Bisnis Narkoba (*Bagian 1)


519

Bisnis Narkoba (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Siapa pemain utama dalam kartel narkoba?

Tentang ini saya pernah bahas secara sekilas, di tahun lalu. (baca disini)

Kali ini saya akan coba bahas agak mendalam mengingat banyak yang minta kepada saya, agar anda paham duduk masalahnya. Tentunya dengan bahasa yang sederhana.

Dalam geopolitik ada istilah cui bono, alias siapa yang diuntungkan pada suatu peristiwa. Begitupun dengan bisnis narkoba.

Pada sebuah wawancara di penghujung dekade 1990-an, mantan Penasihat Keamanan Nasional AS semasa Jimmy Carter, Zbigniew Brzezinski mengatakan bahwa intervensi AS pada perang Afghanistan-Soviet dimulai bukan pada 1980-an, tapu pada 3 Juli 1979 alias lebih awal. (https://archives.globalresearch.ca/articles/BRZ110A.html)

Jadi, Carter memberikan sokongan pada pemberontak Mujahidin untuk menggulingkan rezim berkuasa yang pro-Soviet, dengan harapan Soviet bisa hengkang dari Afghanistan. Sejak itu perang selama 1 dekade digelar di sana. (baca disini)

Menariknya, sebelum 1979, Pakistan dan Afghanistan sangat sedikit sekali mengekspor heroin ke negara-negara Barat.

Namun sejak 1981, truk dari National Logistics Cells milik Pakistan yang membawa senajat dari CIA dari Karachi, kembali dengan membawa heroin. Dan ini dilindungi ISI (Dinas intelijen) Pakistan, jadi polisi tutup mata atas aktivitas tersebut. (https://www.perlego.com/book/551272/the-road-to-911-pdf)

Asal tahu saja, bahwa dimasa tersebut, Direktur CIA William Casey, Pangeran Faisal dari Turki dan intelijen Saudi serta ISI bekerjasama dalam membentuk pasukan Muslim Jihadis asing yang belakangan disebut sebagai Afghanistan-Arab, menurut Prof. Peter Dale Scott.

Ada lebih dari 100 ribu legiun tersebut, yang dibina pada kamp-kamp yang diawasi dan didanai oleh CIA dan MI6, dimana SAS (Pasukan Khusus Inggris) yang kemudian didaulat untuk ‘melatih’ pada calon jihadis tersebut sebelum diturunkan pada perang melawan Soviet di Afghanistan.

Pada pertengahan 1990-an, sekelompok rakyat desa Pashtun, telah ‘disulap’ menjadi kekuatan miiliter dan politik yang kuat di Afghanistan, yang belakangan dikenal dengan istilah Taliban. Dan Taliban telah lama menjalin kontak dengan ISI Pakistan. (https://mrcppu-covid.bio/sites/default/files/signed_mtas/pdf-ghost-wars-the-secret-history-of-the-cia-afghanistan-and-bin-l-steve-coll-pdf-download-free-book-ef2fa50.pdf)

Singkatnya, ISI Pakistan telah memberikan bantuan penuh kepada Taliban dalam perang saudara di Afghanistan guna menguasai negara tersebut. Dan ini terkoneksi erat dengan CIA yang punya peran penting dalam membawa Taliban ke tampuk kepemimpinan di Afghanistan. (https://www.washingtoninstitute.org/policy-analysis/who-responsible-taliban)

Setelah pemerintah Taliban berkuasa disana, program utamanya adalah memberantas narkoba.

Program ini mendapat pengakuan oleh PBB. “Nggak ada negara di dunia ini yang punya program yang sebanding,” ungkap PBB. (https://www.nytimes.com/2001/05/20/world/taliban-s-ban-on-poppy-a-success-us-aides-say.html)

PBB mencatat bahwa Taliban telah sukses menurunkan produksi opium (selaku bahan baku heroin) dari 3300 ton pada 2000 menjadi hanya 185 ton pada 2001. (https://www.unodc.org/pdf/publications/afg_opium_economy_www.pdf)

Atas sukses ini, pemerintah AS memberikan ‘hadiah’ senilai USD 43 juta kepada pemerintahn Taliban pada Juni 2001, tepat 3 bulan sebelum peristiwa 9/11. Jadi nggak salah kalo AS disebut sebagai pendukung utama pemerintahan Taliban. (https://www.cato.org/commentary/how-washington-funded-taliban)

Kemudian muncullah peristiwa 9/11 yang menghantar AS untuk menginvasi Afghanistan kembali, yang sebelumnya telah disokongnya.

Ada apa dibalik skenari Global War on Terrorism tersebut?

Banyak, tentunya. Saya pernah ulas tentang hal itu. (baca disini dan disini)

Perlu anda tahu, bahwa narkoba menempati peringkat ketiga perdagangan global setelah minyak dan bisnis jubel senjata. (https://www.arcgis.com/apps/Cascade/index.html?appid=9e6420db54f043e487ba2831a74cb38f)

Dengan langkah yang diambil pemerintah Taliban untuk memberangus opium, maka terjadi kelangkaan barang di pasaran. Walhasil harga meningkat 10 kali lipat dari sebelumnya karena stok-nya langka di tahun 2002. (https://www.journals.uchicago.edu/doi/10.1086/589673)

Jika ini terus terjadi, maka lama kelamaan heroin akan ditinggal oleh konsumennya. Dan ini nggak boleh terjadi. Invasi AS dan sekutunya pasca 9/11 ke Afghanistan, salah satunya dalam rangka ‘mengamankan’ produksi barang haram tersebut.

Nggak aneh jika di tahun 2007, produksi opium di Afghanistan mengalahkan produksi negara penghasil opium lainnya, seperti: Kolombia, Bolivia dan Peru. (https://www.theguardian.com/world/2008/feb/06/afghanistan.politics)

Kok bisa?

Karena ada peran AS di dalamnya dalam mendongkrak produksi heroin.

Apa cuma AS yang punya kepentingan terhadap narkoba tersebut?

Nggak juga. Inggris juga punya andil di dalamnya.

Bagaimana ceritanya?

Pada bagian selanjutnya saya akan mengulasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!