Arsitek Penggulingan Rejim di Iran


527

Arsitek Penggulingan Rejim di Iran

Oleh: Ndaru Anugerah

Donald Trump kembali memveto RUU Kekuatan Perang yang menyatakan bahwa presiden harus meminta izin terlebih dahulu ke Kongres sebelum menggunakan kekuatan bersenjata untuk menyerang Iran. (https://thehill.com/homenews/senate/496616-senate-fails-to-override-trumps-iran-war-powers-veto)

Bukan itu saja. Saat pandemi C19 merebak, sanksi ekonomi AS yang dijatuhkan terhadap Iran bukannya berkurang justru makin menjadi-jadi. ‘Tekanan maksimum, istilahnya.” Walaupun komunitas internasional mengecam tindakan tersebut. (https://www.thenation.com/article/world/iran-coronavirus-sanctions/)

Kenapa AS sangat membenci Iran? Siapa dalang dibalik kebencian tersebut?

“Iran memiliki rencana untuk program senjata nuklirnya,” demikian suara yang terdengar dari Washington. Namun, setelah beberapa kali di inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran tidak terbukti memiliki rencana yang ditudingkan AS. (https://mronline.org/2020/01/30/the-u-s-is-recycling-its-big-lie-about-iraq-to-target-iran/)

Dengan kata lain, tudingan AS jelas mengada-ada.

Tudingan ini mirip dengan tudingan Bush pada Irak semasa Saddam Hussein, yang mengklaim bahwa Irak tengah mengembangkan senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction). Belakangan tudingan tersebut juga nggak pernah terbukti, mengingat tujuan sebenarnya memang bukan itu tetapi penggulingan rejim di Irak.

Begitu juga yang terjadi di Iran.

Nggak aneh bila AS mengembargo Iran secara ekonomi dengan brutal, agar tercipta chaos dan memicu pemberontakkan rakyat Iran, sehingga kudeta (yang disponsori AS) bisa dijalankan.

Sayangnya, skenario tersebut nggak pernah berhasil setelah lebih dari 4 dekade dijalankan.

Siapa think-tank yang memdorong permusuhan dengan Iran?

United Against a Nuclear Iran (UANI), jawabannya, yang didirikan pada tahun 2008 atas prakarsa Mark Wallace dan Dennis Ross. (https://en.wikipedia.org/wiki/United_Against_Nuclear_Iran)

Namun di tahun 2014, UANI diperluas dibawah payung Counter Extremism Project United (CEPU) guna mengintensifkan serangan terhadap Iran. (https://en.wikipedia.org/wiki/Counter_Extremism_Project)

Ini sekaligus mengalihkan para pembuat kebijakan di AS terhadap andil Israel, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dalam penyebaran kekerasan, ekstremisme dan kekacauan di Timur Tengah yang justru lebih luas.

Pada tataran teknis, UANI menyimpan semua daftar bisnis banyak perusahaan di seluruh dunia yang menjalin perdagangan dengan Iran. (https://www.unitedagainstnucleariran.com/ibr)

Jadi begitu ketahuan siapa saja perusahaan yang berdagang dengan Iran, langsung mendapatkan sanksi dari mulai mempermalukan di depan publik hingga pembekuan aset perusahaan. Berikutnya perusahaan tersebut dipaksa menandatangani perjanjian yang isinya tidak akan berbisnis kembali dengan Iran.

Dari mana UANI mendapatkan dana operasionalnya?

Di tahap awal, UANI mendapatkan sokongan dana dari 2 orang yang punya ikatan kuat dengan Israel dan Partai Republik, yaitu Thomas Kaplan (investor logam mulia) dan Sheldon Adelson (pemilik rumah judi/casino). (https://lobelog.com/document-reveals-billionaire-backers-behind-united-against-nuclear-iran/) (https://www.thenation.com/article/archive/gop-megadonor-sheldon-adelson-funds-mysterious-anti-iran-pressure-group/).

Tapi di tahun 2014, UANI dipecah menjadi UANI dan Green Light Project yang keduanya berada dalam satu organisasi besar CEPU yang berkantor di Grand Central Tower, New York, dengan Mark Wallace sebagai CEO-nya. (https://opengovus.com/colorado-charity/20173006006)

Di tahun 2017, pendanaan yang berhasil digalang oleh CEPU mencapai USD 22 juta. Mengenai pendanaannya tersebut, CEPU selalu tutup rapat agar tidak terendus oleh publik.

Tapi sial, upaya tersebut berhasil dibongkar oleh jurnalis investigasi Eli Clifton.

Clifton berhasil mendapatkan retasan surel dubes UEA untuk AS – Yousef Al Otaiba – yang isinya (kurleb-nya) berbicara tentang sokongan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terhadap pendanaan CEPU. (https://lobelog.com/emails-suggest-uae-and-saudi-arabia-funded-u-s-based-anti-iran-pressure-group/)

Dan sebagai balasan, presiden CEPU – Frances Townsend mengirimkan surel yang isinya ucapan terima kasih atas sokongan UEA terhadap CEPU. (https://lobelog.com/hacked-emails-reveal-close-ties-between-uae-and-anti-iranqatar-advocacy-groups/ )

Untuk dapat melancarkan aksinya, CEPU menyewa John Bolton (Penasihat Keamanan Nasional AS) selaku konsultannya, dengan biaya konsultasi yang tidak murah. (https://lobelog.com/emails-suggest-uae-and-saudi-arabia-funded-u-s-based-anti-iran-pressure-group/)

Dan rekomendasi Bolton cukup ringkas, “AS harus perang melawan Iran selain menarik diri dari kesepakatan nuklir yang telah dibuat.” (https://www.nytimes.com/2015/03/26/opinion/to-stop-irans-bomb-bomb-iran.html)

Selain didukung oleh kubu Republik, CEPU juga mendapat sokongan dari partai Demokrat. Joe Lieberman selaku mantan Senator dari Demokrat yang paling pro-zionis setidaknya menjawab sokongan tersebut.

Nggak aneh bila selama pandemi C19, sanksi yang diberikan AS ke Iran bukannya kendor, malah makin di gaspol. Ya karena jaringan yang saya sebutkan di atas. (https://saraacarter.com/50-top-officials-urge-president-trump-to-keep-us-sanctions-on-iran/)

UANI juga paling getol mendukung pernyataan Trump bahwa “Iran merupakan negara sponsor terorisme di dunia”. (https://www.rferl.org/a/u-s-state-department-iran-remains-world-s-worst-state-sponsor-of-terrorism-/30248755.html)

Pernyataan tersebut dikeluarkan karena Iran konstan memberikan sokongan penuh terhadap Hizbullah yang ada di Lebanon dalam melawan Israel selain ikut mendukung Assad pada perang Suriah. (https://www.americanfreepress.net/html/hezbollah_defended_lebanon.html)

Dalam tataran operasional. CEPU mengandengn Mujahidin e-Kalqh yang punya cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran.  Nggak aneh bila AS akhirnya mencoret Mujahidin e-Kalqh sebagai organisasi teroris dunia di tahun 2012 silam. (https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2012/09/120922_usiran)

Lucu juga, mengingat peran CEPU dan UANI yang didedikasikan untuk melawan semua bentuk ekstremisme, nyatanya justru memiliki hubungan dengan para ekstemisme yang sebenarnya.

Gak percaya?

Menurut penyelidikan FBI pada peristiwa 9/11, seorang pejabat Kedubes Saudi – Mussaed Ahmed al-Jarrah – telah memberikan ‘sokongan penuh’ selain ‘arahan’ kepada 2 pembajak pesawat yang melakukan pengeboman. (https://news.yahoo.com/in-court-filing-fbi-accidentally-reveals-name-of-saudi-official-suspected-of-directing-support-for-911-hijackers-224555851.html)

Ini belum lagi upaya Saudi dalam menyebarkan paham Wahhabi secara global dan sukses memicu kelompok ekstremis Islam (semisal Al Qaeda dan ISIS), dengan cara membangun dan mendanai sekolah-sekolah dan masjid-masjid Wahhabi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (https://www.nps.edu/documents/105988371/107571254/DillonWahhabismThesis.pdf/23fc46fb-17a6-41da-83b8-8e312191b5bb)

Bagaimana dengan UEA?

Pada Perang Suriah, UEA adalah penyedia dana dan senjata bagi sekutu pemberontak Al Qaeda (seperti Front Selatan dan Jabhat al-Nusra). (http://web.stanford.edu/group/mappingmilitants/cgi-bin/groups/view/645)

Yang paling gampang deh. Di Yaman, siapa pelaku kejahatan perang selain Saudi dan UEA yang telah sukses membom sekolah, klinik, pernikahan hingga bis sekolah? (https://www.nytimes.com/2018/08/28/world/middleeast/un-yemen-war-crimes.html)

Sampai sini paham kan, nenk Shandy?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!