Warisan Carter (*Bagian 2)


519

Warisan Carter (*Bagian 2)

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada bagian pertama tulisan, saya telah mengungkapkan bagaimana rekam jejak Jimmy Carter yang oleh banyak kalangan dipandang sebagai pasifis. Pada kenyataannya, Carter tidaklah seperti yang digambarkan. (baca disini)

Lantas apalagi proyek ‘berdarah’ seorang Jimmy Carter?

Proyek selanjutnya adalah Angola. Di tahun 1978, Pasukan Pertahanan Afrika Selatan (SADF) menjatuhkan bom di kamp pengungsi di Cassinga, Angola. Akibat serangan bom pada kamp pengungsi tersebut, lebih dari 600 warga sipil tewas.

Begitu masalah ini sampai ke DK PBB, AS adalah pihak yang kemudian memveto keputusan tentang rencana pemberlakuan sanksi PBB pada rezim Apartheid di Afrika Selatan. Carter dengan enteng bicara, “Itu hanya kekeliruan yang nggak akan diulang lagi. Anggap saja sebagai serangan balasan.” (http://www.presidency.ucsb.edu/ws/%3Fpid%3D30754)

Ajigile. 600 warga sipil tewas, dibilang hanya sebagai kesalahan yang nggak disengaja?

Apa alasan AS mendukung langkah pemerintahan Apartheid Afsel buat melakukan serangan ke negara-negara tetangganya, secara khusus Angola?

Nggak lain adalah spirit membasmi gerakan kiri. Carter menghendaki agar pasukan militer Kuba ditarik dari Angola. Asal anda tahu, sebanyak 30 ribu pasukan Kuba sengaja ditempatkan di Angola sejak tahun 1975, karena adanya upaya Afsel menggulingkan pemerintahan revolusioner MPLA.

Terus apa mungkin Afsel berencana mengkudeta pemerintahan MPLA di Angola, tanpa adanya perintah dari AS? Yang bokir, aja. (https://www.jstor.org/stable/1148141)

Dari Angola, Carter melanjutkan proyeknya ke Afghanistan.

Saat pemerintahan komunis berkuasa di Afghanistan sejak tahun 1978, mereka memberikan pendidikan dan layanan kesehatan yang gratis bagi semua warga Afghanistan. Di ibukota Kabul, para wanita bahkan menikmati kebebasan yang signifikan, salah satunya kesempatan bersekolah yang sama dengan kaum pria. (https://reliefweb.int/report/afghanistan/history-educational-system-afghanistan)

Tapi bagi AS, situasi ini jelas nggak boleh berlama-lama. Maka pemerintah Carter memberdayakan oposisi lokal yang disebut sebagai jihadis Mujahidin dalam upaya menggulingkan rejim komunis di Afghanistan. (https://www.counterpunch.org/1998/01/15/how-jimmy-carter-and-i-started-the-mujahideen/)

Asal tahu saja, Mujahidin saat itu bukan oposisi yang signifikan di Afghanistan. Mirip-mirip ormas RS di Republik Wakanda. Tapi kenapa kemudian bisa membesar?

Dana jumbo yang disupply AS adalah jawabannya. Apakah ini nggak bisa terjadi dengan ormas milik RS kelak? Pada lain tulisan saya akan membahasnya.

Kembali ke laptop…

Singkat cerita, pejabat AS bertemu dengan para pemimpin Mujahidin di awal April 1979. Dan sejak itu bantuan AS ke tangan Mujahidin berupa uang, senjata, peralatan dalam membuat propaganda hingga operasi psikologis lainnya, mengalir dengan deras. (http://www.wiu.edu/cas/history/wihr/pdfs/Tadman-AnAmericanProvocationVol5.pdf)

Walhasil, atas restu Carter, perang saudara berkecamuk di Afghanistan selama 1 dekade. Berapa banyak korban tewas? Belum lagi kerugian material yang diderita negara Afghanistan yang telah berkeping-keping sejak perang berlangsung. Apa sekarang status damai tercipta di Afghanistan?

Karya besar Carter lainnya adalah di El Salvador.

Di tahun 1980, Uskup Agung Oscar Romero yang dikenal karena mengusung Teologi Pembebasan, kirim surat ke Carter yang isinya minta bantuan Carter untuk mengintervensi di El Salvador guna memperbaiki kondisi sosial ekonomi orang-orang tertindas, sesuai inti ajaran Teologi Pembebasan. (https://liberationtheology.org/people-organizations/oscar-romero/)

Apa isi surat si pastor?

“Saya mendapat kabar dari media, bahwa pemerintahan anda kasih dukungan ekonomi dan militer ke pemerintahan junta El Salvador. Saya pikir karena anda seorang Kristen dan punya komitmen terhadap nilai-nilai HAM, saya minta anda tarik dukungan ke rejim El Salvador,” ungkap sang pastor.

Lalu Romero menambahkan, “Ini permintaan saya sebagai seorang pastor, karena saya melihat jika rejim yang berkuasa tetap diberikan bantuan dan pelatihan militer oleh pemerintahan anda, maka akan banyak lagi kematian yang ditimbulkan. Dan ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai HAM.”

Diakhir surat, Romero mengatakan, “Saya berharap sentimen agama dan perasaan anda untuk memperjuangkan HAM akan menerima permintaan yang saya ajukan lewat surat ini, demi menghindari pertumpahan darah yang lebih buruk lagi di negara ini.” (http://nsarchive.gwu.edu/NSAEBB/NSAEBB339/doc04.pdf)

Surat Romero nggak langsung dijawab oleh Carter. Butuh 9 hari untuk membalas surat tersebut.

Lantas apa balasan dari Carter?

Saat memimpin misa dan berencana memberikan Ekaristi di altar suci, Uskup Romero mendapat tembakan tepat dikepalanya oleh pasukan binaan AS di El Salvador. Romero-pun tewas ditempat. (https://www.theguardian.com/theguardian/2000/mar/23/features11.g21)

Teror ini belum berakhir. Saat pemakaman sang Pastor, lagi-lagi penembak jitu (snipper) menembaki para pelayat yang menghadiri acar. Lebih dari 30 orang meregang nyawa. Sungguh biadab, bukan? (http://internacional.elpais.com/internacional/2009/11/07/actualidad/1257548408_850215.html)

Selidik punya selidik, ternyata pemerintahan Carter telah mengirimkan bantuan sebanyak USD 5 juta ke pemerintah junta El Salvador guna menumpas pemberontakkan. (http://www.csusmhistory.org/atkin008/new-aid-for-el-salvador-new-york-times-march-2-1982/)

Karena bantuan secara konstan yang diberikan Carter, maka perang saudara di El Salvador berkecamuk selama kurleb 12 tahun. Dan puncaknya adalah pembantaian 6 pastor Jesuit di tahun 1989. (http://www.mintpressnews.com/six-jesuit-scholars-american-war-self-determination/198932/)

Seberapa banyak kebenaran ini bakal diungkap oleh media mainstream?

Pertanyaan selanjutnya: masihkah anda percaya pada propaganda media mainstream yang mengarahkan cara anda berpikir terhadap seseorang atau sesuatu yang saban hari didengungkan kepada anda?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!