Sudah Ada Contohnya, Bukan?

In Sosial Budaya

Sudah Ada Contohnya, Bukan?

Oleh: Ndaru Anugerah

Apa yang anda lihat akhir-akhir ini di Perancis? Demonstrasi besar-besaran terjadi disana. (https://www.france24.com/en/europe/20210724-french-protesters-against-covid-19-health-restrictions-clash-with-police-in-paris)

Sebabnya apa?

Awalnya negara tersebut nggak memberlakukan aturan wajib vaksin Kopit bagi warganya. (baca disini)

Namun kini aturan tersebut dibalik sama Presiden Macron. “Individu yang tidak divaksin Kopit, nggak akan diijinkan untuk memasuki café, restoran, gedung teater, transportasi umum dan banyak fasilitas publik lainnya.”

Singkat cerita, ini memancing emosi warga Perancis.

Akibatnya, ribuan orang turun ke jalan. Mereka bukan saja berunjuk rasa, tapi sudah merusak fasilitas umum seperti pusat vaksinasi Kopit yang ada di negara tersebut. (https://www.nytimes.com/2021/07/19/world/france-covid-vaccine-pass-protests.html)

Di Aussie, beda lagi ceritanya. Separuh negara Kanguru tersebut, terpaksa memberlakukan lockdown, meskipun hasil test sebanyak 82 ribu hanya menemukan 111 kasus virus Kopit varian baru. Pokoknya wajib lockdown. (https://www.nytimes.com/2021/07/21/world/australia-covid-lockdown.html)

Memangnya, nggak ada cara lain buat menekan si Kopit kecuali lockdown?

Ada, tentunya. Dan contoh itu sangat nyata. Swedia adalah jawabannya.

Di sana, kebijakan ala militer nggak diterapkan dalam menekan kasus dan kematian akibat si Kopit. Mereka justru menekankan pada pendekatan yang berdamai dengan si Kopit.

Alhasil, semua-semua serba bebas adanya. Nggak ada aturan ribet semisal 3M yang kemudian bertambah menjadi 5M, atau aturan yang serba nggak masuk akal lainnya.

Sekedar flashback, bahwa pada awalnya antek-antek Ndoro besar mencibir saat Swedia menolak kebijakan lockdown diberlakukan di negaranya.

Dari tudingan bakal datangnya bencana pada negara tersebut. (https://www.theguardian.com/world/2020/mar/30/catastrophe-sweden-coronavirus-stoicism-lockdown-europe)

Hingga cemohan bahwa si Kopit bakal nggak terkendali karena sikap bebal yang diambil pemerintah Swedia yang menolak lockdown. (https://www.cbsnews.com/news/sweden-covid-coronavirus-deaths-make-sweden-example-of-how-not-to-deal-with-covid-19/)

Tapi berkat tangan dingin seorang epidemiolog handal Dr. Anders Tegnell, semua ramalan ngawur dari antek sang Ndoro besar tersebut, sama sekali nggak terbukti bagi mereka. (baca disini dan disini)

Saat negara-negara sekutu AS pontang-panting menghadapi ancaman si Kopit dengan menerapkan lockdown yang entah sudah jilid ke berapa, Swedia justru membuka pintu negaranya lebar-lebar bagi para wisatawan manca negara untuk bisa plesiran disana. (https://www.traveloffpath.com/sweden-officially-reopens-to-u-s-tourists/)

Itu di sektor pariwisata. Bagaimana dengan sektor lainnya?

Tentu saja paralel dengan kebijakan ‘ramah’ mereka terhadap si Kopit.

Bisnis dan sekolah, sama sekali nggak pernah ditutup alias buka seperti biasa, dan nyaris tanpa batasan konyol yang berarti.

Misalnya atauran pakai masker yang bukan saja nggak diwajibkan, tapi juga tidak direkomendasikan untuk dipakai warga disana. (https://www.businessinsider.com/covid-19-sweden-drops-face-mask-recommendation-never-mandated-them-2021-7)

Apakah banyak jatuh korban akibat si Kopit, di Swedia?

Justru sebaliknya. Angka kematian akibat si Kopit malah mencapai 0 orang pada beberapa hari terakhir. (https://www.worldometers.info/coronavirus/country/sweden/)

Bisa dikatakan, Swedia telah berhasil menaklukkan si Kopit, ketimbang negara-negara Barat lainnya. Tanpa pembatasan, tapi si Kopit bisa ‘dijinakkan’.

Tolak ukurnya jelas.

Pertama angka kematian akibat Kopit pada 2020 silam, lebih rendah daripada sebagian besar negara-negara Eropa lainnya, Dengan kata lain, pengendalian Kopitnya berjalan dengan baik. (https://fee.org/articles/sweden-saw-lower-mortality-rate-than-most-of-europe-in-2020-despite-no-lockdown/)

Kedua, ekonominya juga nggak ‘berdarah-darah’ layaknya negara yang memberlakukan lockdown. (https://fee.org/articles/bbc-sweden-s-economy-is-doing-way-better-than-the-rest-of-the-eu-during-the-covid-19-pandemic/)

Dan ketiga, karena Swedia nggak memberlakukan kebijakan ‘aneh-aneh’ pada warganya sehingga diperbolehkan melakukan akivitas normal seperti biasanya, minimal mereka secara psikologis lebih baik dan lebih sehat ketimbang banyak negara lainnya di Benua Biru.

Apakah contoh sederhana ini bisa kita saksikan pada media mainstream?

Sampai lebaran monyet akan sulit anda temukan. Kenapa?

Karena sukses Swedia, adalah mimpi buruk bagi sang Ndoro besar. Makanya informasi sepenting ini nggak akan anda bisa dapatkan di media mainstream, bukan?

Bahwa Swedia sudah kasih contoh yang gamblang tentang cara yang masuk akal dalam menangani si Kopit, dengan menerapkan kebijakan yang terukur.

Masa buat simpulan semudah ini, harus menjalani kebijakan blunder selama hampir 2 tahun? Itupun masih nggak jelas kapan kelarnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu