Tokoh Utama Di Balik Layar (*Bagian 1)


532

Tokoh Utama Di Balik Layar (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Siapa nggak kenal David Rockefeller?

Kalo anda penggila isu geopolitik, tentu anda sudah paham siapa sosok yang satu ini. Tepat sekali, dia adalah salah satu tokoh utama dalam kartel Ndoro besar.

David Rockefeller (DR) memang telah meninggal di tahun 2017 silam. Dan dunia mengenal sosok yang satu ini sebagai seorang bankir sekaligus tokoh pilantropis dunia berhati mulia, yang gemar kasih dana hibah ke banyak pihak. Setidaknya, media mainstream yang kasih ulasan demikian saat kematiannya. (https://money.cnn.com/2017/03/20/news/companies/david-rockefeller/index.html)

Apa benar klaim yang dibuat media mainstream?

Di tahun 1939, DR lewat Rockefeller Foundation (RF) mendanai War and Peace Studies yang dibuat oleh Dewan Hubungan Luar Negeri AS alias Council on Foreign Relations (CFR). Dan CFR merupakan salah satu lengan deep-state sekaligus think-tank utama bagi kebijakan LN AS. (baca disini)

Jadi kalo kita bicara CFR, Rockefeller-lah yang pegang kendali atas think-tank tersebut. (Council On Foreign Relations1946 – The War And Peace Studies)

Apa tujuan RF mendanai CFR?

Nggak lain untuk membicarakan tatanan dunia baru, pasca Perang Dunia (PD) II. Hebat juga, mengingat di tahun 1939, PD II juga belum berlangsung. Kok bisa-bisanya udah bicara tatanan dunia pasca perang?

Inilah yang kemudian melahirkan istilah The American Century, dimana AS ambil alih peran Inggris sebagai polisi dunia yang menyuarakan HAM dan Demokrasi. (https://archives.cjr.org/critical_eye/revisiting_henry_luces_america.php)

Untuk memuluskan rencananya, DR kemudian menginisiasi terbentuknya PBB, dengan memberikan sebidang tanah di kawasan Manhattan untuk dijadikan markasnya.

Dengan hadirnya PBB, kelak semua rencana Rockefeller dapat dengan mudah dieksekusi, karena adanya badan dunia yang menyokongnya.

Aliasnya, hibah yang diberikan oleh Rockefeller, tentu saja ada udang di balik rempeyek yang telah diberikan alias bukan murni atas nama kemanusiaan.

Sebaliknya, Rockefeller justru menentang kemanusiaan.

Kok bisa?

Anda pasti tahu pasukan Nazi, bukan?

Kenapa juga RF mendanai penelitian biologi pada Institut Kaiser Wilhem di Berlin, yang merupakan lembaga penelitian Nazi untuk mengembangkan ras superior sekaligus membunuh atau mensterilkan ras yang dianggap inferior? (https://historynewsnetwork.org/article/1796)

Bukankah eugenika adalah agenda yang dimiliki oleh klan Rockefeller sedari awal? (baca disini)

Selain mendanai Nazi, Rockefeller lewat perusahaan minyaknya Standard Oil juga telah memasok Angkatan Udara Nazi selama PD II berlangsung. Bukankah mendukung Nazi otomatis anti kemanusiaan? (https://www.gabyweber.com/dwnld/artikel/eichmann/ingles/secret_pact_standard_oil.pdf)

Nggak hanya itu, sebab RF juga yang mengatur agar ilmuwan Nazi yang telah terlibat dalam proyek eksperimen manusia, untuk bisa mendapatkan suaka di AS dan Kanada pasca PD II. (baca disini) Beberapa bahkan kemudian terlibat dalam proyek rahasia CIA yang terkenal, MK-Ultra. (https://silview.media/2020/06/21/above-bill-gates-the-rockefellers-from-operation-paperclip-to-china-and-who-part-1/)

Selanjutnya di tahun 1950an, Rockefeller juga mendirikan Dewan Kependudukan (Population Council), guna menjalankan agenda eugenika-nya, dengan cara mengendalikan angka kelahiran, utamanya di negara-negara misqueen.

Bahkan untuk mengeksekusi rencana ini, Rockefeller mendorong dibentuknya National Security Study Memorandum (NSSM)-200 yang diketuai oleh anak didik binaannya, Henry Kissinger pada dekade 1970an. (https://www.influencewatch.org/non-profit/rockefeller-foundation/)

Asal tahu saja, bahwa NSSM-200 menerbitkan laporan mereka yang dikasih judul Implications of Worldwide, yang kemudian dijadikan acuan bagi kebijakan LN AS saat itu. (https://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PCAAB500.pdf)

Apa inti laporan tersebut?

“Pertumbuhan penduduk yang tinggi di negara-negara berkembang yang memiliki bahan baku strategis seperti minyak dan mineral penting lainnya, merupakan ancaman tersendiri bagi keamanan nasional AS,” begitu kurleb-nya.

Ini bisa terjadi karena makin banyak penduduk, maka makin banyak sumber daya alam yang digunakan.

Lalu apa solusi atas laporan ini?

NSSM-200 kasih masukan ke pemerintah AS dengan membuat program pengurangan populasi, utamanya di negara-negara misqueen yang kaya SDA. Pada tataran teknis, bantuan AS nggak akan mengucur ke negara-negara tersebut, jika mereka nggak menjalankan agenda kontrol penduduk. (https://www.hli.org/resources/exposing-the-global-population-control/)

Jadi jika ada dari anda yang hidup di tahun 1970-1980an, dan akrab dengan program Keluarga Berencana yang dikumandangkan Soeharto di era Orde Baru (dengan slogan Dua Anak Cukup), itu sejatinya adalah kepanjangan agenda depopulasi yang dimiliki Rockefeller. (https://www.jstor.org/stable/1973219)

Jelas saja Soeharto mendukung program tersebut. Apa mau Soeharto digulingkan dari kursi singgahsananya, karena nggak menyukseskan program Rockefeller?

Tentu masih banyak jejak yang ditinggalkan DR yang perlu dibuka ke publik. Pada bagian kedua, kita akan mengulas lebih dalam lagi.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!