah.

Yang jelas Pfizer pernah melakukan manipulasi data penelitian di tahun 2008. Saat itu, obat Pfizer yang diberi nama Neurontin dipakai dalam pengobatan pasien epilepsi. Padahal FDA nggak kasih ijin untuk penggunaannya. Walhasil hasil penelitian abrakadabra dirilis untuk meyakinkan publik. (https://www.nytimes.com/2008/10/08/health/research/08drug.html)

Belakangan, hasil uji klinis malah menunjukkan hasil negatif atas penggunaan obat Neurontin tersebut. Aliasnya obat nggak boleh beredar di pasaran, apalagi dipakai pada penderita epilepsi.

Atas manipulasi data penelitian ini, maka Pfizer dipaksa membayar sekitar USD 325 juta sebagai konsekuensinya di tahun 2014 silam. (https://www.reuters.com/article/us-pfizer-neurontin-settlement-idUSKBN0ED1IS20140602)

Kalo di tahun 2014 Pfizer pernah manipulasi data penelitian, apakah kasus itu nggak mungkin berulang saat ini?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!