Memonopoli Kebenaran


513

Memonopoli Kebenaran

Oleh: Ndaru Anugerah

Sekali lagi facebook menghapus video yang diposting oleh Breitbart News. Sebagai informasi, Breitbart News merupakan organisasi yang oleh facebook telah diperlakukan sama dengan media mainstream lainnya di AS sana. (https://twitter.com/kevinroose/status/1287919498582876160)

Ceritanya, Breitbart News mau memberikan tayangan streaming tentang konferensi pers yang dilakukan oleh kelompok America’s Frontline Doctors yang selama ini menangani pandemi C19 di Amrik sana.

Acara tersebut bisa terselenggara berkat Tea Party Patriot yang mengorganisir dan berlaku sebagai sponsornya.

Pada konferensi pers tersebut, juga menampilkan Ralph Norman selaku anggota Kongres dari partai Republik.

Rencananya, para dokter akan berbagi pandangan dan pendapat mereka tentang virus Corona dan respons medis terhadap pandemi tersebut.

Eh, tiba-tiba ditengah tayangan streaming berlangsung, Facebook, Youtube (yang dimiliki oleh Google) dan Twitter, kompakan menghapus rekaman konferensi pers tersebut dari platform mereka. (https://www.americasfrontlinedoctors.com/)

Streaming yang berlangsung sesingkat-singkatnya tersebut (karena belum sempat diselesaikan), nyatanya berhasil mengumpulkan 17 juta view pada saat sensor diberlakukan, dan lebih dari 185 ribu pemirsa yang secara bersamaan menonton streaming tersebut.

Dalam hal kecepatan viral, postingan tersebut mengalahkan konten yang dimiliki public figure mulai dari Hillary Clinton, Pendeta Franklin Graham hingga Kim Kardashian.

Lalu siapa sih sebenarnya para dokter yang melakukan konpers tersebut?

Mereka adalah tenaga medis yang tergabung dalam organisasi AFD yang didirikan oleh Dr. Simone Gold, seorang dokter dan pengacara bersertifikat kondang di AS sana.

Menurut rencana, mereka berkumpul bersama untuk membahas apa yang kelompok itu sebut sebagai kampanye disinformasi besar-besaran tentang virus Corona. Jadi mereka menduga ada patgulipat dibalik pandemi si Kopit yang berlangsung saat ini. (https://www.breitbart.com/health/2020/07/27/watch-live-frontline-physicians-aim-to-dispel-massive-covid-19-disinformation-campaign/)

Bagi mereka, permainan patgulipat dibalik si Kopit nggak bisa terus-terusan dibiarkan. Harus diungkap ke publik. “Kasian publik AS terus-terusan dibohongin sama skenario pandemi palsu tersebut,” begitu kurleb pernyataan mereka. (https://www.americasfrontlinedoctors.com/)

Dan sekali lagi, yang namanya kentut, serapat apapun menutupnya, lambat laun akan tercium juga baunya. Begitupun dengan si Kopit. Kalo nggak ngapain juga pakai disensor? Wong yang ngomong juga pakar kesehatan dan bukan tukang jualan tahu bulat. Jadi ada pertanggungjawaban ilmiahnya.

Kalo ada konten yang nggak pas, kan bisa pakai jalur hukum untuk klarifikasi. Lalu, ngapain harus panik dengan melakukan penyensoran? Apa mau memonopoli kebenaran? Berarti kan benar asumsi orang bahwa ada yang sengaja mau ditutup-tutupi?

Apa itu?

Bahwa mega proyek elite global tentang vaksinasi global plus, harus berjalan sesuai rencana. Apapun risikonya.

Lalu apa kata facebook tentang hal itu?

Andy Stone selaku jubir facebook mengungkapkan, “Kami telah menghapus video tersebut, karena menyebarkan informasi palsu tentang penyembuhan dan perawatan untuk pasien C19.” (https://www.theverge.com/2020/7/28/21345674/facebook-covid-19-misinformation-breitbart-news-video-removal-response)

Namun sayangnya, pihak facebook tidak menyebutkan bagian mana dari tayangan yang dianggap sebagai informasi palsu, dan kepada siapa facebook melakukan konsultasi sebelum ambil keputusan untuk menyensornya.

Stone menambahkan, “Platform kami akan mengarahkan semua pengguna yang berinteraksi dengan postingan tersebut dan kami menganggapnya sebagai sebuah mitos yang telah dibantah oleh WHO.”

Keputusan facebook tersebut untuk menyensor streaming langsung tersebut kemudian diikuti oleh media Big Tech lainnya, semisal Youtube dan Twitter. Di Youtube sendiri, ada sekitar 80 ribu tampilan tentang konpers fenomenal tersebut sebelum dihapus.

Twitter sendiri kemudian membatasi akun resmi Breitbart News dengan menyatakan bahwa konpers yang diunggahnya telah melanggar kebijakan C19 di platform media sosial tersebut.

Berdasarkan informasi, Big Tech (semisal facebook, youtube, twitter) diduga meningkatkan aktivitas penyensoran dan membungkam suara alternatif yang berusaha membawa banyak bukti seputar si Kopit. (https://thebl.com/us-news/facebook-youtube-twitter-censor-viral-video-of-frontline-doctors-press-conference-on-ccp-virus.html)

Ini nggak mengada-ada, mengingat mantan karyawan facebook sempat angkat bicara kalo mereka secara rutin menekan berita yang menarik bagi pembaca konservatif tentang pemberitaan alternatif seputar si Kopit. (https://gizmodo.com/former-facebook-workers-we-routinely-suppressed-conser-1775461006)

Bayangkan, kalo konten media sekelas Breitbart News saja disensor, gimana anda dan saya?

Namun aktivitas sensor ini sekali lagi mau menegaskan, kalo rencana elite global akan vaksinasi global plus, itu nggak main-main. Tentang ini saya pernah bahas. (baca disini, dan disini)

Saya hanya bisa berpikir, bagaimana jadinya dunia pasca pandemi lha wong belum-belum sudah main sensor tanpa ada hak untuk bela diri?

Yang jelas, censorship akan makin ketat dan semua aktivitas melalui internet akan terus dipantau. Jadi, anda ngapajn aja, akan terus dipantau oleh elite global dan kaki tangannya.

Dunia seperti itukah yang anda harapkan?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!