Jadi Ada Masalah

In Sosial Budaya

Jadi Ada Masalah

Oleh: Ndaru Anugerah

Apakah dengan vaksinasi, masalah si Kopit jadi tuntas?

Sayangnya, justru sebaliknya.

Maksudnya?

Public Health England (PHE) baru-baru ini merilis data bahwa orang yang telah mendapatkan vaksinasi Kopit secara penuh, 43% mengalami kematian. Sementara orang yang baru menerima satu kali suntikan, angka kematiannya mencapai 60%. (https://www.theguardian.com/theobserver/commentisfree/2021/jun/27/why-most-people-who-now-die-with-covid-have-been-vaccinated)

Kenapa angka kematian akibat vaksin menjadi demikian banyak?

Karena untuk membuat vaksin, butuh waktu yang lama. 10-15 tahun adalah waktu yang ideal, dan bukan hitungan bulan langsung dicap memiliki kemanjuran mencapai lebih dari 90%. Angkanya dari mana? (baca disini)

Nggak heran jika angka kematian menjadi demikian besar, mengingat semuanya serba instan. Dan ibarat tahu bulat, vaksin siap untuk ‘disantap’. (https://www.openvaers.com/covid-data?s=03)

Dan gilanya, vaksin ‘percobaan’ tersebut bakal disuntikan pada lebih dari 2 milyar manusia di penjuru dunia. (https://ghionjournal.com/big-pharma-white-coats-psychology-unquestioningly-obeying-authority/)

Kebayang, bagaimana ‘dahsyat’-nya dampak ke depannya, mengingat angka kematian yang ada saat ini, hanyalah puncak gunung es. Bahaya yang lebih parah, justru yang tidak nampak dipermukaan.

Maksudnya?

Anda perlu tahu, kalo ide tentang m-RNA, telah ditemukan pada dekade 1960an. Virolog telah menguji penguat m-RNA pada banyak hewan laboratorium selama lebih dari 2 dekade. (https://www.pasteur.fr/en/home/research-journal/news/discovery-messenger-rna-1961)

Terus, apa reaksinya pada hewan yang telah mendapatkan treatment m-RNA tersebut?

Mereka langsung mengembangkan antibodi, sehingga mereka langsung tewas. Ini yang dinamakan sebagai peningkatan antibodi yang diperkaya (ADE). Bahasa sederhanya auto-imun. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7110120/)

Jadi ADE membajak sistem kekebalan tubuh dan mengubah sistem pertahanan alami organisme, menjadi melawan organ vitalnya sendiri. Kurleb-nya mirip-mirip HIV/AIDS. (https://ghionjournal.com/humanity-crosshairs-vaccine-generated-antibody-dependent-enhancement/)

Tapi, informasi seperti ini apa mungkin anda dapatkan pada media mainstream? Kan nggak.

Yang ada hanya berita-berita indah tentang vaksin-vaksin Big Pharma.

Jadi kalo ada yang klaim bahwa mayoritas kematian akibat vaksinasi, langsung muncul berita kontra-nya. (https://thehill.com/policy/healthcare/561585-fauci-more-than-99-of-people-who-died-from-covid-19-in-june-were-not)

Pak ceker-pun langsung bereaksi keras terhadap tudingan tersebut, dengan istilah khas ‘teori konspirasi’. Nggak peduli bahwa yang kasih informasi adalah orang yang puluhan tahun telah berkecimpung dibidangnya bahkan pernah mendapatkan anugrah Nobel sekalipun.

Pokoknya pak ceker harus lebih pakar daripada pakar yang sesungguhnya. Sehingga publik jadi nggak punya informasi pembanding dalam menentukan pilihan. Publik yang begini, mana mungkin bisa berpikir kritis? (https://ghionjournal.com/stop-silencing-us-facebook-google-twitter/)

Yang terjadi kemudian, program suntik massal sang Ndoro besar bisa berjalan walaupun ada ‘beberapa’ kendala di lapangan.

Demi memuluskan rencana tuannya, media mainstream dan para ilmuwan ‘tik-tok’ mulai menakut-nakuti massa dengan ide munculnya varian baru pada si Kopit. Bahkan sekarang sudah sampai varian lambda. Entah besok varian apalagi? (https://www.deseret.com/coronavirus/2021/7/6/22564956/covid-lambda-variant-what-is-it/)

Mungkin publik lupa.

AstraZeneca tahun lalu sempat menguji vaksin mereka di beberapa negara, yang kini jadi sumber munculnya varian-varian si Kopit. Apakah itu hanya kebetulan? (https://www.clinicaltrialsarena.com/news/oxford-covid-19-vaccine-trials/)

Kini, publik kembali dibukakan matanya akan suntikan maut dari Big Pharma.

Kalo dulu sebelum disuntik, kolega atau mungkin kerabat dan orang dekat sehat-sehat saja, namun kini satu persatu masuk ke liang lahat selepas menerima suntikan.

Akankah kita tetap buta pada semua itu?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

2 commentsOn Jadi Ada Masalah

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu