Menyoal Vaksin Big Pharma (*Bagian 1)


530

Menyoal Vaksin Big Pharma (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Saat ini, 9 perusahaan farmasi besar dunia, sedang berlomba menciptakan vaksin. Kenapa dibutuhkan vaksin? Karena si Kopit dianggap sebagai ancaman serius.

Saking seriusnya, sampai-sampai pemerintahan Trump menurunkan Operation Warp Speed, agar vaksinnya secara simsalabim bisa cepat tersedia. (https://www.forbes.com/sites/moneyshow/2020/06/16/9-pharmaceutical-companies-racing-for-a-covid-19-vaccine/)

Nggak aneh jika kemudian Trump menggandeng Big Pharma dalam menghasilkan vaksin si Kopit tersebut. Dana yang digelontorkan-pun bukan kaleng-kaleng, karena mencapai angka USD 10 milyar.

Dari 9 perusahaan yang disebutkan dalam artikel Forbes tersebut, 6 merupakan big pharma.

Masalahnya dimana?

Big pharma yang digandeng pemerintah Trump, punya banyak catatan hitam dari mulai produk cacat, kasus suap, korupsi, manipulasi pasar saham hingga mengkatrol harga obat di pasaran. Kebayang dong kalo perusahaannya sudah bermasalah, apa anda yakin vaksin yang dikeluarkan nggak bermasalah?

Saya coba bahas ya…

Pertama ada Johnson & Johnson. Sudah seringkali perusahaan ini dituntut di pengadilan AS dan Kanada, karena telah memproduksi bedak bayi yang dapat menyebabkan kanker. Karena sering kali dituntut dan terbukti bersalah, J&J terpaksa berhenti menjual bedak bayi di kedua negara tersebut. (https://www.npr.org/2020/05/19/859182015/johnson-johnson-stops-selling-talc-based-baby-powder-in-u-s-and-canada)

Lalu dijual kemana produk bedaknya? Banyak negara tentunya. Salah satunya dinegeri ber-flower tercinta.

Kok bisa mengakibatkan kanker? Karena ada kandungan asbes pada produk bedaknya. Dan itu sudah berlangsung dari tahun 1971. Bukan saja di AS tapi juga di seluruh dunia. (https://www.reuters.com/investigates/special-report/johnsonandjohnson-cancer/)

Bukan hanya produk cacat, J&J juga terbukti melakukan praktik suap dengan negara asing. Negara yang dimaksud negara-negara di Eropa dan juga Irak, dimana J&J telah menyuap para dokter di beberapa negara Eropa dan Irak untuk mendapatkan bisnis ilegal di negara-negara tersebut. (https://www.sec.gov/news/press/2011/2011-87.htm)

Bahkan di Mei 2019 silam, FBI telah menarget J&J dan juga 2 perusahaan lainnya, karena telah terlibat kasus suap di Brazil guna memuluskan penjualan alat kesehatan di negara Samba. (https://www.reuters.com/article/us-brazil-corruption-healthcare-exclusiv/exclusive-fbi-targets-johnson-johnson-siemens-ge-philips-in-brazil-graft-case-sources-idUSKCN1SN0ZZ)

Dengan semua catatan hitam tersebut, nyatanya J&J ternyata merupakan salah satu rekanan National Institute of Health dalam mengembangkan vaksin bagi si Kopit. (https://www.nih.gov/news-events/news-releases/nih-launch-public-private-partnership-speed-covid-19-vaccine-treatment-options)

Nggak heran jika akhirnya J&J kebagian dana dari pemerintahan AS lewat Depkes dan Layanan Kemanusiaan AS, sebanyak USD 465 juta untuk membuat vaksin bagi si Kopit. Emejing, bukan? (https://www.hhs.gov/about/news/2020/06/16/fact-sheet-explaining-operation-warp-speed.html)

Perusahaan kedua adalah Pfizer. Sama halnya dengan J&J, perusahaan ini juga punya banyak catatan hitam.

Di tahun 2012, Pfizer dipaksa bayar sejumlah USD 60 juta akibat kasus suap dengan beberapa dokter dan pejabat perawatan kesehatan di beberapa negara asing, guna mendapatkan persetujuan penjualan obat. (https://www.washingtonpost.com/business/economy/pfizer-agrees-to-pay-60m-to-settle-foreign-bribery-case/2012/08/07/a2426f5e-e0b6-11e1-8fc5-a7dcf1fc161d_story.html)

Negara asing mana saja yang dimaksud? Banyak tentunya, dari mulai negara yang ada di kawasan Eropa Timur hingga Asia Timur. (https://www.sec.gov/litigation/complaints/2012/comp-pr2012-152-pfizer.pdf)

Bahkan pada penyelidikan yang dilakukan oleh Departemen Kehakiman AS di tahun 2018 silam, Pfizer diduga telah menyuap pihak Kementerian Kesehatan Irak, saat Irak masih dikuasai oleh kelompok teroris. (https://www.fiercepharma.com/pharma/pfizer-discloses-department-justice-probe-into-iraq-terrorist-bribery-allegations)

Terserah anda mau bilang apa, nyatanya Pfizer telah mendapatkan dana bagi pengembangan vaksin Corona terbesar dari pemerintah AS sebesar USD 2 milyar. (https://www.foxnews.com/science/pfizer-coronavirus-vaccine-operation-warp-speed)

Perusahaan ketiga adalah Moderna. Pada artikel yang diturunkan oleh CBS News baru-baru ini, menyatakan bahwa ada bukti kuat bahwa Moderna telah mengeksploitasi ketakutan publik AS lewat si Kopit, guna mendongkrak nilai jual perusahaan.

Saat Moderna mengklaim bahwa perusahaannya telah sukses menggelar uji coba klinik tahap 1 pada vaksin di Kopit, harga saham perusahaan langsung melonjak naik 30%.

Padahal klaimnya tersebut belum dilengkapi hasil laporan riset yang mumpuni. Pokoknya klaim dulu, biar harga saham perusahaan bisa terkerek naik. (https://www.cbsnews.com/news/insider-trading-allegations-moderna-accountable-us-securities-exchange-commission/)

Wajar jika pihak Securities and Exchange Commission AS menduga bahwa Moderna telah memanipulasi pasar saham yang mengakibatkan harga saham perusahaan melambung tinggi.

Walaupun nggak punya track record dalam memproduksi vaksin sebelumnya (apalagi jenis vaksin baru m-RNA 1273 buatannya), nyatanya Moderna didaulat sebagai perusahaan inti pada Operation Warp Speed yang dibesut oleh Trump.

Hal ini dibuktikan dengan kucuran dana yang diterima dari pemerintahan AS kepada perusahaan Moderna, sebanyak USD 483. (https://www.hhs.gov/about/news/2020/06/16/fact-sheet-explaining-operation-warp-speed.html)

Bagaimana dengan ketiga perusahaan Big Pharma lainnya?

Saya akan ulas pada bagian kedua nanti.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!