Koalisi Setan Gundul


513

“Bagaimana kondisi Jakarta jelang aksi people power besok (22/5), bang?” begitu pertanyaan seseorang. Sudah berkali-kali saya membahasnya, bahwa aksi itu jangan pernah dianggap serius. “Anggap lucu-lucuan aja,” balasku.

Kok bisa?

Sejatinya, gerakan people power yang kencang dihembuskan kubu BOSAN, adalah ungkapan kekecewaan semata. Gimana nggak kecewa? Skenario sudah disiapkan saat kemenangan tiba, siapa dapat apa. Karena mereka yakin menang 100%. Eh, tahunya gagal maning son. Boro-boro dapat kue, dapat remah-remah aja kagak.

Yang lebih parah lagi HTI. Sekuat tenaga mereka telah mengerahkan para kadernya ke lapangan demi mengalahkan sosok Jokowi kabarnya sempat menginstruksikan para anggota dan simpatisannya untuk mencoblos saudara tirinya PKS, toh hasilnya tetap editansil alias ejakulasi dini tanpa hasil.

Kenapa HTI sangat bernafsu menggulingkan Jokowi?

Pertama karena Jokowi-lah yang melikuidasi organisasi klandestine mereka. Kedua insting mereka yang mengatakan, “Kalo Jokowi tidak dihabisi sekarang, maka kita-lah (HTI) yang akan dihabisi oleh Jokowi, kelak.”

Wajar kalo sekarang, organisasi yang sangat keras mendorong gerakan people power dengan meminta restu ulama berkedok Ijtima, adalah HTI. Konon, mereka rela merogoh kocek organisasi untuk memuluskan gerakan mereka, yah karena nggak ada lagi yang bersedia jadi donatur aksi tersebut.

Singkat kata, rencana disusun. Apa yang bisa membangkitkan emosi rakyat, agar mau ikutan aksi people power tersebut. Belum lagi ini bulan puasa. Marah sedikit bisa batal puasanya.

Opsi-opsi mulai bermunculan, dari mulai skenario matinya martir saat demo berlangsung sampai rencana menginjak-injak kitab suci dikala aksi lapangan digelar.

Operator lapangan-pun bukan lagi yang amatiran, melainkan yang selama ini sudah terbiasa menjadi aktor intelektual. “Stok-nya nggak ada lagi,” begitu kurang lebihnya.

Ini diperburuk dengan pecahnya koalisi BOSAN yang selama ini terlihat solid, sehingga kru kampret makin banyak berkurang.

Bahkan PKS saja sudah rela berkhianat terhadap saudara tirinya dengan menyatakan kepuasannya pada hasil pemilu. “Kami menerima dengan ikhlas hasil pemilu kali ini.” Padahal bagaimana kader-kader HTI telah menyumbang perolehan suara buat partai varokah tersebut sehingga angkanya melonjak di pemilu kali ini. “Tahu ujungnya begini, antum ana racun.”

Apa lacur. Rencana tetap harus dijalankan, walaupun dengan personil dan dana yang serba pas-pasan.

Bagaimana antisipasinya?

Pihak keamanan-pun nggak mau kecolongan lagi kali ini. Mengantisipasi gerakan agar tidak membesar seperti aksi togel, yang harus dilakukan adalah aksi penggembosan.

Para aktor intelektual aksi tersebut, satu per satu dijadikan tersangka sampai dijadikan pesakitan karena pada dasarnya mereka kriminal. Ada BN, ES, KZ dan entah siapa lagi. Mengantisipasi aksi pencidukan massal, maka mereka-pun cari selamat sendiri. Ada yang pura-pura sakit, sampai ngeles kek bajaj dengan mengatakan, “Makar itu sama aja dengan Makan Roti Bakar.”

Rencana aksi ini diperparah dengan pernyataan Andi Arief selaku buzzer partai Cikeas, yang melontarkan ungkapan setan gundul bagi biang kerok aksi people power tersebut.

Efektifkah? Sangat. Buktinya ‘setan gundul’-nya keluar dari sarang persembunyiannya dengan melontarkan ungkapan kekesalan: “SBY nggak jelas jenis kelaminnya”.

Jadilah koalisi kapal karam pada kubu BOSAN, hancur berkeping-keping ibarat remukan kerupuk.

People power mah mungkin terjadi kalo kebutuhan rakyak yang paling hakiki seperti sembako belum tersentuh. Emang harga sembako udah setinggi langit, apa? Apa rakyat sudah pada kelaparan?” demikian ungkap temanku.

Kalo sudah begini, akankah aksi people power meraih sukses seperti aksi togel tempo hari?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!